
Oleh: Angelica Maria
SuaraUSU, Medan. Aku terbangun pukul 5 pagi dan menyadari bahwa nyatanya semua masih sama seperti sebelumnya, sebanyak apa pun mengeluh. Aku memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur lalu sepakat pada diri sendiri untuk memulai hidup untuk lebih baik lagi. Setelah bersiap pergi ke sekolah, aku turun ke bawah dan sarapan. Sunyi, hanya ada bibi yang menaruh sarapan. Pada akhirnya aku akan makan sendiri seperti biasa karena mereka pasti makan kertas pekerjaan mereka sendiri. Bibi orang yang baik, dia mau menemani aku makan lalu aku melukis wajah tulusnya dan bibi bilang kalau dia menyukainya.
Memulai hari dengan perasaan yang kacau sungguh tidak menyenangkan, aku harus tetap bersikap baik-baik saja karena pada akhirnya tidak semua orang bisa memahami. Mereka bilang kepadaku, kalau mereka ingin menjadi seperti aku. Percayalah bahwa semua hal yang terlihat nikmat dan menyenangkan nyatanya menjadi luka yang paling dalam. Kalau seandainya Tuhan beri aku pilihan lain maka aku akan memilih yang lain daripada harus seperti ini.
Apa boleh sedikit saja mengeluh pada Tuhan?
Menjadi anak tunggal yang takdir yang telah digariskan secara permanen membuat diri ini kalang kabut setiap saat.
In Another life
Aku tidak mau jadi anak tunggal lagi
Pundak ini terlalu rapuh untuk menampung harapan orangtua yang semakin membesar, orang lain juga berpikir demikian. Langkah kaki yang semakin lama semakin berat. Akal sehat yang semakin lama tidak seimbang lagi. Harus seperti apa lagi aku mempertahankan ini semua?. Aku terdiam di sudut ruangan kecil di dekat kelas. Apa harus segila ini untuk memikirkan semua tentang masa depan yang abstrak. Jam akhir pelajaran nyatanya membuat aku semakin pusing.
“Hey,” ujar Anna sambil membuat aku kaget.
“Astaga, bisa kan gak usah bikin orang kaget,” ujar-ku sedikit kesal
“Habisnya sih kamu melamun, emang mikirin apa sih?” Anna bertanya dengan hati hati, mungkin takut kalau aku tersinggung.
Aku bertatapan dengan Anna, mungkin dia khawatir dengan aku dan itu sedikit membuat hati tenang karena setidaknya ada yang perhatian padaku. Aku berusaha menjelaskan bahwa semuanya berjalan dengan baik walaupun Anna tidak percaya sepenuhnya namun dia tetap mengangguk supaya aku tetap nyaman dekat dengan dirinya. Kami sempat diam dan sedikit canggung, Anna akhirnya mengajak aku ke kelas karena guru sebentar lagi akan datang. Sepanjang kelas berjalan dan yang aku lakukan hanyalah melamun sampai jam mata pelajaran selesai.
“Kamu kenapa, Agatha?” Anna bertanya karena dia menyadari bahwa aku melamun di pelajaran tadi.
“Aku hanya memikirkan sedikit saja tentang suatu hal,” aku menjawab dengan baik agar dia percaya padaku dan tidak menuntut penjelasan lebih, sebab aku mau pulang ke rumah dengan cepat.
“Kalau ada sesuatu yang tidak enak di hati, Agatha boleh bilang yah,” Anna berkata dengan nada khawatir dan aku hanya mengangguk sembari mengucapkan salam perpisahan kepadanya lalu dia melambaikan tangannya dan aku membalasnya.
