Home Sosok Burhanuddin Mohammad Diah, Dari Ruang Redaksi hingga Diplomasi
Sosok

Burhanuddin Mohammad Diah, Dari Ruang Redaksi hingga Diplomasi

Share
Sumber foto: Kompas

Oleh : Siti Aisyah

Suara USU, Medan. Di balik perjalanan panjang republik ini, terdapat sederet tokoh yang tidak hanya mengabdi melalui senjata atau diplomasi, tetapi juga lewat kata, kata yang mampu memantik semangat bangsa. Burhanuddin Mohammad Diah adalah salah satu di antara mereka. Sebagai pendiri Harian Merdeka, ia tidak hanya mencatat sejarah, tetapi ikut membentuknya. Namanya mungkin tidak selalu muncul di ruang publik masa kini, namun jejaknya mengalir dalam perjalanan jurnalisme dan politik Indonesia modern.

Lahir di Banda Aceh pada 7 April 1917, Burhanuddin tumbuh di lingkungan yang menjunjung tinggi pendidikan dan keberanian berbicara. Semangat itu membawanya merambah dunia pers sejak muda. Ketika masa kolonial memerintah dengan ketat, ia menyaksikan bagaimana media menjadi ruang perlawanan yang tidak selalu bersenjata. Berita bisa menjadi senjata dan jurnalis dapat menjadi pejuang. Dari pemikiran itulah karier panjangnya dimulai.

Puncak kontribusinya sebagai jurnalis hadir ketika ia mendirikan Harian Merdeka pada 1 Oktober 1945, hanya beberapa minggu setelah Proklamasi Kemerdekaan. Kehadiran surat kabar itu bukan sekadar bisnis media, tetapi ia merupakan instrumen perjuangan nasional. Di saat informasi menjadi alat propaganda antara pihak republik dan kolonial, Harian Merdeka memainkan peran penting sebagai corong pembentuk opini publik. Dengan sikap redaksional yang tegas, koran itu berseberangan dengan upaya Belanda mengaburkan narasi kemerdekaan.

Diah memimpin redaksi secara langsung. Ia turun ke lapangan, mengikuti peristiwa-peristiwa penting, dan menuliskan laporan yang tidak hanya aktual, tetapi juga berani. Pada masanya, menjadi jurnalis berarti menghadapi ancaman penangkapan, penyensoran, bahkan kekerasan. Namun hal itu tidak menghentikan langkahnya. Ia dikenal sebagai sosok yang tenang, penuh perhitungan, tetapi tidak mudah goyah. Teman-temannya menyebut bahwa kehadiran Diah selalu membawa ketegasan, seolah siapa pun yang bersamanya tahu bahwa berita harus tetap ditulis apa pun risiko yang mengikutinya.

Keberanian itu pula yang membawanya menembus dunia politik. Pada era Sukarno, Diah dipercaya mengemban sejumlah posisi strategis, termasuk menjadi Duta Besar Indonesia untuk Cekoslowakia. Perjalanan diplomatiknya menunjukkan bahwa ia memiliki kapasitas lebih dari sekadar pena; ia mampu memadukan keahlian jurnalistik dengan kecakapan membangun relasi internasional.

Meski memasuki ranah politik, Diah tidak pernah benar-benar melepaskan jurnalisme. Harian Merdeka tetap menjadi rumah pemikirannya. Di bawah arahannya, koran itu mengusung jurnalisme yang kritis namun bertanggung jawab. Ia menginginkan pers yang bebas, tetapi bebas dalam koridor etika. Tidak mengherankan apabila banyak jurnalis generasi awal kemerdekaan menganggapnya sebagai guru. Baginya, wartawan bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk menjaga kebenaran dalam dinamika bangsa.

Pada masa Orde Baru, peran politik Diah makin terlihat meski posisinya kerap tidak menonjol di permukaan. Ia menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), lembaga penasihat presiden pada masa itu. Namun yang paling penting, ia tetap memegang teguh prinsip bahwa negara harus dihormati dan dikritisi secara proporsional. Dalam beberapa kesempatan, ia menegaskan bahwa kritik bukanlah bentuk permusuhan, melainkan tanggung jawab untuk menjaga negara tetap berjalan di jalurnya.

Pemikiran-pemikiran Diah tentang pers sangat relevan hingga kini. Ia pernah mengatakan bahwa jurnalisme yang baik adalah jurnalisme yang berpihak pada rakyat dan kebenaran, bukan pada kekuasaan semata. Ketika kebebasan pers hari ini sering berbenturan dengan disinformasi, tekanan ekonomi media, dan polarisasi politik, pesan itu terasa semakin penting. Ia mengingatkan bahwa wartawan harus mampu berdiri di tengah badai informasi, menjaga integritas di atas segala kepentingan.

Burhanuddin Mohammad Diah wafat pada 10 Juni 2016 di usia 99 tahun. Kepergiannya meninggalkan warisan yang tidak hanya tercatat di arsip sejarah, tetapi juga dalam etos jurnalisme Indonesia: keberanian, keteguhan, dan komitmen pada kebenaran. Sosoknya mengajarkan bahwa seorang jurnalis dapat memiliki banyak wajah salah satunya wajah penulis, pejuang, diplomat, dan negarawan yang tanpa pernah kehilangan kompas moral yang menuntun langkah.

Kini, ketika jurnalisme dituntut semakin cepat namun tetap akurat, warisan Diah mengingatkan bahwa profesi ini selalu lebih dari sekadar menyampaikan berita. Ia adalah ruang pengabdian, tempat kata-kata bekerja untuk menjaga demokrasi. Dalam perjalanan panjang itu, nama Burhanuddin Mohammad Diah akan selalu dikenang sebagai salah satu penjaga awalnya.

Redaktur: Katrin Alina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.