
Oleh: Muhammad Ar Rofi NST
Suara USU, Medan. Lagu The Fate of Ophelia karya Taylor Swift merupakan simbol kebangkitan dan kekuatan bagi perempuan modern. Melalui penggalan lirik “The eldest daughter of a nobleman,” Taylor menggambarkan perjuangan perempuan yang tangguh menghadapi beban, tanggung jawab, dan tekanan emosional terutama bagi anak pertama yang sering memikul citra keluarga. Lagu ini menyuarakan nasib seseorang seperti takdir Ophelia yang rentan, lelah, dan putus asa, namun Taylor menentang pandangan tersebut dengan menunjukkan semangat untuk tetap kuat, tidak menyerah, dan percaya bahwa takdir baik pasti akan datang.
Keunikan The Fate of Ophelia membuatnya menjadi lagu pembuka dalam album terbaru Taylor Swift bertajuk The Life Show of a Girl yang dirilis pada 3 Oktober 2025. Album berisi 12 lagu ini disambut antusias oleh para penggemar, terutama Swifties. Taylor dikenal karena gaya musik storytelling, penggunaan metafora yang indah, serta pilihan bahasa Inggris yang puitis. Dalam lagu ini, ia mengangkat simbol lintas abad dari kisah Hamlet karya William Shakespeare yang terbit antara tahun 1599 – 1603.
Dalam drama Hamlet, Ophelia digambarkan sebagai sosok perempuan yang terjebak dalam tekanan emosional dan politik, menjadi korban patriarki serta manipulasi cinta. Dalam The Tragicall Hiftorie of Hamlet Prince of Denmark, Ophelia adalah anak perempuan satu-satunya dari Polonius, seorang bangsawan istana. Polonius kerap memperlakukan putrinya seperti orang rendahan, mengendalikannya demi kepentingan politik, dan mengintervensi hubungannya dengan Hamlet.
Taylor menyinggung dinamika ini melalui lirik “As legend has it you are quite the pyro, You light the match to watch it blow,” yang menggambarkan pengaruh destruktif dan pemicu konflik besar. Bagian tersebut menyoroti sifat patriarkal Polonius yang dapat memantik kehancuran, sebagaimana metafora “pyro” dan “match” menggambarkan api dan pemicunya. Lirik berikutnya, “And if you’d never come for me, I might’ve drowned in the melancholy,” menjadi simbol perlawanan terhadap interpretasi tragis nasib Ophelia.
Dalam kisah Shakespeare, Hamlet membunuh ayah Ophelia, Polonius, yang menyebabkan tekanan mental berat bagi Ophelia. Dikisahkan, ia memetik bunga di tepi sungai, lalu terjatuh karena dahan yang patah. Meskipun masih bisa menyelamatkan diri, ia membiarkan dirinya tenggelam. Tindakan tersebut dianggap sebagai bunuh diri.
Taylor membalikkan narasi itu lewat penggunaan kata “you’d,” yang menandakan kehadiran seseorang atau harapan baik yang menolongnya agar tidak bernasib seperti Ophelia. Makna tersebut dikuatkan dengan lirik “I swore my loyalty to me, myself and I, Right before you lit my sky up,” yang menunjukkan loyalitas pada diri sendiri berbeda dari Ophelia yang tunduk pada patriarki. Lirik ini menjadi dorongan bagi perempuan untuk mandiri dan menolak sistem yang menindas, menandai munculnya revolusi harapan baru.
Lirik “All that time I sat alone in my tower, you were just honing your powers, now I can see it all,” menggambarkan perasaan terkurung dalam penjara sosial oleh ayah dan Hamlet, namun juga mengandung harapan akan perbaikan sistem dari sudut pandang Taylor. Sementara itu, “Late one night, you dug me out of my grave and saved my heart from the fate of Ophelia,” menggunakan kata “grave” sebagai simbol identitas yang telah mati. Frasa “dug me out” melambangkan perjuangan seseorang yang menyelamatkan jiwa lain dari nasib serupa Ophelia.
Pada bagian lain, lirik “Keep it one hundred on the land, the sea, the sky pledge allegiance to your hands, your team, your vibes,” ditafsirkan sebagian Swifties sebagai bentuk dedikasi kepada seseorang yang menyelamatkan Taylor dari nasib tragis yakni Travis Kelce. Namun, lirik ini juga mencerminkan kesetiaan tulus terhadap pasangan yang mendampingi hidup seseorang. Adapun “Love was a cold bed full of scorpions” merupakan metafora cinta sebagai perangkap menyakitkan dan beracun, menyinggung perilaku Hamlet yang menyebabkan kehancuran Ophelia.
Secara lebih luas, lagu ini menautkan literatur klasik The Tragicall Hiftorie of Hamlet Prince of Denmark dengan pesan moral yang tetap relevan di zaman modern. Melalui The Fate of Ophelia, Taylor Swift tidak hanya menafsir ulang karya Shakespeare, tetapi juga menghadirkan simbol kebangkitan, kekuatan, dan perlawanan perempuan terhadap sistem yang mengekang mereka.
Redaktur: Jesika Yusnita Laoly
Leave a comment