Dari banyaknya orang di dunia
Aku akan tetap memilih Anna
Aku melukis wajah cantiknya
Dan beberapa orang penting di hidupku
Aku sampai rumah dam melihat mobil hitam milik ayah dan ibu terparkir di halaman luas. Mengapa mereka di sini, sungguh hal yang aneh sebab mereka jarang seperti ini. Apa mereka ingin makan siang denganku? aku senang dan membayangkan betapa hangatnya kami ketika makan siang bersama. Makan bersama adalah impianku karena kami jarang melakukannya dikarenakan mereka sibuk. Mereka selalu sibuk dengan uang mereka. Aku tahu mereka bekerja keras untuk semuanya terutama untuk aku. Tapi percayalah bahwa yang mereka lakukan terlalu berlebihan. Aku ingin berkumpul bersama orang tua dan bersikap layaknya keluarga yang baik. Memandang rumah yang nyatanya sangat sepi dan sunyi, aku benar benar seperti di penjara. Bolehkah sekali saja mereka bersikap seperti orang tua yang baik.
Aku butuh waktu
Bukan uang mereka
“Ibu, ayo makan siang bersama,” aku berkata pada ibu dengan nada riang berharap bahwa ayah dan ibu mau mendengarkan ceritaku. Tetapi aku kaget karena ayah berjalan keluar sambil mengangkat telepon.
“Sayang, ayah dan ibu ada pertemuan dengan klien. Makan siang kita tunda yah. Ibu dengar kamu akan ujian matematika besok. Ibu mau kamu dapat nilai seratus, jangan lupa untuk pergi les pada jam 3 sore. Mas Agus akan jemput kamu nanti,” Ibu berkata dengan jelas sambil terburu-buru keluar. Aku melihat mobil hitam itu keluar dari pagar dengan cepat, memang mereka selalu seperti itu. Aku terdiam dengan air mata yang sudah mengalir, sakit sekali rasanya. Aku menutup pintu dan berlari ke kamar. Mereka bahkan tidak pernah bertanya mengenai apa yang sudah terjadi selama ini. Aku memandang lukisan yang tergeletak di sudut kamar, Ada yang bagus dan ada yang rusak. Ayah merusaknya karena menganggap bahwa lukisanku mengganggu prestasiku di sekolah. Ayah dan ibu mana mengerti tentang ini, mereka mengerti hanya tentang uang dan bekerja.
Mereka hanya peduli pada nilaiku
Aku menangis dengan suara yang nyaris tidak ada, mengeluarkan amarah yang ada. Foto keluarga itu, terpampang nyata di dinding. Suram rasanya ketika melihatnya hingga suara bising dari anak perempuan terdengar sampai ke kamar lalu aku pergi melihatnya dan membuak tirai jendelaku. Seorang anak perempuan yang dijemput oleh ayah dan ibu, dia ceria dan tertawa. “Ayah, nanti adik mau pergi makan lagi ditempat itu,” ujar anak itu sambil masuk rumah dan orangtuanya tertawa gemas sambil mengeluarkan belanjaan.
Terlihat sama namun berbeda
Aku redum
Dia nirmala
Sekarang semakin aku sadar bahwa di setiap tangisan serta sakit hati yang dirasakan bahwa ayah dan ibu tidak pernah memelukku. Di setiap titik kesepian, aku hanya punya diriku sendiri. Mereka bilang padaku untuk selalu menjadi orang yang hebat, hanya karena aku adalah anak satu-satunya dari mereka. Mereka menuntut aku untuk lebih dari mereka tapi mereka bahkan tidak punya waktu untuk aku. Mereka berhasil menjadi suami dan istri yang baik namun untuk menjadi orang tua, mereka gagal.
Mereka sibuk bekerja
Sampai mereka lupa
Aku juga butuh mereka
Aku memandang semua lukisan dengan kesedihan, aku melukis orang penting dihidupku dan orang tuaku bukan hal yang penting. Tanpa sadar aku tertidur setelah menangis hebat dan paling buruknya aku melupakan makan siangku.
Suara pintu diketuk dengan keras, membangunkanku. Aku memutuskan untuk bangun dan membuka pintu dan terkejut karena melihat ayah dengan raut wajah yang marah.
“Kenapa kamu melewatkan jam les kamu!” ujar ayah marah. Aku jujur dengan kenyataan aku semakin takut dengan ayahku sendiri lalu menyadari bahwa ini sudah jam 7 malam. Aku ketiduran selama 3 jam.
