
Oleh: Zahra Zaina Rusty
Suara USU, Medan. “She said, ‘You think the devil has horns? Well, so did I
But I was wrong, his hair is combed, and he wears a suit and tie.”
Beberapa bulan lalu, potongan lirik lagu Devil in Disguise milik Marino ini sempat ramai dijadikan suara latar dalam berbagai video demonstrasi yang viral di media sosial. Saat ribuan orang turun ke jalan membawa tuntutan 17+8, bait itu mengalun di balik footage spanduk, orasi, dan wajah-wajah massa yang penuh amarah. Sebuah lagu yang selama ini mungkin hanya terdengar seperti kisah cinta penuh tipu daya, kini terasa jauh lebih politis.
Benar adanya, penggalan lirik dalam lagu milik Marino ini terlalu relevan jika kita geser ke dalam kehidupan bernegara. Sosok “iblis berjas dan berdasi” dalam lagu, seolah hadir di panggung politik dengan tampang rapi, ramah, penuh senyum, tapi diam-diam merampas kepercayaan. Kita pun jadi paham, bahwa iblis dalam “penyamaran” tak selalu hadir di dunia fiksi. Ia bisa saja kita saksikan berdiri di podium, memegang mikrofon kampanye, dan menjanjikan perubahan.
“Katanya iblis punya tanduk.” Begitu pengakuan perempuan dalam lagu Devil in Disguise milik Marino. Namun, pengakuan tersebut agaknya keliru. Iblis dalam lagu ini ternyata dapat tampil ganteng, rambut licin disisir, mengenakan jas dan dasi bermerek tinggi. Senyumnya pun ramah, tutur katanya sopan, bahkan rela menolong. Bayangkan, iblis mana yang menunduk sopan untuk menolong seseorang yang tasnya jatuh?
Lalu, di akhir kisah dalam lagu, si perempuan baru tersadar isi tasnya telah raib. Bukan sembarang lelaki baik hati yang ia temui, nyatanya ia iblis yang menyamar. Senyum manis hanyalah topeng, kebaikan hanyalah kedok. Dan kalau kita geser sedikit ke dunia nyata, rasanya familiar, ya? Ya, karena iblis berkedok baik hati itu seakan tepat sekali untuk mengumpamakan wajah politik Indonesia.
Setiap musim pemilu, jalanan penuh warna. Baliho dan spanduk berjejer dari simpang kota sampai tikungan kecil di kampung. Wajah-wajah politisi terpampang besar dengan senyum lebar, seakan senyum itu cukup untuk menyelesaikan seluruh masalah rakyat. Janjinya bertebaran di udara: “beras 10 ribu per kilo,” “satu juta lapangan kerja,” “pendidikan gratis untuk semua,” “pembangunan merata sampai ke pelosok.” Kata-kata itu dicetak tebal, ditempel di tembok, bahkan dijanjikan di panggung kampanye dengan pengeras suara yang memekakkan telinga.
Kehadiran mereka pun terasa mendadak. Politisi yang biasanya jauh, tiba-tiba rajin blusukan. Mereka turun ke pasar, menyalami pedagang sayur, mencicipi gorengan di pinggir jalan, dan makan nasi bungkus di warteg sederhana. Kamera merekam setiap momen, media memuatnya di halaman depan, seolah beginilah sosok calon pemimpin ‘yang peduli rakyat’. Rakyat terpesona, merasa dekat, dan seakan mendapat perhatian.
Tapi begitu kursi empuk kekuasaan sudah di tangan, cerita berganti. Rakyat sering menemukan diri seperti si perempuan dalam lagu Marino yang pulang dengan tas kosong. Janji manis tinggal kata-kata, yang tersisa justru harga kebutuhan pokok yang melambung, proyek pembangunan yang mangkrak di tengah jalan, dan kasus korupsi yang makin lihai disembunyikan dengan berbagai rekayasa hukum. Kamera yang dulu merekam senyum, kini justru merekam sidang-sidang panjang di pengadilan tindak pidana korupsi.
