Home Buku Belajar Merangkul Luka dalam Buku ‘Nanti juga Sembuh Sendiri’
Buku

Belajar Merangkul Luka dalam Buku ‘Nanti juga Sembuh Sendiri’

Share
Sumber: Gramedia

Oleh: Lucy Kezia Simarmata

Suara USU, Medan. Di tengah dunia yang sering kali menuntut untuk terlalu keras, memaksa kuat, tanpa melihat sejauh mana rapuh itu menggema dalam batin. Buku bertajuk ‘Nanti Juga Sembuh Sendiri’ hadir sebagai teman sunyi yang tidak menghakimi. Buku ini merupakan buku keempat yang ditulis oleh Bagas Ali Prasetyo atau yang sering disapa dengan nama pena Helobagas.

Helobagas adalah penulis yang terkenal dengan ‘cerita sebelum tidur’ yang diunggah pada kanal Youtube miliknya dan podcast berjudul ‘Kita dan Waktu’ yang ada di Platform Spotify. Dalam karyanya, Helobagas sering mengangkat kisah atau perasaan yang sering dialami oleh para remaja atau dewasa awal. Buku ‘Nanti Juga Sembuh Sendiri’ diterbitkan oleh Kawah Media pada 9 Juni 2022. Buku ini ditulis untuk menjadi teman curhat bagi para pembaca agar dapat lebih jujur dengan perasaan dan apa yang dialami.

Buku ini mengingatkan kita bahwa kita tidak akan bisa menjadi manusia yang kuatnya selalu utuh, tidak juga harus selalu mengemban bahagia yang sama dari waktu ke waktu. Buku ini termasuk dalam buku yang bertemakan self healing. Self healing adalah cara atau proses kita untuk menyembuhkan diri dari luka, trauma, dan hal-hal menyedihkan serta melelahkan dalam hidup.

Buku ‘Nanti Juga Sembuh Sendiri’ ini juga dianggap sebagai buku yang bisa menemani kita dalam proses penerimaan diri dan penyembuhan diri dengan menerima dan memvalidasi perasaan sedih yang kita punya. Dalam karyanya ini, penulis ingin membantu para pembaca yang sedang berada di titik terendah untuk menanggapi perasaan sedih sebagai perasaan yang lumrah dan pasti pernah dirasakan setiap individu. Penulis juga mengajak kita untuk tidak memaksa diri untuk selalu tegar.

Kita sering kali merasa tidak sekuat dan setegar orang lain, perasaan sedih yang kita alami sering kali membuat kita buru-buru mencari cara atau solusi yang instan agar bisa keluar dari fase sedih itu. Namun, lewat bukunya penulis membangun kedekatan emosional pada pembaca dengan berbicara langsung kepada pembaca sehingga penulis seolah memberikan ruang sunyi dan teduh bagi siapapun yang sedang merasa rapuh.

Melalui buku ini, penulis mengisahkan perjalanan panjang setelah mengalami patah hati, rusaknya persahabatan, hingga harapan yang seolah nyaris hilang sehingga pembaca yang juga pernah mengalami hal serupa menjadikan buku ini menjadi pilihan yang tepat untuk dibaca. Hal ini, juga menjadi salah satu daya jual buku ini, penulis mengangkat topik yang dekat dengan realita kehidupan. Dalam karyanya ini, tidak terdapat istilah yang membingungkan atau rumit dimengerti sehingga mudah menjangkau pembaca dari berbagai segmentasi. Buku ini disusun dengan kumpulan kutipan relfektif, narasi singkat dan narasi pendek. Alurnya juga linear sehingga untuk mendapatkan makna dari buku ini pembaca tidak harus membaca dari awal hingga penghujung bab, pembaca dapat membuka bab atau bagian yang sekiranya sesuai dengan kondisi dan fase yang sedang mereka alami.

Namun, karena disajikan dalam narasi singkat dan kutipan relfektif, terkadang buku ini malah terkesan monoton bagi pembaca yang biasanya lebih menyukai buku dengan isi yang lebih beragam. Buku ini juga lebih bersifat relfektif dibandingkan aplikatif karena buku ini memang tidak ditulis bagi para pembaca yang ingin solusi untuk menyembuhkan luka batin secara instan. Di dalam buku ini, tidak ada solusi konkret yang diberikan karena buku ini lebih berfokus untuk menjadi teman curhat bagi pembacanya.

Redaktur: Nurur Rahmah

 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.