Home Kabar SUMUT Dari Doomscrolling ke Donor Darah, Dua Aksi Peduli Bersama DAAI TV
Kabar SUMUT

Dari Doomscrolling ke Donor Darah, Dua Aksi Peduli Bersama DAAI TV

Share
Dokumentasi: Suara USU

Reporter: Cynthia Ma & Yolanda

Suara USU, Medan. DAAI TV menggelar webinar bertajuk “Tenang di Dunia yang Bising: Aktivasi Kreativitas Melawan Doomscrolling” pada Sabtu (27/7/2025), sekaligus menyelenggarakan kegiatan donor darah bersama masyarakat dan tenaga medis sukarelawan, termasuk Yayasan Buddha Tzu Chi dan RSUP H. Adam Malik. Kegiatan ini bertujuan mengedukasi masyarakat mengenai dampak buruk doomscrolling serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya donor darah secara rutin.

Kegiatan donor darah ini mendapat respons positif dari masyarakat. Para peserta merasa senang bisa berkontribusi sambil mendapatkan manfaat kesehatan. Donor darah dianggap sebagai wujud nyata kepedulian sosial di tengah hiruk-pikuk dunia digital.

Dokter Nanny, Dokter Ilham, dan Dokter Rahmat dari TIMA (Tzu Chi International Medical Association) menegaskan bahwa donor darah bukan sekadar rutinitas, tetapi bentuk nyata kepedulian terhadap sesama.“Setetes darah bisa menyelamatkan tiga nyawa,” ujar Dokter Nanny.

Selain itu, donor darah juga memiliki manfaat kesehatan bagi pendonor, seperti mempercepat regenerasi sel darah merah, menurunkan kadar zat besi berlebih, serta membantu mengurangi risiko penyakit jantung dan kanker. Dokter Tony, spesialis patologi klinik sekaligus konsultan transfusi darah dari RSUP H. Adam Malik, menyatakan bahwa kebutuhan darah di Medan sangat tinggi.

“Kalau secara nasional saja kita masih kurang lebih 500 ribu kantong darah, apalagi di Medan. Satu hari di Adam Malik saja kami membutuhkan sekitar 150 kantong darah. Itu belum termasuk rumah sakit lainnya,” jelasnya.

Susanto, salah satu panitia pelaksana, menjelaskan bahwa kegiatan donor darah ini secara khusus menyasar kalangan muda. Tujuannya adalah menumbuhkan kesadaran akan pentingnya berdonor darah secara rutin sejak dini. Ia menekankan bahwa tubuh manusia secara alami akan memproduksi darah segar setiap empat bulan. Daripada dibiarkan mengendap tanpa dimanfaatkan, menurutnya, lebih baik darah tersebut disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan.

Panitia menargetkan 200–250 kantong darah terkumpul dalam kegiatan ini. Untuk menjadi pendonor, terdapat sejumlah syarat yang harus dipenuhi, di antaranya berusia 17–60 tahun jika baru pertama kali mendonor. Jika sebelumnya sudah pernah mendonor, maka usia di atas 60 tahun masih diperbolehkan setelah pemeriksaan kelayakan.

“Kalau misal umur 40 tahun dia pernah mendonor, terus pas umurnya 50 tahun dia mendonor, maka lihat dulu sebelumnya pernah mendonor atau ini pertama kali. Dia boleh mendonor kalau sebelumnya sudah pernah mendonor. Namun lain cerita kalau belum pernah mendonor sama sekali. Lewat dari 50 tahun tidak boleh,” ujar Dokter Rahmat.

Selain itu, berat badan minimal harus 45 kilogram, kadar hemoglobin mencukupi (minimal 12 untuk perempuan dan 14 untuk laki-laki), serta tidak mengidap penyakit menular. Semua darah yang didonorkan juga akan melalui proses screening ketat untuk memastikan keamanan bagi penerima.

Di sisi lain, webinar yang berlangsung bersamaan mengangkat tema doomscrolling, yakni kebiasaan mengonsumsi informasi negatif secara terus-menerus melalui media sosial, yang dinilai dapat memicu stres berkepanjangan dan mengganggu fungsi kerja otak.

Narasumber Qintari Aninditha, praktisi kesehatan mental, menjelaskan bahwa salah satu penyebab doomscrolling adalah tubuh manusia yang masih berada dalam mode bertahan hidup akibat tekanan sosial, ekonomi, dan politik. “Tubuh kita masih belum sepenuhnya beradaptasi dengan dunia modern. Tubuh kita masih hidup seolah di habitat alam, tapi sekarang harus menghadapi berbagai informasi negatif setiap hari,” jelas Qintari.

Ia menambahkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berpotensi memperkuat sistem limbik—bagian otak yang mengatur emosi—dan melemahkan korteks prefrontal yang berfungsi dalam pengambilan keputusan. Hal ini membuat banyak orang cenderung bertindak berdasarkan emosi, bukan logika.

Untuk mencegah dampak doomscrolling, Qintari menyarankan afirmasi positif saat otak berada dalam kondisi setengah sadar, seperti saat bangun atau menjelang tidur. Ia menekankan pentingnya mengganti kebiasaan membuka media sosial dengan ucapan afirmatif seperti, “Saya cukup,” atau “Saya bersyukur dan yakin akan potensi diri saya,” agar otak menerima sugesti yang lebih sehat.

Redaktur: Jesika Yusnita Laoly

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.