Di sinilah lirik Devil in Disguise terasa menohok. Lagu yang sekilas terdengar seperti kisah cinta, sebenarnya menyimpan sindiran tentang penipuan. Marino menulis bagaimana kita sering salah sangka iblis itu tidak selalu bertanduk, tidak selalu menakutkan. Sama seperti kita yang kadang mengira pemimpin buruk akan mudah dikenali dari wajah garang dan kata-kata kasar. Nyatanya, justru mereka yang tampil paling ramah, dengan tutur kata yang manis, sering kali paling berbahaya.
Dengan rambut licin dan jas rapi, sang “iblis” dalam lagu tampil penuh wibawa. Bukankah itu mirip politisi di panggung kampanye? Mereka tampil elegan, menyusun pidato indah, dan menata janji seakan semua persoalan bangsa bisa selesai dalam lima tahun. Penampilan luar seakan menjamin kebaikan hati, padahal justru di balik kerapian itu tersimpan agenda pribadi. Sama seperti iblis dalam lagu, senyum manis hanyalah kedok untuk merampas sesuatu yang berharga.
Si pria dalam lagu bahkan menolong, memberi kesan ‘penyelamat’. Begitu pula para politisi yang rajin berkata, “kami akan turunkan harga,” “kami akan lindungi rakyat,” “kami hadir untuk kesejahteraan semua.” Mereka tampil bak pahlawan, tapi pada akhirnya rakyat hanya bisa meraba isi tasnya yang kosong melompong. Persis seperti perempuan dalam lagu, rakyat dikecewakan janji yang hanyalah kedok, realitas yang tersisa adalah kekecewaan.
Pesan Marino sederhana sekaligus pedih menggigit, agar kita jangan sampai terkecoh. Iblis bisa datang dengan wajah manis, senyum memikat, bahkan tutur kata yang menenangkan. Dan bukankah itu sama dengan wajah politik kita? Lima tahun sekali, rakyat disuguhi pesta demokrasi dengan kembang api janji dan pesta baliho. Kemudian lima tahun berikutnya, rakyat menagih dan hanya mendapat jawaban bertele-tele. Seperti lingkaran setan, siklus itu terus berulang.
Demokrasi sejatinya bukan sekadar soal memilih siapa yang paling manis di baliho atau siapa yang paling lancar berpantun di panggung kampanye. Demokrasi adalah ruang untuk menagih, mengkritisi, dan memastikan janji itu ditepati. Jika rakyat hanya berhenti di bilik suara, maka rakyat tak ubahnya perempuan yang membiarkan isi tasnya dicuri tanpa perlawanan. Kalau tidak ada sikap kritis, ya begitulah rakyat akan terus pulang dengan tas kosong, sementara para elit sibuk menghitung isi dompet kekuasaan.
Bayangkan jika setiap janji benar-benar ditepati. Pendidikan gratis tak hanya jadi jargon, tapi hadir di sekolah desa. Harga pangan stabil, bukan sekadar wacana saat debat televisi. Lapangan kerja benar-benar terbuka luas, bukan hanya tercatat rapi di laporan resmi. Sayangnya, realita jauh dari imajinasi itu. Yang kita lihat justru gedung-gedung megah, jalan tol baru, tapi di baliknya masih ada rakyat kecil yang tidak merasakan apa-apa.
Marino menutup lagunya dengan baris getir, “A smile so bright, he’s the devil in disguise.” Dan mungkin, tanpa sadar, lirik itu bukan cuma tentang cinta yang menipu, tapi juga potret negeri ini, negeri yang penuh senyum politisi. Pertanyaannya kini sederhana, kita mau terus jadi perempuan dengan tas kosong, atau akhirnya sadar dan memegang erat dompet demokrasi kita sendiri?
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment