Home Kabar Kampus Fakultas Psikologi USU Gelar Kuliah Praktisi, Kupas Analisis Bahasa Tubuh dan Mikroekspresi
Kabar Kampus

Fakultas Psikologi USU Gelar Kuliah Praktisi, Kupas Analisis Bahasa Tubuh dan Mikroekspresi

Share
Dokumentasi: Suara USU

Reporter: Alya Nayla Sahirah, Christy Cherina

Suara USU, Medan. Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar kuliah praktisi untuk mata kuliah Observasi dan Wawancara pada Sabtu, 30 Agustus 2025 melalui zoom meeting. Acara yang berlangsung mulai pukul 09.45 hingga 11.35 WIB ini menghadirkan Monica Kumalasari sebagai narasumber. Monica merupakan analis gestur dan mikroekspresi sekaligus anggota Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (APSIFOR). Ia dikenal luas karena kerap diminta pandangannya oleh media nasional dalam isu-isu penting, mulai dari debat capres, persidangan kriminal, hingga pidato kenegaraan.

Acara ini dibuka dengan kata sambutan Indri Kemala Nasution, S.Psi., M.Psi., selaku sekretaris program studi. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kuliah praktisi diadakan agar mahasiswa tidak hanya memahami teori yang diajarkan dalam kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktik secara langsung. Sesi diskusi kemudian dipandu oleh Suri Mutia Siregar, M.Psi., Psikolog, selaku salah satu dosen pengampu mata kuliah Observasi dan Wawancara.

Dalam pemaparannya, Monica membawakan tiga topik utama, yaitu bahasa tubuh dalam komunikasi interpersonal, tanda-tanda berbohong saat wawancara, serta strategi menciptakan first impression yang baik dalam interaksi sosial. Ia menekankan bahwa analisis gestur dan mikroekspresi tidak bisa dilakukan hanya dari sebuah foto, melainkan perlu memperhatikan konteks, ekspresi, dan adanya konsistensi komunikasi. Ia juga menyebutkan, bahwa tubuh manusia adalah “lie detector” yang sangat handal karena memiliki lima kanal utama untuk membaca kejujuran maupun kebohongan. “Ada lima channel tubuh kita yang dapat digunakan untuk mendeteksi apakah seseorang itu jujur ataukah berbohong. Yang pertama dari facial expression, kemudian body language, voice, verbal style, dan verbal content,” jelas Monica.

Tidak hanya itu, Monica juga memaparkan materi mengenai tujuh emosi universal, yakni surprise, fear, anger, disgust, contempt, sadness, dan happiness. Ia mengupas satu per satu ciri khasnya melalui raut wajah, sekaligus menjelaskan bagaimana emosi tersebut muncul dari pergerakan 43 otot yang ada di wajah manusia.

Kegiatan ini berlangsung dengan sangat interaktif. Sejak awal penyampaian, peserta dilibatkan secara langsung, baik melalui tayangan video maupun visualisasi tertentu yang kemudian dianalisis bersama-sama. Mahasiswa diajak untuk mengamati bahasa tubuh, gestur, hingga kontak mata, lalu mendiskusikannya dalam bentuk studi kasus. Antusiasme pun terlihat dari banyaknya peserta yang merespons serta mengajukan pertanyaan-pertanyaan menarik selama sesi berlangsung.

Kesan positif juga datang dari para peserta. Cindy Anastasia mengungkapkan bahwa ia memperoleh pengetahuan baru dan umpan balik langsung selama acara berlangsung. “Aku ngerasa dapat banyak banget ilmu baru dan beberapa tips. Mulai dari cara membaca bahasa tubuh supaya komunikasi lebih nyambung, mengenali tanda-tanda kebohongan saat wawancara ataupun bercerita, sampai tips bikin first impression yang oke. Melalui kuliah ini aku bukan cuma belajar teori, tapi langsung praktik dan dapat feedback real-time,” tuturnya.

Hal senada pun diungkapkan oleh Alexandra Beatrix yang berharap kegiatan serupa bisa terus berlanjut. “Menurut saya kelas seperti ini sangat bermanfaat karena langsung membuka wawasan praktis, bukan hanya teori. Saya berharap ke depan kegiatan seperti ini lebih sering diadakan, bahkan dengan topik lain yang berhubungan dengan keterampilan psikologi terapan, biar kami sebagai mahasiswa semakin siap menghadapi dunia nyata,” ungkapnya.

Di akhir sesi, Suri Mutia Siregar, M.Psi., Psikolog, menyampaikan harapannya agar semakin banyak mahasiswa yang mendalami bidang ini. “Semoga teman-teman tertarik mendalami bidang ini dan akan tercipta pakar-pakar gestur baru dari sini. Semangat untuk terus mempelajari materi ini ke depannya,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Psikologi USU menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga praktik langsung. Dengan menghadirkan praktisi di bidangnya, mahasiswa diharapkan lebih siap mengembangkan keterampilan psikologi terapan yang relevan dengan kebutuhan di dunia nyata ke depannya.

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.