SUARA USU
editorial Entertaiment

Banjir Kritik, eFootball 2022: Ketika Harapan di Balas dengan Kekecewaan

Oleh: Arnoldus Prima Naibaho

Suara USU, MEDAN. Bulan Oktober menjadi bulan yang dinantikan para gamers yang gemar bermain game yang mengusung olahraga sepak bola. Setelah FIFA 22 yang dirilis akhir September lalu, kini game e-Football 2022 besutan Konami telah dirilis resmi pada 1 Oktober 2021 kemarin di PC dan konsol.

eFootball 2022 sendiri merupakan game rebrand dari judul Pro Evolution Soccer atau yang dikenal dengan PES. Berawal dari sebuah harapan para fans dimana awalnya Konami mengumumkan kalau game sepakbola terbarunya bakal menggunakan Unreal Engine dibanding Fox Engine seperti tahun-tahun sebelumnya, siapa sangka game tersebut malah menjadi game yang jauh dari ekspetasi para penggemar.

Sejarah

Perkembangan PES dimulai pada 1994, namun saat itu masih bernama ISS (International Superstar Soccer). Sejak pertama peluncurannya Game ini langsung menjadi perhatian publik dan mendapatkan julukan sebagai Game terbaik di masanya .

Setahun kemudian ISS Deluxe dirilis di SNES, bernama Fighting Eleven di Jepang. Kemudian pada tahun 1996 versi Megadrive dari ISS Deluxe dirilis. Ini adalah game ISS pertama yang memungkinkan 8 pemain untuk bermain secara bersamaan.

Berikutnya datang era Playstation, World Soccer Winning Eleven dirilis pada tahun 1996 dan dikenal sebagai Goal Storm di Dunia Barat. Tak lama setelah ISS Deluxe dirubah dari versi 16 bit menjadi generasi 32 bit. Pada tahun 1997 Konami kembali meluncurkan Game terbarunya yaitu International Superstar Soccer 64 atau yang lebih dikenal Jikkyou World Soccer di Jepang.

Berlanjut di awal 2000-an, Konami meluncurkan 2 sekuel ISS pada PS2 yang dikenal sebagai Pro Evolution Soccer (PES) dan Winning Eleven (WE) 5. Di tahun 2003-2006 PES meluncurkan karyanya secara berturut turut yaitu Pro Evolution Soccer 3, Pro Evolution Soccer 4, Pro Evolution Soccer 5 dan Pro Evolution Soccer 6. Dalam versi terbaru ini PES mulai dapat dimainkan di PC.

Pada musim gugur tahun 2009, regenerasi kembali terjadi dengan meluncurnya Pro Evolution Soccer 2010 atau PES 10. Pada tahun 2012 KONAMI merilis lanjutan dari PES 2012 yaitu PES 2013. Game ini dirilis pada tanggal 20 September 2012. Game ini berjalan pada platform Microsoft Windows, Xbox 360, Playstation 3, Playstation 2, Playstation Portable, Wii, Nintendo 3DS.

Pada 19 September 2013 KONAMI meluncurkan karya terbarunya yaitu PES 2014. Game ini dirilis untuk PlayStation 3, PlayStation 2, Microsoft Windows, PlayStation Portable, Nintendo 3DS dan Xbox 360. Dan versi selanjutnya dari Pro Evolution Soccer adalah PES 2016. Game ini dirilis pada tanggal 15 September 2015. PES 2016 dapat dimainkan di PlayStation 4, PlayStation 3, Xbox One, Xbox 360, Microsoft Windows.

Review

Game yang baru rilis pada 30 September kemarin ini nampaknya jauh lebih buruk ketimbak game-game edisi sebelumnya. Adapun yang harus dibenahi oleh Konami sendiri ialah sebagai berikut.

  1. Game play yang sangat buruk

Inti dari sebuah game olahraga adalah gameplay sebagai basis utamanya. Jika game tersebut adalah game sepakbola, maka seharusnya pertarungan antar 11 vs 11 pemain dilapangan tersebut harus menjadi prioritas utama. Namun sayangnya, Konami sepertinya gagal untuk memberikan kualitas gameplay terbaik pada eFootball 2022, bahkan terkesan hancur.

Gerakan pemain benar-benar terasa kaku dan berat layaknya robot sehingga cukup kesulitan menggerakan pemain secara leluasa, serasa seperti ada hal yang menghalangi setiap gerakan. Contohnya misalnya ketika pemain melakukan sprint atau lari kencang, maka akan sangat sulit untuk membelokannya dan ada jeda yang terlalu panjang untuk kembali menggerakannya.

Selain itu,responsivitas ketika ingin menggerakan pemain mungkin menjadi salah satu hal yang paling krusial. Fluidity yang ditawarkan  sepertinya membuat game ini terasa sangat kaku. Ketika ingin melakukan switching antar pemain, pemain bergerak begitu lambat untuk merespon apa yang ingin saya gerakkan terlebih ketika hendak melakukan umpan terobosan atau silang terkesan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

  1. Grafis dan performa yang buruk

Gameplay yang kami nilai buruk juga diperparah dengan kualitas grafis yang tidak begitu bagus,baik dari kualitas animasi, lightning, tekstur, semua yang berbau grafis terlihat sangat biasa saja untuk ukuran sebuah game raksasa yang dirilis di tahun 2021. Minimnya efek partikel rumput, hingga efek pencahayaannya juga terlihat biasa saja. Yang selanjutnya diperparah oleh tampilan wajah pemain yang terlihat seperti boneka dan jauh dari kehidupan nyata.

Selain dari segi grafis, performa yang dimilikinya juga tidak begitu baik, terutama pada versi PC. Pada versi PC framerate dibatasa pada 60 FPS dan untuk berbagai replay serta cutscene dibatasi pada 30 FPS

  1. Minim Fitur

Kualitas gameplay yang biasa saja, hingga kualitas grafis yang tidak bagus, sepertinya tidak cukup bagi Konami untuk mengecewakan para gamer. eFootball 2022 juga memiliki fitur yang amat sangat minim untuk dinikmati para gamer. Fitur yang dapat dimainkan hanya Laga Autentik. Melalui mode tersebut  kita bisa mengikuti berbagai event dan bertanding online dengan pemain di seluruh dunia. Sayangnya, pemain belum bisa “mabar” dengan temannya karena belum ada fitur seperti membuat room atau invite. Selain itu, ada juga pertandingan Eksibisi seperti biasa untuk main melawan AI atau mabar secara offline dengan temanmu.

Demikian ulasan mengenai eFootbal 2022. Bagaimana tanggapan kalian? Apakah mau beralih ke FIFA atau setia sambil menunggu update-an terbaru dan tentunya lebih baik dari Konami? Salam hangat dari saya penggemar PES sejak 2009

Redaktur: Muhammad Fadhlan Amri


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

 Mantappu Jiwa: Kisah Semangat Jerome Polin dari Matematika ke YouTube

redaksi

“Dream” oleh Taeyeon Tentang Cerminan Kerinduan Anak Rantau Terhadap Kampung Halaman

redaksi

Clubhouse VS Discord

redaksi