Dampak FOMO pada Generasi Z dalam Perspektif Pancasila sebagai Etika Digital Modern
Home Tulisan Dampak FOMO pada Generasi Z dalam Perspektif Pancasila sebagai Etika Digital Modern
Tulisan

Dampak FOMO pada Generasi Z dalam Perspektif Pancasila sebagai Etika Digital Modern

Share

a person laying on top of a laptop computer with their hands reaching out to touch the screen

Oleh: Cut Mutia Fazira, Sisil Indrayani, Callysta Priscilla, Teguh Liandy, Muhammad Fahri, Kevin Nixon Simanungkalit, dan Danial Adrian Ibrahim

Suara USU, Medan. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu tantangan psikologis yang banyak dialami oleh Generasi Z di era digital. Perkembangan media sosial seperti TikTok dan Instagram memicu munculnya rasa takut tertinggal tren, informasi, maupun gaya hidup orang lain. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga memengaruhi perilaku sosial serta cara generasi muda berinteraksi di ruang digital. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana FOMO memengaruhi Generasi Z sekaligus melihat bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat dijadikan landasan etika digital untuk menghadapi dampak negatifnya.

Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar pada cara manusia berkomunikasi dan memperoleh informasi. Media sosial kini menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi Generasi Z yang sangat aktif menggunakan platform seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter) sebagai sumber hiburan, berita, dan tren terbaru. Namun, di balik manfaatnya, media sosial dapat memicu FOMO, yaitu kecemasan ketika merasa tertinggal terhadap hal-hal yang dianggap penting atau menarik. Fenomena ini mendorong individu untuk terus memeriksa media sosial agar tetap terhubung dan tidak merasa ketinggalan. Tanpa disadari, FOMO dapat membuat seseorang membandingkan diri dengan orang lain sehingga menimbulkan tekanan sosial dan rasa ketidakpuasan terhadap pencapaian diri.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, nilai-nilai Pancasila memiliki peran penting dalam menghadapi dampak negatif FOMO. Nilai-nilai tersebut dapat membangun kesadaran diri, menumbuhkan ketahanan mental, menanamkan sikap kritis terhadap informasi, mendorong rasa syukur, serta memacu generasi muda untuk fokus pada pengembangan kualitas diri. Penerapan nilai Pancasila diharapkan mampu membentuk perilaku digital yang bijak, seimbang, dan bertanggung jawab pada Generasi Z.

Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan dukungan analisis kualitatif. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner Google Form kepada 21 mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Kuesioner berisi 10 pertanyaan mengenai penggunaan media sosial, tren yang diikuti, tingkat FOMO, hingga pengaruhnya terhadap aktivitas harian. Selain itu, wawancara singkat dengan beberapa narasumber turut dilakukan untuk memperkaya temuan penelitian. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden—yang didominasi perempuan berusia 18–20 tahun, menggunakan TikTok dan Instagram sebagai media sosial utama, sedangkan X (Twitter) relatif jarang digunakan.

Mayoritas responden mengaku jarang mengalami FOMO dan masih dapat mengendalikan diri, meskipun tren hiburan, promo belanja, dan mode merupakan faktor yang paling sering memicu perasaan tersebut. Dampak FOMO terhadap aktivitas seperti belajar, tidur, dan interaksi sosial relatif kecil. Responden menyatakan bahwa mereka tidak terlalu terpengaruh secara signifikan. Menariknya, beberapa responden menilai bahwa nilai-nilai Pancasila, khususnya sila kedua dan sila ketiga, membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata. Nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan moderasi membuat mereka lebih mampu melihat media sosial sebagai ruang informasi, bukan sebagai tolok ukur keberhasilan pribadi.

Temuan ini menunjukkan bahwa FOMO memang muncul akibat derasnya arus informasi di platform digital, terutama TikTok dan Instagram. Namun, generasi muda masih memiliki kemampuan untuk mengelola kecemasan tersebut melalui kesadaran diri dan nilai moral yang mereka pegang. Selain itu, FOMO juga dapat memberikan motivasi positif jika diarahkan dengan tepat, seperti mendorong semangat belajar dan pengembangan diri. Dalam menghadapi tekanan digital, penerapan nilai-nilai Pancasila menjadi solusi yang relevan untuk menjaga keseimbangan emosional dan sosial. Sila kedua, ketiga, dan kelima menekankan pentingnya kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial yang dapat membantu Generasi Z bersikap lebih kritis dan selektif terhadap konten digital.

Secara keseluruhan, FOMO merupakan fenomena psikologis yang muncul akibat ketakutan tertinggal informasi dan tren yang berkembang pesat di media sosial. Fenomena ini dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental serta perilaku generasi muda jika tidak dikelola dengan baik. Namun, nilai-nilai Pancasila terbukti relevan sebagai landasan etika digital dalam menghadapi dinamika tersebut. Dengan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan keadilan, Generasi Z dapat menjadi pengguna media sosial yang lebih bijak, kritis, dan bertanggung jawab. Pancasila bukan hanya falsafah negara, tetapi juga panduan hidup yang mampu menjawab tantangan era digital dan membantu generasi muda menghadapi arus informasi modern tanpa kehilangan jati diri.\

Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pendidikan Pancasila dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si. 

 

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.