Home Puisi Balada Negeri yang Dilahirkan Rahimnya Sendiri
PuisiSastra

Balada Negeri yang Dilahirkan Rahimnya Sendiri

Share
Sumber: shutterstock.com

Oleh: Alya Nayla Sahirah

Kuseduh resahku dari bara rakyat yang kian temaram, 

kugesek puntung korek harapan yang tadinya kusulut diam-diam

Sudah kuteguk paksa biar berkobar, malah menggigil aku di sudut kayu yang kelam

Tiap pasal lahir tergesa, kutata ulang tungku keadilan walau berkali-kali diredam

 

Para pemikir itu pun meruapkan amarah, dibalutnya api-api berontak yang tidak bersedia padam, 

takut-takut jati dirinya diseret ke ruang yang muram, 

Ah, nanti wajah senja ikut merintih, pikirnya

Khawatir dicium pucat oleh hukum yang dingin sekali tampangnya

Benar saja, ternyata camar-camar turut dibungkam, 

sayapnya berat oleh warta yang tak lagi bening rupanya… 

 

Aduh! 

Susah payah kucari ruang napas di balik celah dikerubungi sampah, 

jiwa rekan-rekanku digulung pula, dicap salah, dipaksa kalah

Nuraniku jernih, kan, kenapa pula digembok wajah kuasa yang gelisah? 

 

Ya sudah…

Kutadahlah sisa nyala tadi di ujung jemari,

biar disaksikan negeri ini tergagap menahan balada yang ia lahirkan dari rahimnya sendiri

Dan bila langkah kita kerap digurat salah, biarlah

Lagi pula semua sudah cukup diarsipkan sejarah

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Related Articles

Nisan Bagi Pepohonan

Resah