Home Tulisan Transportasi Online dan Perubahan Mobilitas Mahasiswa di Kota Medan
Tulisan

Transportasi Online dan Perubahan Mobilitas Mahasiswa di Kota Medan

Share

Oleh: Fenny Awwaliyah F., Ria Ulina L., Ayla Salshabila, Tsabita Athamaiza S., Ananda Putri M., Ayu Puspita, Andri Fahruzi N., Muhammad Faisal R.

Suara USU, Medan. Menurut Wahyu Setyawati (2017), transportasi online adalah salah satu contoh pengembangan teknologi berbasis aplikasi yang disambut cukup baik di awal kemunculannya, karena dianggap sebagai salah satu inovasi terbaik saat ini. Transportasi online muncul di tengah kondisi sistem transportasi di Indonesia yang belum tertata dengan baik. Beberapa perusahaan besar mulai berlomba untuk membentuk perusahaan transportasi berbasis aplikasi online.

Transportasi online muncul sebagai inovasi dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya internet dan smartphone. Sebelum adanya sistem online, layanan transportasi konvensional seperti ojek pangkalan, taksi, atau angkutan umum menjadi pilihan utama masyarakat. Namun, layanan konvensional memiliki beberapa keterbatasan seperti, sulit mendapatkan kendaraan saat dibutuhkan, tidak ada kepastian tarif, hingga kurangnya kenyamanan dan keamanan.

Untuk mengatasi hal ini, aplikasi transportasi berbasis online mulai dikembangkan, yang memungkinkan pengguna memesan kendaraan melalui aplikasi di ponsel dengan sistem pemantauan lokasi (GPS) dan pembayaran digital. Kini, transportasi online telah menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat modern.

Perkembangan dari transportasi online dapat dilihat dari kehadiran berbagai inovasi seperti: Integrasi dengan layanan keuangan digital seperti GoPay, OVO, dan Dana; Ekspansi ke sektor lain seperti pengantaran makanan (GoFood, GrabFood), belanja (GoMart, GrabMart), dan logistik (GoSend, GrabExpress); Adanya regulasi pemerintah untuk melindungi pengemudi dan penumpang, seperti izin operasi, standar tarif, dan asuransi; dan Munculnya teknologi baru seperti kendaraan listrik dan sistem kecerdasan buatan (AI) untuk optimasi rute.

Transportasi online tidak sekadar hadir sebagai pengaruh dari globalisasi dan digitalisasi, melainkan juga terbentuk dengan fungsi yang berdampak pada segala aspek. Secara ekonomi, transportasi online mendukung distribusi barang dan jasa, memperluas pasar, serta menekan biaya produksi. Dalam aspek sosial pula, transportasi online mempermudah interaksi sosial antar wilayah dan memperkuat persatuan. Pada bidang politik, transportasi online dapat memperkuat kontrol wilayah dan keamanan nasional. Selain itu, dalam hal kebudayaan, transportasi online dapat mempercepat penyebaran nilai, pengetahuan, dan budaya. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa transportasi online memberi kemudahan bagi mobilitas manusia dalam berbagai aspek dan antar wilayah yang terpaut jauh. 

Mobilitas sendiri berasal dari kata mobile yang berarti bergerak. Secara umum, mobilitas mengacu pada pergerakan atau perpindahan manusia, barang, atau informasi dari satu tempat ke tempat lain, baik secara fisik maupun sosial. Menurut Ardlin (2013), mobilitas ialah gerak sosial atau social mobility, yang merupakan suatu gerak dalam struktur sosial (social structure) yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya.

Dalam konteks sosial, mobilitas menggambarkan perubahan posisi seseorang atau kelompok dalam struktur sosial. Sedangkan dalam konteks geografis, mobilitas merujuk pada perpindahan penduduk atau aktivitas manusia di ruang dan waktu tertentu. Program mobilitas mahasiswa telah menjadi salah satu inisiatif strategis dalam pendidikan tinggi untuk menghadapi tantangan globalisasi. Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar di institusi luar negeri, yang memungkinkan mereka untuk memperoleh pengalaman lintas budaya yang dapat memperkaya wawasan akademik dan profesional. Program mobilitas mahasiswa tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kompetensi individu, tetapi juga mempersiapkan generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat global.

Tantangan utama yang dihadapi mahasiswa dalam program mobilitas adalah perbedaan budaya yang signifikan antara negara asal dan negara tujuan. Berdasarkan wawancara mendalam, banyak responden mengungkapkan kesulitan dalam memahami norma sosial, kebiasaan, dan ekspektasi masyarakat lokal, yang seringkali memicu rasa canggung atau isolasi sosial. Data survei mendukung temuan ini, dengan 68% responden melaporkan bahwa perbedaan budaya menjadi hambatan utama dalam proses adaptasi mereka. Tantangan ini, menuntut mahasiswa untuk mengembangkan strategi adaptasi yang lebih fleksibel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program mobilitas mahasiswa memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan keterampilan global, adaptasi budaya, dan jejaring internasional. Mahasiswa yang mengikuti program ini mengalami peningkatan kemampuan komunikasi antarbudaya, berpikir kritis, dan kolaborasi lintas budaya, yang relevan dengan kebutuhan era global.

