
Oleh: Jesika Yusnita Laoly
Suara USU, Medan. Hai! Dengarkan ini baik-baik!
Bumi sudah berteriak,
tapi manusia masih sok tuli!
Tikus-tikus bersetelan rapi
menatap berkas kosong di meja rapat,
seolah di sana ada masa depan.
Lihatlah!
Di Sumut, Sumbar, Aceh
tanah berbau anyir karena digagahi sedadu baja!
Di Sibolga, Taput, Tapteng.
Sungai-sungai tua yang dulu berdoa lirih,
kini meraung seperti induk kehilangan anak,
mengguncang kota dan berteriak
“Bukan aku yang berubah! Kalian yang menelanjangiku!”
Perhatikan!
Pabrik-pabrik berdiri di atas nisan akar,
pengusaha memandang bukit sebagai rekening berjalan,
dan pejabat menganggap alam tak lebih dari tanda tangan
dan lembaran rupiah di bawah meja licin kekuasaan.
Dan lihatlah kayu-kayu besar yang dihanyutkan air bah itu!
Itu bukan “material alam”; itu adalah bukti kejahatan,
bukti bahwa negeri ini sedang dikelola
oleh tangan-tangan cekatan merobek hutan,
namun cengeng ketika banjir datang!
Ketika lumpur menelan rumah,
ketika anak-anak hilang,
ketika mayat ditarik dari reruntuhan,
apa yang dilakukan para pemegang kuasa?
Mereka duduk manis bak raja kecil yang lupa cermin,
berdandan dengan jas wangi di atas penderitaan rakyat.
Oh, betapa suci wajah mereka
di depan lampu sorot,
padahal sepatu mereka
masih menyimpan jejak tanah hutan
yang mereka jual diam-diam.
Hai, kalian yang berkuasa!
Jangan pura-pura tak tahu
bahwa tanah jenuh karena akar sudah tiada,
bahwa sungai meluap karena hulu
telah menjadi lahan parkir ekskavator,
bahwa air turun seperti pasukan mengamuk
karena bukit tak lagi punya tameng!
Oh, Ibu Pertiwi, lihatlah negeri…
yang menuduh hujan sebagai tersangka,
padahal pelakunya duduk gagah di kursi rapat
meracik kata-kata pembangunan
untuk menutupi penyembelihan bumi.
Tidak ada doa dalam sajak ini.
Tidak ada pengharapan.
Yang ada hanya teriakan:
KEMBALIKAN HUTAN KAMI!
Atau tunggulah air bah itu menyebut
nama-nama kalian satu per satu!
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment