SUARA USU
Opini

Anak Tiri Itu Bernama HMJ!

Illustrator: Yulia Putri Hadi

 Oleh : M. Wirayudha Azhari, Muhammad Fadhilah, Virgi Oktavia Stefani Simamora

 

SUARA USU, Medan. Himpunan Mahasiswa Jurusan atau yang lebih sering dikenal dengan HMJ adalah organisasi mahasiswa tingkat jurusan di suatu perguruan tinggi yang merupakan kegiatan ekstrakurikuler. Keberadaan HMJ haruslah berlandaskan prinsip “Dari, Oleh, dan Untuk Mahasiswa”. HMJ berada di tingkat jurusan atau program studi dan berada dibawah koordinasi Pemerintahan Mahasiswa (PEMA) Fakultas, sehingga seluruh kegiatannya harus berafiliasi ke program PEMA Fakultas.

Di Universitas Sumatera Utara (USU) sendiri, dapat dikatakan sudah semua jurusan ataupun program studi memiliki HMJ. Keberadaan HMJ di USU merupakan tombak utama mahasiswa dalam menyampaikan aspirasinya ke pihak jurusan maupun pihak fakultas. HMJ juga merupakan sosok paling dekat dengan mahasiswa karena langsung berada tepat di antara mahasiswa-mahasiswa itu sendiri. Mengharapkan kehadiran PEMA bukanlah satu-satunya jalan yang tepat, karena di beberapa fakultas di USU sendiri pun kehadiran PEMA Fakultas adalah hal ghaib. Banyak fakultas di USU yang masih saja tidak memiliki ataupun kekosongan kursi di tingkat PEMA Fakultas.

Berkaca dari beratnya perjuangan HMJ tersebut, ternyata banyak sekali lika-liku dan ketidakadilan yang mereka rasakan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang merasa sebagai organisasi “Anak Tiri”.

Menurut H, Mantan Sekretaris Bidang Hubungan Instansi Keluar dan merupakan Alumni Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia, istilah anak tiri melekat dan hadir di HMJ tak lepas karena kurangnya eksistensi dan prodi yang belum mampu memfasilitasi untuk relasi dengan pihak dekanat.

“Kenapa bisa ada istilah di anak tirikan itu sebenarnya dari kitanya aja kurang nampang ke fakultas, kurang kuat kita ke fakultas atau PEMA-nya, kalau mau ke fakultas itu intinya dosen kan, sedangkan dari jurusan kami itu prodi nya kurang mau lah bantu jembatani HMJ ke dekanat,” paparnya.

Selain hal-hal tersebut, kurangnya apresiasi pun menjadi salah satu hal yang membuat HMJ ini merasa di anak tirikan. Ia menuturkan, ia merasa kurang adanya apresiasi pada prestasi mahasiswa Tekkim, salah satu contohnya adalah dua mahasiswa yang memenangkan perunggu di PIMNAS 34.

Dana juga menjadi salah satu hal fundamental dari beragam masalah yang dihadapi oleh HMJ Se-kawasan USU. Bayu Listianiy selaku Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) juga mengungkap hal yang sama. Menurutnya, HMTL juga sering mengalami kesulitan kurangnya support dana terhadap kegiatan yang mereka lakukan.

Ketua IMSI Sastra Inggris Arifson mengatakan, pandemi yang menjadikan hampir semua kegiatan mereka berlangsung online. Hal itu menjadikan mahasiswa kurang berperan aktif, baik dari segi support acara maupun support bantuan dana.

Menurut Arifson, jika kegiataan kampus dapat berjalan dengan offline nantinya tak akan sulit. Tetapi jika pengalokasian dana yang berasal dari  fakultas itu biasanya diharuskan memenuhi syarat dahulu seperti pembuatan proposal yang diajukan kepada dekanat.

Hal-hal seperti ini, seharusnya menjadi tanggung jawab bersama mahasiswa maupun pihak fakultas. Koordinasi yang baik diantara hierarki HMJ, PEMA Fakultas, dan juga pihak dekanat tentunya menjadi harapan dari semua mahasiswa. Karena jika koordinasinya sudah berjalan dengan baik, maka hal-hal yang menjadi penghambat HMJ seperti ini seharusnya sudah tidak ada lagi. Titip harap dari setiap HMJ sudah sepatutnya wajib didengar oleh semua pihak, karena untuk menciptakan lingkup organisasi yang baik, disiplin, juga bertanggung jawab, dibutuhkan peran dari semua pihak hingga lingkup terkecil seperti HMJ ini.

 

Redaktur: Yulia Putri Hadi

 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Tarik Ulur Harga Tiket Borobudur

redaksi

Dosen Kerap Mengubah Jadwal Kuliah Dadakan, Bagaimana Dampaknya bagi Mahasiswa?

redaksi

Intip Risiko Dibalik Gaji Angggota KPPS Yang Menggiurkan

redaksi