SUARA USU
Opini

BBM Terus-Terusan Naik? Saatnya Bertransformasi Ke Sumber Energi Terbarukan

sumber foto: Kumparan

Oleh: SRE USU

Suara USU, Medan. Minyak adalah salah satu sumber konsumsi energi utama di dunia sehingga tidak dapat dipungkiri minyak memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian global. Jika terjadi fluktuasi terhadap minyak dunia, maka akan berpengaruh terhadap hasil produksi yang mempengaruhi perekonomian dunia maupun Indonesia sehingga output yang dihasilkan berkurang dan memicu terjadinya inflasi. Kebutuhan energi khususnya minyak dunia saat ini masih bergantung pada bahan bakar fosil. Menurut IEA (International Energy Agency), 82% negara-negara di dunia masih bergantung pada sumber energi dari fosil.

Tahun ke tahun kita tidak akan terlepas dari berita kenaikan BBM, dampak dari kenaikan BBM dan kenaikan harga lainnya seperti bahan pokok. Rakyat akan menerima dampak langsung dari kenaikan BBM terutama yang berada di ekonomi menengah dan bawah. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sebagaimana tertulis dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Dapat diartikan bahwa seharusnya tidak ada wewenang dalam menetapkan harga bahan bakar minyak karena kebijakan apapun yang diambil mengenai pemanfaatan alam berdasarkan kepentingan rakyat. Dalam mengatur dan menetapkan harga bahan bakar minyakng tertua dalam UU Migas Nomor 22 tahun 2011 dan putusan MK 002/PUU-I/2003 terkait pasal 28 UU Migas.

Indonesia kaya akan sumber daya alam termasuk komoditas energi yaitu minyak dan gas bumi, tetapi Indonesia menjadi pelanggan setia sebagai negara pengimpor sektor migas. BPS mencatat periode Januari hingga Juli 2022 mencapai US$ 14,37 miliar atau naik 97,71% dari periode tahun lalu. Kebutuhan BBM mengalami peningkatan yang signifikan karena pertumbuhan yang meningkat setelah pandemi. Tingkat produksi minyak mentah di Indonesia jauh di bawah total kebutuhan sehingga pasokan BBM dalam negeri harus dipenuhi dari impor. Jumlah minyak impor yang mencapai 500 ribu barel per hari mengharuskan Indonesia menyesuaikan dengan harga pasar dunia.

Ketergantungan terhadap BBM dari fosil secara berkelanjutan akan memberi dampak buruk bagi Indonesia, mengingat menteri cadangan minyak bumi di Indonesia menurut ESDM (Arifin Tasrif) akan tersedia hanya 9,5 tahun mendatang. Jika ditinjau dari segi lingkungan, sumber energi fosil merupakan kontributor emisi karbon terbesar yaitu sebesar 70%. menghasilkan 36,44 gigaton karbon dioksida yang dihasilkan karbon dioksida, besarnya karbon yang tanpa pengurangan dari alam memicu terjadinya perubahan iklim pemanasan global. Indonesia berkomitmen dalam aksi global untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% di tahun 2030, sektor energi memakan 58,1% dari total emisi.

Salah satu solusi dari permasalahan yang kompleks tersebut yaitu dengan bertransformasi dan bertransisi menuju energi yang lebih bersih, ramah lingkungan serta terbarukan. Target bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) Indonesia sebesar 23% dari total bauran energi primer di tahun 2025 dan 31% di tahun 2030. Terget-target tertuang di dalam Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2017 tengang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) . Society of Renewable Energy (SRE) USU mendukung penuh untuk Indonesia bertransisi menuju Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dalam menghadapi permasalahan-permasalahan terkait energi dan lingkungan saat ini. Pengembangan energi pengganti BBM seperti Hydrogen Fuel Cell, Ethanol Biomass, Biodiesel, dll.Penggunaan kendaraan listrik serta sumber pembangkit listrik yang berasal dari energi baru terbarukan. Perlunya inovasi dan teknologi yang mendukung secara efektif, efisien serta ramah lingkungan.

Untuk itu, mari kita ciptakan gebrakan dalam hal teknologi-teknologi dan membantu meningkatkan pemahaman masyarakat akan membantu dan terbarukan sebagai upaya membantu menyelamatkan bumi kita dari kerusakan lingkungan lebih lanjut.

Redaktur: Yessica Irene


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Wakil Ketua Umum MPMU, Joel: FISIP Gagal Jadi Barometer Demokrasi

redaksi

Beasiswa LPDP Jatuh di Tangan yang Salah

redaksi

Penelitian Mahasiswa USU Mengenai Heterogenitas Masyarakat Indonesia dan Hubungannya Terhadap Nilai Pancasila

redaksi