SUARA USU
Kuliner

Dayok Binatur: Kuliner Yang Berisikan Harapan Khas Simalungun

Oleh : Grace Silva Situngkir

SUARAUSU, MEDAN. Sumatera Utara adalah daerah yang memiliki berbagai macam budaya termasuk makanan tradisional. Salah satunya adalah Dayok Binatur khas Simalungun. Bila diartikan per kata, “dayok” berarti ayam dan “Binatur” artinya sesuatu yang teratur, maka Dayok Binatur berarti ayam yang teratur.

Untuk penyebutannya terdapat perbedaan dalam masyarakat, mulai dari Dayok Nabinatur, Manuk Binatur, Manuk Naiatur, dan lainnya tergantung pemakaian bahasa di daerah tersebut. Namun, meskipun begitu artinya tetaplah sama. Secara filosofis, makanan tradisional khas Simalungun ini berarti harapan dan petuah yang diberikan kepada seseorang atau keluarga secara simbolis melalui sebuah makanan. Ayam yang teratur berisikan harapan agar orang atau keluarga yang menerima Dayok Binatur memiliki hidup yang teratur.

Makanan tradisional ini biasanya digunakan dalam acara adat Simalungun seperti pesta pernikahan, memasuki rumah baru, upacara kematian sayurmatua dan lainnya. Makanan ini juga sering dipakai dalam acara non-adat seperti pemberangkatan anak yang akan mengikuti ujian sekolah atau pun seleksi untuk mendapatkan pekerjaan, pemberangkatan anak yang akan merantau ke tempat yang jauh, dan lainnya dengan harapan mereka akan hidup teratur, mandiri dan bisa sukses dalam pekerjaan mereka di manapun berada. Makanan ini juga tidak semata-mata berisikan harapan agar hidup teratur, tetapi juga berisikan doa, berkat, ucapan terima kasih serta rasa syukur.

Dayok Binatur memiliki pola penyajian yang unik. Ayam yang telah dimasak dan dibumbui akan disusun kembali di atas wadah sesuai dengan urutan organ tubuh ayam, layaknya ayam yang masih hidup dan sehat. Tampilan makanan khas tersebut tidak hanya sebagai tampilan estetika tetapi juga memiliki maksud dan makna tersendiri. Bentuk penataan Dayok Binatur tersebut memiliki arti agar dalam hidup tidak perlu terlalu mencampuri kehidupan orang lain, memiliki tanggung jawab, mengerjakan tugas dan pekerjaan dengan bersungguh-sungguh, mengembangkan rasa persaudaraan serta menghindari permusuhan.

Ada beberapa filosofi dalam makanan Dayok Binatur, yaitu:

  1. Ayam yang digunakan adalah ayam kampung yaitu hewan yang disiplin terhadap waktu serta dapat bekerja mandiri untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya sebagai perwujudan rasa disiplin dan tepat waktu serta memiliki kebiasaan yang baik.

  2. Ayam jantan akan melindungi anaknya dan ayam betina akan menghentikan aktivitasnya untuk mengerami telurnya dan mengupayakan agar anak-anaknya tidak kelaparan. Hal ini berarti orang tua akan mendukung anaknya dan berusaha agar anak-anaknya sukses dan sejahtera.

  3. Tampilan Dayok Binatur yang tersusun layaknya ayam yang hidup dan tak satupun bagian tubuhnya dibiarkan hilang. Hal itu berarti hidup teratur dan harmonis serta bermanfaat bagi masyarakat.

  4. Menggambarkan pola kehidupan masyarakat Simalungun yang disebut tolu sahundulan lima saodaran yang berarti perjalanan kehidupan dijalani bersama-sama tetapi tetap memiliki tugasnya masing-masing.

  5. Menjadi sarana penyampaian doa dan harapan secara simbolis. Karena dalam pemberian Dayok Binatur kepada si penerima selalu disampaikan dan diiringi dengan harapan-harapan yang baik.

  6. Ketika memberikan Dayok Binatur, arah kepala akan menuju pada si penerima. Hal itu menunjukkan kesantunan dan kesopanan.

Berbagai filosofi Dayok Binatur tersebut memiliki arti yang sangat baik terutama dalam hal pekerjaan, kesuksesan serta perjalanan hidup. Oleh kerena itu, meskipun dalam perkembangan zaman yang sangat modern ini, makanan tradisional ini tetap digunakan dalam acara-acara khusus sebagai bentuk simbolis penyampaian harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Redaktur : Harsimren Kaur


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Cafe Tengah People & Place: Tempat Nongkrong Estetik dan Asri

redaksi

Kebab Durian Jon, Cara Baru dan Praktis Makan Durian

redaksi

Mi Par-Par, Kuliner Andalan Khas Masyarakat Rantau Prapat

redaksi