Home Entertaiment Fenomena Popcorn Brain di Balik Kebiasaan Scrolling Mahasiswa 
EntertaimentLife Style

Fenomena Popcorn Brain di Balik Kebiasaan Scrolling Mahasiswa 

Share

Oleh: Nur Padilah Ramadani

Suara USU, Medan. Kehidupan mahasiswa di era digital hampir tidak dapat dilepaskan dari gawai. Ponsel menjadi teman untuk mengakses materi kuliah, mengerjakan tugas, berkomunikasi, hingga mencari hiburan setelah seharian beraktivitas. Tidak jarang, hal pertama yang dilakukan setelah membuka mata pada pagi hari adalah meraih ponsel untuk memeriksa pesan, notifikasi, atau sekadar melihat unggahan terbaru di media sosial. Awalnya, kebiasaan tersebut mungkin terasa biasa saja, tetapi tanpa disadari, kita bisa semakin terbiasa dengan aliran informasi yang datang tanpa henti.

Bayangkan saja, baru membuka mata sudah ada notifikasi dari grup kelas, pesan pribadi, unggahan terbaru di Instagram, video pendek yang silih berganti, dan berita yang muncul di linimasa. Belum selesai memeriksa satu hal, perhatian sudah berpindah ke hal lain. Kebiasaan berpindah-pindah perhatian inilah yang kemudian sering dikaitkan dengan istilah popcorn brain. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika pikiran terbiasa menerima rangsangan digital yang cepat dan terus-menerus, sehingga aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama terasa semakin sulit dilakukan.

Istilah popcorn brain sendiri bukan diagnosis psikologis resmi. Istilah tersebut lebih banyak digunakan sebagai gambaran populer untuk menjelaskan kebiasaan otak yang terus mencari rangsangan baru, seperti biji jagung yang meletup satu demi satu ketika dipanaskan. Notifikasi, video pendek, permainan daring, dan media sosial dapat memberikan rangsangan yang datang dengan cepat dan silih berganti. Akibatnya, ketika harus berhadapan dengan aktivitas yang berjalan lebih lambat, seperti membaca buku, mengikuti perkuliahan, atau mengerjakan tugas dalam waktu lama, perhatian dapat terasa lebih mudah teralihkan. Bukan berarti otak benar-benar “meletup” seperti popcorn, melainkan perhatian kita yang terbiasa berpindah dengan cepat.

Fenomena tersebut memiliki kaitan dengan konsep cognitive overload atau beban kognitif berlebih. Kondisi ini terjadi ketika informasi atau tuntutan yang harus diproses melebihi kapasitas perhatian dan memori kerja yang tersedia. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat terasa ketika seseorang sedang mengerjakan tugas, tetapi tangannya terus ingin memeriksa ponsel, membuka media sosial, atau membalas pesan. Pekerjaan yang seharusnya selesai dalam waktu singkat pun dapat menjadi lebih lama karena perhatian terus terpecah.

Gambaran serupa juga dibahas oleh Nicholas Carr dalam bukunya, The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. Carr mengkritisi bagaimana kebiasaan menggunakan internet dapat mendorong seseorang untuk mengonsumsi informasi secara cepat dan berpindah dari satu informasi ke informasi lainnya. Ketika pola tersebut menjadi kebiasaan, aktivitas yang membutuhkan perhatian mendalam dapat terasa lebih menantang. Kita mungkin merasa sudah membaca banyak hal dalam sehari, tetapi belum tentu benar-benar memahami atau mengingat informasi tersebut secara mendalam. Pada titik ini, masalahnya bukan semata-mata banyaknya informasi, melainkan bagaimana kita memberikan perhatian terhadap informasi yang kita terima.

Bagi mahasiswa, kebiasaan tersebut tentu dapat menjadi masalah ketika terbawa ke aktivitas akademik. Baru lima menit membaca materi kuliah, tangan sudah ingin membuka ponsel. Ketika mengerjakan tugas, satu notifikasi dapat berubah menjadi sepuluh menit melihat video pendek, lalu berlanjut dengan membuka aplikasi lain. Akhirnya, waktu belajar bertambah panjang, tetapi pekerjaan belum tentu selesai lebih cepat karena sebagian perhatian sudah tersedot oleh berbagai gangguan.

Lantas, apakah kita harus menjauh sepenuhnya dari teknologi? Tentu saja tidak. Gawai dan internet tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan mahasiswa, mulai dari mencari referensi, mengikuti kelas, berkomunikasi dengan dosen dan teman, hingga mendapatkan hiburan. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita mengatur penggunaannya agar teknologi menjadi alat yang membantu, bukan justru mengambil alih perhatian. Kuncinya bukan menghilangkan teknologi, melainkan belajar menentukan kapan harus terhubung dan kapan perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dari berbagai rangsangan digital.

Salah satu langkah yang dapat dicoba adalah mengurangi paparan terhadap notifikasi yang tidak penting. Notifikasi media sosial, permainan, atau aplikasi lain yang tidak berkaitan dengan kegiatan utama dapat dinonaktifkan agar perhatian tidak terus-menerus ditarik oleh layar. Saat belajar atau mengerjakan tugas, ponsel juga dapat diletakkan lebih jauh dari jangkauan atau diatur dalam mode senyap. Langkah sederhana tersebut dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih kondusif untuk mempertahankan fokus.

Selain mengurangi gangguan, kita juga perlu membiasakan diri melakukan aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama. Membaca buku, menulis jurnal, menggambar, berjalan-jalan tanpa ponsel, atau sekadar menikmati waktu tanpa membuka media sosial dapat menjadi pilihan. Untuk mengerjakan tugas, teknik seperti Pomodoro juga dapat dicoba dengan membagi waktu belajar ke dalam sesi fokus dan istirahat. Dengan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk fokus pada satu aktivitas dalam satu waktu, kita dapat mengurangi kebiasaan berpindah perhatian secara terus-menerus.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah tidur yang cukup. Kekurangan jam tidur dapat mengganggu perhatian, konsentrasi, dan fungsi kognitif sehingga membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih berat. Oleh karena iitu, mengatasi kebiasaan penggunaan gawai secara berlebihan tidak cukup hanya dengan mengurangi waktu screen time. Menjaga pola tidur, memberi jeda dari layar, dan menyediakan waktu untuk beraktivitas tanpa gawai juga merupakan bagian dari kebiasaan digital yang lebih sehat.

Pada akhirnya, popcorn brain bukanlah sesuatu yang perlu membuat mahasiswa panik. Istilah tersebut justru dapat menjadi pengingat bahwa perhatian kita memiliki batas dan perlu dijaga. Teknologi memang membuat hidup menjadi lebih cepat dan praktis, tetapi tidak semua hal harus dilakukan dengan kecepatan yang sama. Sesekali, tidak membuka ponsel selama beberapa waktu bukan berarti kita ketinggalan zaman, melainkan memberi kesempatan kepada pikiran untuk benar-benar hadir pada apa yang sedang kita lakukan. Jadi, sebelum menyalahkan diri sendiri karena sulit berkonsentrasi, mungkin ada baiknya kita bertanya, jangan-jangan selama ini perhatian kita memang terlalu sering “meletup” dari satu layar ke layar lainnya?

Redaktur: Alya Nayla Sahirah S. 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.