Transportasi dan mobilitas merupakan dua konsep yang saling berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia modern. Transportasi adalah sarana atau sistem yang digunakan untuk memindahkan manusia maupun barang dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan mobilitas adalah tingkat kemampuan atau intensitas pergerakan manusia, barang, atau informasi di dalam suatu wilayah atau antar wilayah. Transportasi berperan sebagai alat utama yang memungkinkan terjadinya mobilitas. Tanpa sistem transportasi yang memadai, mobilitas manusia akan terbatas, sehingga kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya juga akan terhambat. Dengan adanya sarana transportasi yang baik — seperti jalan raya, kendaraan umum, kereta api, kapal, maupun pesawat — masyarakat dapat berpindah tempat dengan cepat, mudah, dan efisien. Mobilitas yang tinggi mencerminkan dinamika kehidupan masyarakat modern, di mana pergerakan antar wilayah menjadi semakin intens akibat kebutuhan pekerjaan, pendidikan, dan aktivitas sosial. Dalam konteks ini, transportasi menjadi pendukung utama pembangunan wilayah dan pemerataan ekonomi, karena mampu menghubungkan daerah terpencil dengan pusat kegiatan ekonomi.

Selain itu, perkembangan transportasi online juga mempercepat dan mempermudah mobilitas masyarakat. Melalui aplikasi digital, pengguna dapat memesan layanan transportasi dengan mudah, tarif yang transparan, serta keamanan yang lebih terjamin. Hal ini menunjukkan, bahwa kemajuan teknologi transportasi berperan besar dalam transformasi pola mobilitas manusia di era digital. Namun, meningkatnya mobilitas juga menimbulkan tantangan, seperti kemacetan, polusi udara, dan ketimpangan infrastruktur antar wilayah. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem transportasi yang berkelanjutan, efisien, dan ramah lingkungan agar mobilitas tetap dapat berlangsung tanpa merusak kualitas hidup dan lingkungan.

Secara keseluruhan, transportasi adalah sarana, sedangkan mobilitas adalah hasil dari penggunaan sarana tersebut. Keduanya saling melengkapi, di mana transportasi menciptakan peluang mobilitas, dan mobilitas mendorong pengembangan sistem transportasi yang lebih baik. Hubungan yang harmonis antara keduanya akan menghasilkan masyarakat yang produktif, wilayah yang terhubung, serta pembangunan yang berkelanjutan.

Berdasarkan kuesioner terhadap 39 mahasiswa pengguna transportasi online di Kota Medan, diperoleh gambaran mengenai profil, preferensi, serta kepuasan mereka terhadap layanan tersebut. Mayoritas responden berusia 18 tahun (48,7%), diikuti usia 17 tahun (25,7%), 19 tahun (23%), dan 23 tahun (2,6%). Data ini menunjukkan, bahwa pengguna transportasi online didominasi oleh mahasiswa atau anak muda yang adaptif terhadap teknologi dan memiliki kebutuhan mobilitas tinggi.

Aplikasi yang paling banyak digunakan adalah Gojek (59%), disusul Grab (33,3%), sementara Maxim dan InDriver hanya digunakan sebagian kecil responden. Frekuensi penggunaan menunjukkan 43,6% mahasiswa memakai transportasi online 1–2 kali seminggu, 30,8% sebanyak 3–5 kali, dan 20,5% lebih dari 5 kali. Alasan utama penggunaan adalah tidak memiliki kendaraan pribadi (43,6%), disamping dari efisiensi waktu, kenyamanan, dan fleksibilitas layanan. Tingkat kepuasan pengguna cukup tinggi dengan rata-rata nilai 4,44 dari 5, di mana faktor harga (38,5%) dan waktu tunggu (28,2%) menjadi penentu utama. Dari aspek keselamatan, 76,9% responden menyatakan selalu disediakan helm, dan 69,2% tidak pernah mengalami pengalaman buruk.

Hasil wawancara dengan dosen menunjukkan, bahwa meskipun transportasi online meningkatkan efisiensi mobilitas mahasiswa, penggunaannya juga berpotensi mendorong perilaku konsumtif akibat promo dan tarif yang lebih tinggi dibandingkan transportasi konvensional.

Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dengan Dosen Pengampu Onan Marakali Siregar S.Sos., M.Si.

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.