
Oleh: Alya Nayla Sahirah
Kuseduh resahku dari bara rakyat yang kian temaram,
kugesek puntung korek harapan yang tadinya kusulut diam-diam
Sudah kuteguk paksa biar berkobar, malah menggigil aku di sudut kayu yang kelam
Tiap pasal lahir tergesa, kutata ulang tungku keadilan walau berkali-kali diredam
Para pemikir itu pun meruapkan amarah, dibalutnya api-api berontak yang tidak bersedia padam,
takut-takut jati dirinya diseret ke ruang yang muram,
Ah, nanti wajah senja ikut merintih, pikirnya
Khawatir dicium pucat oleh hukum yang dingin sekali tampangnya
Benar saja, ternyata camar-camar turut dibungkam,
sayapnya berat oleh warta yang tak lagi bening rupanya…
Aduh!
Susah payah kucari ruang napas di balik celah dikerubungi sampah,
jiwa rekan-rekanku digulung pula, dicap salah, dipaksa kalah
Nuraniku jernih, kan, kenapa pula digembok wajah kuasa yang gelisah?
Ya sudah…
Kutadahlah sisa nyala tadi di ujung jemari,
biar disaksikan negeri ini tergagap menahan balada yang ia lahirkan dari rahimnya sendiri
Dan bila langkah kita kerap digurat salah, biarlah
Lagi pula semua sudah cukup diarsipkan sejarah
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment