SUARA USU
Featured Opini

Berada pada Fase Quarter Life Crisis, Apa yang Harus Dilakukan?

 

Oleh: Suranti Pratiwi

 

Suara USU, Medan. “Dewasa yang kurasakan tidak seindah yang telah kugariskan di buku diary harianku. Goresan tinta hitamku tak merubah apapun itu karena pada kenyataannya semua hilang ditelan realita keadaan.” Ialah seuntai kalimat puitis yang diungkap Desy saat ditanya perihal dewasa.

Fase menuju dewasa nyatanya memang menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang. Periode terjadinya transisi dari remaja menuju dewasa dianggap menjadi masa sulit akibat serangan emosional luar biasa yang datang dari dalam dan luar diri seseorang yang menyebabkan rasa cemas, tidak nyaman, kebingungan dengan arah hidup, merasa salah arah dan putus asa seperti yang diungkapkan kedua mahasiswi pertanian dengan rentang usia 18-20 tahun berikut.

“Takut, semakin dewasa semakin banyak beban pikiran terus takut ga bisa menjalaninya. Banyak impian yang indah dipikirkan tapi belum tentu bisa mewujudkannya setelah dewasa,” tutur Sry Mei mengungkapkan keluh kesahnya.

“Takut kalau gak sesuai ekspektasi waktu masih kecil yang ngerasa keknya enak ya jadi dewasa, kek pengen gitu waktu lihat orang orang dewasa. Takut kecewa, takut gak siap ngadapinnya,” timpal Yovita.

Namun, tahukah kamu keadaan emosional seperti kekhawatiran, keraguan terhadap kemampuan diri, dan kebingungan menentukan arah hidup yang umumnya dialami oleh mereka yang berusia 18- 30 tahun ini dalam psikologi dikenal dengan istilah quarter life crisis?

Dewasa ini, istilah quarter life crisis makin marak digunakan. Meski demikian, masih banyak kawula muda yang belum mengerti betul apa itu quarter life crisis, bagaimana tanda-tandanya, dan cara bijak menghadapinya.

Menurut Robbins dan Wilner, quarter life crisis atau krisis seperempat abad adalah perasaan khawatir yang hadir atas ketidakpastian kehidupan yang mencakup karier, pertemanan, keluarga, bahkan kehidupan percintaan yang umumnya terjadi sekitar usia 20 tahunan. Kekhawatiran ini umumnya seputar masalah pekerjaan, hubungan atau relasi interpersonal, masalah finansial, dan problem karakteristik personal lainnya yang muncul pada masa peralihan antara remaja menuju dewasa (Tanner et al dalam Balzarie & Nawangsari, 2019).

Ditemukan bahwa tantangan besar yang dialami oleh kelompok yang berada dalam fase ini adalah seputar identitas, tekanan dari dalam diri sendiri, perasaan akan ketidakpastian, dan depresi yang ditandai oleh reaksi-reaksi dalam emosi individu seperti: (1) perasaan frustrasi, (2) merasa panik, (3) merasa tak berdaya, (4) merasa tidak memiliki tujuan atau goals hidup dan lain-lain.

Hal ini diperjelas oleh Wibowo (2017) lewat bukunya yang bertajuk Mantra Kehidupan Sebuah Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome. Beliau mengungkap beberapa masalah yang hadir ketika dirinya memasuki quarter life crisis yaitu sering tidak yakin dengan jalan hidup yang sedang dijalani, rasa ragu yang kerap kali datang, merasa tak cukup puas dengan apa yang didapat dan dimiliki saat ini, tidak jelasnya akan hubungan asmara, merasa hanya menjadi butiran debu dalam kehidupan, kerap merasa gagal, merasa kerap terjebak dalam kehidupan yang tidak sesuai harapan, merasa rindu dengan kehidupan masa lalu atau masa-masa sekolah, merasa tidak aman dengan kondisi keuangan, kesulitan dalam pengambilan keputusan, sering berandai lari dari keyataan yang sedang ia hadapi, sering berpindah-pindah pekerjaan, pasangan maupun tempat tinggal, kurangnya kepercayaan dalam diri, ketakutan akan masa depan, jauh dari spiritualitas, benci dengan diri sendiri, tidak tahu dengan apa yang dia inginkan, sulit untuk menentukan pilihan dan prioritas, sering membadingkan keadaan dirinya dengan orang lain serta secara sosial adanya tekanan untuk segera hidup mapan dengan standar orang lain.