“Kamu tahu kan, kamu harus bisa jadi orang sukses. Kamu cuma anak satu-satunya yang kami punya. Kami sudah bekerja keras selama ini dan itu semua untuk kamu. Kamu harus bisa melebihi ayah dan ibu. Kamu marah pada ayah dan ibu hanya karena tidak bisa menemani kamu makan siang. Bersikap dewasalah, Agatha!” ujar ayah dengan tegas. Aku terdiam, ayah bilang aku bersikap seperti anak kecil sedangkan dia bahkan tidak pernah memahamiku dengan baik. Aku selalu disuruh seperti itu, aku selalu mengikuti ke manapun dan apa pun yang mereka mau tapi mereka bilang aku tidak dewasa. Sungguh, ini sangat mengecewakan dan menyedihkan.
“Ayah bilang aku bersikap seperti anak-anak. Apa ayah pikir ayah sudah menjadi orang tua yang baik? Ayah adalah ayah yang paling buruk yang pernah ada di dunia!” ujarku dengan air mata mengalir, aku tidak peduli pada perasaan mereka. Aku hanya peduli pada perasaan sendiri yang mereka bilang seperti anak-anak.
“Ayah seperti ini, karena mau kamu mendapatkan yang terbaik. Ayah bekerja untuk kamu dan seharusnya kamu tahu diri untuk semua ini. Kalau bukan karena kerja ayah dan ibu, kamu hidup dengan status yang lebih rendah dari ini. Jangan bersikap lantang Agatha, ingat kamu itu masih anak ingusan yang bergantung pada ayah dan ibu. Kamu tidak bisa hidup hanya dari kertas kanvas itu,” ayah berkata demikian lalu menutup pintu dengan keras. Aku benar benar tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan ayah. Aku membenci ayah di seumur hidupku. Aku menangis dan meratapi kenapa aku harus hadir di keluarga ini, kenapa aku harus jadi anak tunggal kesepian di rumah ini.
Pintu terbuka dan aku melihat ibuku masuk. Ibu duduk di sebelahku dan berkata bahwa aku tidak boleh melawan ayah. Hanya karena aku mengungkapkan apa yang aku rasa, aku dibilang melawan. Sejatinya perasaan ini memang tidak ada artinya bagi mereka.
“Aku selalu melakukan apa pun yang kalian mau. Aku les piano, aku tetap lakukan walaupun aku tidak suka. Aku les matematika, aku lakukan walaupun aku tidak suka. Aku ikut les bahasa mandarin, aku tetap lakukan walaupun aku tidak. Semua hal yang aku tidak suka, aku lakukan untuk kalian. Aku melakukan sesuatu yang aku tahu itu bukan diri aku selama ini. Tetapi kalian bahkan tidak ada waktu luang untuk aku. Kalian selalu saja sibuk dan aku selalu berusaha memahami. Kapan kalian akan mengerti tentangku!” aku mengeluh pada ibu dan berharap mereka, setidaknya untuk ibu. Muak juga terlalu lama dalam diam.
“Memang sudah seharusnya seperti itu, kamu adalah anak tunggal perempuan. Kalau bukan kamu, siapa lagi Agatha. Ibu mengerti dengan apa yang kamu rasakan. Ayah dan ibu minta maaf tetapi pahamilah bahwa ini semua demi kamu. Tentang jurusan kuliah, kamu nanti ambil jurusan kedokteran supaya kamu sejalan dengan ayah dan ibu,” ibu berkata seperti itu.
“Ibu bisa tidak dengarkan keluh kesah Agatha sebentar saja,” aku berkata dengan nada memohon berharap ibu mau melakukannya. Suara dering telepon masuk dan aku tahu bahwa ibu lebih memilih berbicara dengan rekan bisnis dibanding aku.
