
Oleh: Dewi Putri B Simarmata
Suara USU, Medan. “Kamu kuliah di mana?” sering kali bukanlah pertanyaan yang berdiri sendiri. Di baliknya, terselip asumsi lanjutan seperti, “Memangnya jurusanmu cukup bergengsi atau tidak?” yang kerap kali hadir dalam percakapan sehari-hari. Tidak jarang kita menemui glorifikasi berlebihan terhadap jurusan-jurusan di rumpun sains dan teknologi seperti Kedokteran, Teknik, Informatika, dan jurusan eksakta lainnya yang kerap dianggap sebagai simbol keberhasilan intelektual.
Sebaliknya, jurusan-jurusan dalam bidang ilmu sosial dan humaniora, seperti Sastra, Sosiologi, Antropologi, dan sejenisnya, sering dipandang sebelah mata. Seolah-olah mereka yang memilih jalan tersebut sedang menyia-nyiakan masa depan.
Anggapan bahwa hanya orang-orang yang mempelajari ilmu eksakta yang mampu menjadi manusia sukses merupakan bentuk penyempitan makna kesuksesan itu sendiri. Narasi ini seolah menafikan keberadaan para pemikir, penulis, seniman, pegiat sosial, hingga diplomat yang bekerja menggunakan empati, analisis kritis, dan pemahaman kontekstual, yang justru menjadi kekuatan utama ilmu sosial dan humaniora.
Apa gunanya teknologi canggih jika tak dibarengi etika penggunaannya? Untuk siapa kemajuan ekonomi dikejar jika tak ada pemahaman terhadap dinamika sosial, budaya, dan ketimpangan yang ada di dalam masyarakat? Ilmu sosial dan humaniora (soshum) tidak bekerja di balik layar. Ia hadir sebagai pondasi yang menentukan arah kemajuan agar tak hanya cepat, tapi juga adil dan bermakna.
Rumpun sains dan teknologi (saintek) memang memiliki metode yang jelas dan terukur, sementara ilmu sosial lebih mengandalkan pemahaman yang dinamis dan kontekstual dimana melibatkan nuansa emosi, budaya, serta interaksi antarmanusia. Namun, hal ini bukan berarti ilmu sosial dapat dipandang sebelah mata. Keberhasilan pembangunan dan pemecahan berbagai persoalan sosial justru sangat bergantung pada analisis yang mendalam terhadap struktur dan perilaku masyarakat.
Sebagai contoh, dalam konteks pembangunan nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menegaskan bahwa penerapan ilmu sosial dan humaniora berperan sangat signifikan dalam menyukseskan program-program pembangunan. Ilmu ini memegang peranan penting dalam mengembangkan nilai-nilai kehidupan masyarakat dan menunjang karakter kehidupan berbangsa dan bernegara. Keberadaannya juga membantu menerjemahkan pemikiran-pemikiran teoretis dan ide-ide pembangunan yang ideal ke dalam langkah-langkah operasional yang konkret, sehingga program pembangunan dapat diimplementasikan secara nyata sesuai dengan kebudayaan, kondisi, dan aspirasi masyarakat.
Sementara itu, ilmu saintek berkontribusi dalam aspek teknis pembangunan, seperti pengembangan teknologi, infrastruktur, dan inovasi industri. Namun, tanpa pemahaman mendalam tentang dinamika sosial dan budaya masyarakat, penerapan teknologi tersebut dapat menghadapi tantangan dalam implementasinya. Di sinilah pentingnya keberadaan ilmu sosial dan humaniora untuk menjembatani teknologi dengan realitas masyarakat.
Penting bagi kita untuk memahami bagaimana pembagian rumpun saintek dan soshum sebenarnya dibentuk. Secara historis, kurikulum saintek dirancang untuk mengasah kemampuan analitis kuantitatif yakni mengolah data, memecahkan masalah teknis, dan menciptakan inovasi berbasis ilmu eksakta. Di sisi lain, soshum menekankan kajian kualitatif yakni memahami perilaku manusia, konteks budaya, struktur sosial, dan dinamika politik.
Namun, perbedaan ini sering disederhanakan menjadi, “saintek itu pintar, soshum itu santai”. Padahal realitanya jauh lebih kompleks. Kecerdasan manusia beraneka ragam. Ada yang unggul dalam logika dan angka, ada pula yang unggul dalam empati, nalar kritis, dan pemahaman konteks. Memandang jurusan hanya dari satu sisi apakah lebih “praktis” atau “teknis” sama saja dengan mengabaikan potensi unik yang dibawa setiap lulusan.
Stigma keremehan terhadap jurusan-jurusan soshum ini kerap muncul karena ada dan tersebarnya anggapan bahwa disiplin ilmu yang “berat” dan “bernilai” adalah yang dapat dimatematikakan. Cara pandang ini menempatkan angka, rumus, dan hitung-hitungan sebagai satu-satunya tolak ukur kecerdasan seseorang. Akibatnya, segala hal yang bersifat kesenian, struktur sosial, atau perilaku manusia seperti yang dipelajari dalam ilmu soshum dianggap remeh, seolah tidak memiliki tingkat kesulitan intelektual yang setara.
Lihatlah tokoh-tokoh dunia seperti Malala Yousafzai yang memperjuangkan pendidikan melalui pendekatan sosial, atau Yuval Noah Harari, sejarawan yang kini menjadi pemikir global soal masa depan manusia. Di Indonesia sendiri, banyak aktivis, penulis, analis kebijakan, dan penggerak perubahan sosial yang berasal dari jurusan-jurusan soshum. Mereka mungkin tidak menciptakan alat, tetapi mereka membentuk kesadaran publik, menggerakkan masyarakat, dan memberi arah bagi ilmu pengetahuan agar tidak kehilangan sisi kemanusiaannya.
Jadi, tidak ada satu pun disiplin ilmu yang lahir untuk dibandingkan superioritasnya, melainkan untuk saling melengkapi. Membandingkan antara rumpun sains teknologi dengan sosial humaniora tanpa memahami cara kerja dan metodologi keduanya sama saja seperti membandingkan cangkul dengan pena lalu memutuskan bahwa salah satunya tidak berguna.
Redaktur: Annisya Putri Anggraini
Leave a comment