“Kalo menurut aku ya, masalah terbesar aku di masa sekarang ini yang paling utama itu belum tercapainya apa yang diinginkan. Dengan masalah itu bisa merambat ke semua hal seperti insecure dan overthinking tiap malam. Mungkin sebagian mahasiswa khususnya aku sendiri ya merasa belum bisa bahagiakan orang tua walaupun udah berada di univ ini, karena sepertinya ekspetasi ataupun harapan orangtua itu pasti besar di berikan kepada kita karena mereka percaya kita bisa melaluinya. Saingan kita cuman satu, umur orang tua,” ungkap Adelina pada suatu kesempatan.

Selain keluarga, terdapat faktor lainnya yang mempengaruhi timbulnya quarter life crisis pada generasi milenial seperti pengaruh sosial media, latar belakang pendidikan, pekerjaan yang saat ini ditekuni, dan keselarasan antara keinginan pribadi dengan tuntutan lingkungan.

“Omongan orang lain itu seberpengaruh itu buat diri kita. Ya mungkin sebagian orang bisa mengabaikan itu, tapi ada juga yang gak bisa. Insecure, dibanding- bandingin, gak pernah di apresiasi, itu udah aku lalui. I think takut itu hal yang wajar sih ya untuk di umur segini. Waktunya untuk mencari jati diri dan nentuin mau jadi apa kedepannya. Terkadang ketakutan yang menjatuhkan semua usaha kita. Ada hal dimana kita bakal ngerasain ‘kok hidup aku berat banget ya?’ atau ‘kok makin kesini, ada aja masalah‘  itu semua bisa kita atasi kalo kita percaya sama diri sendiri,” tutur mahasiswi inisial RA.

Pada individu, masa peralihan remaja ke dewasa memang menjadi masa yang penting bagi mereka sebab pada masa ini remaja mulai mengeksplorasi diri, hidup mandiri, pengembangan nilai-nilai dan membangun sebuah hubungan (Papalia& Feldmad, 2014). Untuk itu perlu upaya bijak dalam menghadapi krisis ini agar bukannya terjerumus dalam keadaan emosional yang buruk, melainkan mendapatkan versi terbaik dari diri kita.

Secara umum, cara menghadapi krisis ini adalah dengan lebih positif dalam menyikapi lingkungan dan tuntutan sosial. Selanjutnya berusahalah untuk berdamai dengan diri sendiri dan keadaan, berusaha terus memotivasi diri untuk terus berproses mempersiapkan masa depan, mendiskusikan kebimbangan dengan keluarga dan orang sekitar dan berusaha menghibur diri untuk mengalihkan perasaan tidak nyaman dan kecemasan yang terjadi di fase quarter life crisis ini. Apabila masih mengalami kesulitan dalam menghadapi quarter life crisis, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

“Sejujurnya capek karena hari demi hari banyak masalah yang dihadapi untuk menuju dewasa. Tapi kembali lagi dengan adanya masalah kita bisa jadikan ini sebagai kesempatan untuk menghadapi masa depan,” tutur Novela.

Quarter life crisis bisa menyerang siapa saja, karena sesungguhnya masalah dalam hidup adalah sesuatu yang sangat wajar dan dialami setiap orang. Meski tampaknya meresahkan, quarter life crisis dapat menjadi titik balik kamu untuk menentukan tujuan hidup dan melakukan yang terbaik sehingga tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab.

 

Redaktur : Lita Amalia

 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Kebijakan Stabilisasi sebagai Solusi Lonjakan Harga Beras

redaksi

Keindahan Tapaktuan di Aceh Selatan

redaksi

Stres Pasca Konser? Ayo Kenali Post-Concert Syndrome!

redaksi