SUARA USU
Opini

Bullying “Hukum Rimba” di Era Modern

Penulis : Okto Situmeang

Suara USU, MEDAN. Bullying merupakan suatu tindakan yang berhubungan dengan pengancaman atau bahkan penindasan yang bertujuan untuk merusak mental dan kondisi kejiwaan seseorang akibat adanya tekanan yang diberikan terhadapnya.

Pada umumnya, tindakan bullying masih sering terjadi di dunia pendidikan. Seseorang yang menjadi korban bullying seringkali mendapatkan banyak kecemasan dan mengalami penurunan prestasi di sekolah.

Bentuk bullying yang sering dilakukan di sekolah adalah dalam bentuk verbal yaitu dengan menggoda, mengejek, dan meledek, namun apabila hal ini semakin dibiarkan, maka akan meningkat menjadi kekerasan fisik yang pastinya akan merugikan kedua belah pihak.

Bullying pada dasarnya mirip dengan hukum rimba yang menjadikan orang yang kuat selalu menindas yang lemah. Banyak alasan mengapa seseorang ingin melakukan tindakan bullying, diantaranya kurangnya pendidikan karakter yang baik dari orang tua, sehingga mengakibatkan seseorang yang melakukan bullying sering tidak menyadari dampak buruk dari tindakan yang telah dilakukan, bahkan kurangnya perhatian dari guru di sekolah dapat memperparah terjadinya kasus bullying.

Media massa juga dapat berpengaruh besar dalam proses terjadinya bullying. Hal ini karena adanya tayangan-tayangan yang berhubungan dengan unsur kekerasan fisik yang mengakibatkan banyak orang yang menjadi terinspirasi untuk meniru adegan tersebut.

Menurut mantan ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Judhariksawan menyatakan, bahwa tayangan televisi bisa menjadi salah satu penyebab anak di bawah umur melakukan tindakan kekerasan.

Pada umumnya, tujuan seseorang melakukan tindakan bullying adalah untuk memuaskan rasa amarah yang terdapat dalam diri pelaku, bullying juga dapat terjadi karena adanya kesalahpahaman antara korban dan pelaku, pihak yang melakukan bullying merasa bahwa korban merupakan orang yang angkuh dan sombong dalam mata pelajaran tertentu karena keaktifannya, namun sebenarnya bukan demikian, melainkan hal itu merupakan cara korban dalam mengekspresikan pendapat dan keikutsertaannya dalam pembelajaran tersebut.

Mengutip kata-kata dari Mahatma Gandhi “and eye for an eye only ends up making the whole world blind” dapat dimengerti, bahwa jika kita merespon setiap tindakan atau perilaku kekerasan dengan kekerasan yang sama atau lebih, maka sama sekali tidak akan menemukan pemenangnya dan hanya menyakiti semua orang yang terlibat di dalamnya.

Dengan melakukan tindakan bullying terhadap orang lain bukanlah sebuah solusi untuk permasalahan yang anda hadapi, penanganan bullying dapat dimulai dari diri sendiri yaitu dengan menjadi orang yang toleran dan menjalin pertemanan dengan setiap orang tanpa membeda-bedakan.

Redaktur : Wiranto Asruri Siregar

Related posts

BEM Lain Lantang Bersuara, PEMA USU ke Mana?

redaksi

Penangkapan Ravio Patra, “Masih Adakah Demokrasi di Negeri Ini?”

redaksi

Begal Payudara, Pikiran Nyeleneh Pelaku atau Korbannya yang Buat Pemicu? Begini Penyelesaiannya!

redaksi