Home Opini Banyak Anak Banyak Rezeki, Antara Harapan dan Tanggung Jawab
Opini

Banyak Anak Banyak Rezeki, Antara Harapan dan Tanggung Jawab

Share
Ilustrator: Priyanka Az Zahra

Oleh: Debora Gracia Nauli Siregar

Suara USU, Medan. Pepatah lama “banyak anak banyak rezeki” tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pepatah ini masih menjadi keyakinan yang dipegang teguh oleh sebagian masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah pedesaan atau lingkungan yang minim edukasi tentang perencanaan keluarga. Keyakinan ini berangkat dari pandangan religius bahwa anak adalah karunia Tuhan yang membawa rezekinya masing-masing. Namun, ketika keyakinan tersebut tidak sejalan dengan kesiapan ekonomi, emosional, dan tanggung jawab sebagai orang tua, yang muncul bukanlah berkah, melainkan beban berlapis, terutama bagi sang anak.

Baru-baru ini, perhatian publik tertuju pada sebuah keluarga di Jawa Barat yang memiliki sebelas orang anak. Sang ayah tidak memiliki pekerjaan tetap, sementara sang istri tengah mengandung anak ke-12. Saat didatangi Gubernur Dedi Mulyadi dan disarankan mengikuti program Keluarga Berencana, mereka menolak dengan alasan bahwa “anak adalah rezeki.” Nyatanya, anak-anak dalam keluarga tersebut harus membantu mencari nafkah, seperti berjualan kue, demi bertahan hidup. Ini bukanlah satu-satunya kasus. Banyak anak Indonesia bernasib serupa, terjebak dalam lingkaran kemiskinan struktural akibat keputusan yang tidak mempertimbangkan kesiapan dalam mengasuh anak.

Kasus ini hanyalah satu dari sekian banyak contoh nyata yang menunjukkan bagaimana keyakinan “banyak anak banyak rezeki” kerap kali membawa dampak negatif jika tidak diiringi dengan tanggung jawab yang memadai. Berdasarkan data Koalisi Kawal Pendidikan Indonesia, pada 2024 tercatat sekitar 4,6 juta anak di Indonesia putus sekolah, dan penyebab utamanya adalah faktor ekonomi (Bloomberg Technoz). Anak-anak ini, yang seharusnya memiliki kesempatan belajar dan bermain, justru harus turun ke jalan untuk bekerja atau membantu orang tua di rumah. Ironisnya, banyak dari mereka lahir dari keluarga besar yang secara finansial tidak siap, namun tetap bersikukuh menolak perencanaan keluarga dengan dalih religiusitas atau budaya.

Di sisi lain, kondisi ekonomi Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan besar. Berdasarkan data inflasi terbaru dari Badan Pusat Statistik Indonesia, pada April 2025 tercatat angka 1,95% (year on year), menandai kenaikan harga kebutuhan pokok yang kian memberatkan masyarakat kelas bawah. Harga beras, minyak goreng, dan bahan pangan lainnya terus merangkak naik, sementara lapangan kerja semakin terbatas. Banyak perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja massal akibat ketidakpastian ekonomi global dan perubahan teknologi. Sektor-sektor informal seperti pedagang kaki lima dan pekerja lepas tanpa kontrak tetap pun tak lagi mampu menampung semua pencari kerja baru, apalagi dengan penghasilan yang layak. Dalam situasi ini, membesarkan anak bukan hanya menjadi tugas mulia, melainkan tantangan besar yang membutuhkan kesiapan finansial, emosional, dan logistik.

Persoalan besar lainnya adalah masih lemahnya edukasi mengenai tanggung jawab menjadi orang tua. Banyak pasangan muda melihat memiliki anak hanya sebatas proses biologis dan spiritual, namun lupa bahwa setiap anak membawa kebutuhan hidup yang kompleks. Anak bukan hanya harus diberi makan dan pakaian, tetapi juga hak atas pendidikan, kesehatan, lingkungan yang aman, serta dukungan psikologis. Dalam hal ini, menjadi orang tua bukanlah hak semata, melainkan tanggung jawab besar yang tidak boleh dianggap enteng.

Menjadi orang tua bukan hanya tentang mampu melahirkan dan memberi makan, tetapi juga tentang kesiapan mental, emosional, dan tanggung jawab jangka panjang. Banyak orang mengira bahwa seiring waktu, insting mengasuh akan datang dengan sendirinya. Padahal, membesarkan anak memerlukan kesabaran, pemahaman psikologis, kemampuan memberi perhatian dan cinta yang konsisten, serta banyak hal lain yang harus dipelajari dan dikuasai. Tanpa kesiapan itu, anak-anak bisa tumbuh tanpa arah, kurang dukungan emosional, atau bahkan mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang sering dianggap “cara mendidik.” Maka, sebelum memutuskan untuk punya anak, pertanyaan yang seharusnya muncul bukan hanya “siapkah punya anak?”, tetapi juga “sudah siapkah menjadi orang tua yang bertanggung jawab?”.

Kita perlu mulai menggeser paradigma lama. Alih-alih “banyak anak banyak rezeki,” mungkin yang lebih relevan dengan kondisi sekarang adalah “banyak anak, banyak rezeki yang harus dicari,” atau bahkan “banyak anak, banyak tanggung jawab.” Dengan pola pikir ini, masyarakat didorong untuk lebih realistis dalam membangun keluarga, mempertimbangkan aspek kesiapan ekonomi dan mental, serta berpikir jangka panjang demi masa depan anak-anak mereka.

Lebih dari sekadar masalah ekonomi, punya banyak anak dalam keluarga juga berkaitan dengan kualitas hidup dan masa depan bangsa. Anak-anak yang tumbuh dalam kondisi serba kekurangan dan sulit mendapatkan pendidikan berisiko mengalami banyak masalah. Mereka bisa sulit keluar dari kemiskinan, lebih mudah dieksploitasi untuk bekerja, dan tidak punya banyak pilihan dalam hidupnya. Dengan kata lain, mereka akan terus terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang berulang dari generasi ke generasi. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, jarak antara orang kaya dan miskin akan makin lebar, dan cita-cita membangun Indonesia yang lebih maju sesuai dengan visi “Menuju Indonesia Emas 2045” bisa terhambat. Karena itu, mengubah cara pandang soal punya banyak anak bukan hanya soal benar atau salah, tapi bagian penting dari usaha membangun masa depan yang lebih baik untuk semua.

Pemerintah perlu lebih gencar melakukan edukasi perencanaan keluarga melalui program KB dan pendampingan langsung, khususnya di daerah-daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi. Selain itu, tokoh agama dan masyarakat juga memegang peran penting dalam mengubah cara pandang kolektif masyarakat tentang makna rezeki dan keberkahan dalam memiliki anak.

Perlu diingat, bahwa kehadiran seorang anak bukan hanya sekadar anugerah, tetapi juga amanah. Mereka hadir ke dunia ini bukan karena pilihan mereka, melainkan karena keputusan orang tua. Maka, menjadi tugas para orang tua, masyarakat, dan negara untuk memastikan mereka tumbuh dengan penuh cinta, pemenuhan hak, dan kesempatan untuk meraih masa depan yang layak. Tidak cukup hanya berharap pada rezeki yang abstrak. Yang dibutuhkan adalah rencana, tanggung jawab, dan kesadaran penuh atas pilihan yang telah diambil.

Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.