SUARA USU
Life Style

Tetap Bahagia dengan Hidup Biasa Aja

Oleh: Hafaz Sofyan

Di zaman serba kompetisi ini, pasti kalian sering ngerasa ada banyak tuntutan yang mengharuskan kalian untuk tetap survive, dengan segala kelebihan yang ada. Mulai dari tuntutan nilai rapor yang harus tinggi, sampai tuntutan lulus kuliah yang harus tepat waktu. Setiap harinya, kepala kita diisi dengan gambaran masa depan yang harus gemilang dan cemerlang. Punya banyak uang, mobil mewah, dan keturunan yang serba lebih.

Tapi tau gak sih, kalau ternyata sistem ini ngebuat kita jadi jauh dari makna bahagia yang sesungguhnya. Jadi sering kurang bersyukur, dan kadang nggak bisa nerima diri apa adanya. Hampir setiap detiknya, kita membandingkan titik capaian kita dengan hasil usahanya orang lain, sekalipun orang itu nggak kita kenal dekat.

Nah, dibalik sistem ini, kita sebenernya udah jauh dari makna kesederhanaan hidup. Kerap kali menuntut banyak hal untuk selalu datang dengan hasil yang terbaik.

Alain de Botton, seorang Filsuf Inggris kelahiran Swiss menyebutkan ada 3 masalah besar yang perlahan harus dihilangkan dari kebiasaan hidup manusia zaman sekarang.

  1. Kecongkakan

Sifat ini nggak pernah lepas dari segi materi. Sifat ingin mendapatkan pengakuan dan perhatian lebih dari banyak orang. Meskipun hanya beberapa angka, sedikit lebih tinggi. Tentang uang, kekayaan, keturunan, dan semua yang berhubungan di dalamnya.

Lumrahnya, manusia memang memiliki sifat ingin dikenal dengan status sosial yang lebih baik dan lebih tinggi dari yang lainnya. Dan sifat ini kerap kali menjadi kebutuhan mendalam, yang membuat kita haus harta, ingin selalu kaya, dan menjadi istimewa.

  1. Kurangnya Kasih Sayang

Nggak perlu mikir kejauhan. Dalam keluarga sendiri pun, kadang masi suka dibanding-bandingin. Ya imbasnya ke sifat sombong tadi. Sifat ingin dikagumi banyak orang, sering kali memaksa kita buat pamor dan pamer status, bahkan hampir di setiap kegiatan kita. Keluar rumah, update. Belanja baju, update lagi. Makan enak, update lagi. Gitu terus deh siklusnya, sampai akhirnya sifat itu melekat. Nggak sah kalau nggak pamor, begitu kira-kira.

Padahal, fenomena ini terjadi karena diri kita nggak nyaman dengan lingkungan. Keluarga nge-judge kita, dan kita malah langsung ngerasa kurang sekurang-kurangnya. Sampai akhirnya, kita memaksa orang buat mengakui kelebihan dan privilege yang kita punya. Ya meskipun sebenernya kita nggak sebahagia itu, bahkan jauh dari kata bahagia.

Satu lagi nih. Kalau sifat ini terus dipelihara, bisa ngebuat kita jadi suka mikir yang nggak-nggak, bahkan berkemungkinan menyebabkan depresi.

  1. Meritokrasi

Yang pintar karena giat belajar, yang kaya karena giat bekerja. Itulah kalimat yang cocok untuk menggambarkan meritokrasi. Sebuah sistem yang memaksa mindset kita untuk terus berusaha hebat. Meritokrasi menjunjung tinggi kerja keras dan keadilan. Meritokrasi jugalah yang menjadi pondasi sistem kapitalisme. Terdengar baik dan logis, bukan? Bekerjalah jika ingin sukses. Begitulah kira-kira.

Tapi, ada sisi lainnya yang harus diperhatikan lebih dalam. Kita memiliki banyak role model yang capaiannya ingin kita raih. Sebut saja duta meritokrasi. Nama-nama seperti Jeff  Bezos, Steve Jobs, Elon Musk, dan banyak lainnya, terlihat sangat sesuai dengan sistem yang satu ini. Mereka mencoba, mereka berhasil. Tapi, bisa dikatakan hanya 1% dari jumlah keseluruhan populasi manusia di dunia yang menjadi seperti mereka. Lalu, dimana dampaknya?

1% berhasil, dan 99% lainnya yang ingin menjadi seperti mereka terus berusaha. Relatif sangat kecil hampir tercapai, dan sebagian besar sisanya hanya larut dalam angan. Hingga banyak dari mereka yang gagal, menganggap mereka tidak pantas untuk bersaing dengan yang lainnya. Kejam, bukan? Meritokrasi membentuk kepribadian yang berusaha keras. Namun di satu sisi, memberikan keputus-asaan untuk yang lengah mencoba.

Nah, itu tadi tiga masalah besar yang sedang kita hadapi. Terus, apakah hidup biasa aja memberikan kunci kebahagiaan?

Senggakknya, di masa yang sudah serba ada ini, kebutuhan lebih mudah untuk dipenuhi. Cukup hidup apa adanya, dan tidak mengikuti gengsi, kita sudah lebih dari cukup untuk bisa tetap survive. Banyak peluang yang terbuka. Dan yang paling penting untuk diingat, kebahagiaan tidak melulu tentang harta.

Banyak privilege yang nggak bisa dibangun dengan harta dan kekayaan. Seperti relationship, teman, waktu luang, serta kebebasan dalam melakukan apapun. Ingat, di titik manapun kita berada, masalah pasti selalu ada. Tinggal bagaimana pribadi masing-masing dalam menghadapainya. Semuanya terfasilitasi, tinggal bagaimana pribadi masing-masing untuk memaksimalkannya.

Untuk kita yang apa adanya, tetap bersyukur. Hargailah diri kita, dan jangan lupa bahagia.

Redaktur: Yulia Putri Hadi


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Peluang dan Tantangan dalam Meningkatkan Kesadaran Nasionalisme Mahasiswa Melalui Pendidikan Kewarganegaraan

redaksi

5 Cara Supaya Uang THR Tidak Cepat Ludes

redaksi

Tingkatkan Pemahaman Materi Perkuliahan dengan Penerapan Blurting Method

redaksi