Uangnya jauh lebih penting daripada anaknya
Tanpa sadar aku meremas hasil ujianku yang mendapatkan nilai sempurna, sungguh aku tidak punya hasrat untuk bilang pada ibu. Ayah dan ibu sama saja, aku mengerti kenapa mereka menikah. Sesaat Agatha baru ingat kalau jendela tirai kamarnya belum ditutup. Ia segera menutup tirai dan tatapan nya matanya tertuju pada jendela yang menyala. Dia melihat bahwa keluarga itu makan malam dengan harmonis dan penuh canda tawa. Aku menatap mereka tanpa sadar melamun.
“Agatha, ayo makan. Ayah dan ibu menunggu di bawah,” ujar ibu dan langsung menutup pintu. Aku melirik ibu sebentar, sedikit heran tapi tetap melangkahkan kaki. Setidaknya kami pernah makan bersama walaupun aku tahu bahwa suasana akan canggung.
Tibanya aku di meja makan dan melihat mereka duduk, aku tahu bahwa ini bukan firasat yang baik dan berharap semoga semuanya berjalan dengan mulus. Kami makan malam dengan canggung dan aku sudah duga sebelumnya.
“Kamu tahu kan, milih jurusan apa?” ayah berkata denganku setelah kami menyelesaikan makan.
“Kamu tahu kan, kalau kamu harus masuk universitas terbaik di Indonesia. Keluarga kita terpandang. Ayah dan ibu tidak mau malu karena harus menanggung kekalahan SNBP kamu. Ingat kamu harus ambil jurusan kedokteran dan harus masuk. Ingat kamu anak Tunggal dan harus membalas jasa orang tua yang membesarkan kamu,” ujar ibu dengan khawatir dan percayalah bahwa itu sangat memuakkan. Setidaknya, pembahasan ini dilakukan setelah makan siang dan aku tidak perlu menahan mual. Mereka selalu khawatir dengan orang lain tapi tidak pernah khawatir dengan aku.
“Aku tidak bisa berjanji, tetapi aku akan berusaha. Apapun hasilnya, ayah dan ibu harus menerima dengan lapang dada. Aku kembali ke kamar. Aku yang mengerti diriku bukan kalian. Satu lagi, aku juga gak mau lahir dkeluarga ini. Permisi,” aku berkata dengan tegas dan tidak peduli dengan reaksi mereka. Mereka terdiam dan mungkin marah dengan jawaban pasrah dari anak mereka sendiri.
“Seperti itu cara berbicara dengan orang tua kamu, Agatha!” ayah berkata dengan jengkel dan aku tidak peduli. Aku berjalan menuju tangga. “Ibu tidak mengerti kenapa kamu bersikap tidak sopan seperti ini,” ujar ibu dengan kecewa. Aku juga tidak mengerti mengapa mereka bersikap sok peduli seperti ini. Aku sungguh heran dengan sikap mereka yang tiba-tiba ini karena aku paham bahwa ini bukan mereka sama sekali.
“Jadi, ayah dan ibu mau aku seperti apa. Aku selama ini melakukan yang ayah dan ibu inginkan. Aku bahkan tidak mengikuti apa pun yang aku inginkan dan kalian bilang aku tidak sopan!” aku berkata dengan nada marah bercampur heran karena merasa mereka tidak masuk akal.
“Apa yang kamu harapkan dari lukisan yang ada di kamar kamu? kamu berharap sukses yang dari kertas yang tidak berguna seperti itu,” ayah berkata dengan sepele. Aku marah karena ayah bilang kanvas itu tidak berguna. Mereka hanya tidak mengerti seni.
“Itu sangat berguna untuk aku. Ayah dan ibu tahu apa tentang lukisan. Ayah dan ibu pikir sudah tahu tentang Agatha? Kalian bahkan tidak peduli dengan perasaan Agatha. Jadi sebelum menghakimi lebih baik diam saja,” aku berkata demikian agar mereka mengerti bahwa aku menyukai lukisan bukan bermain piano seperti orang yang hilang arah hidup.
“Lantang kamu berbicara seperti itu pada orang tua kamu, dari mana kamu belajar etika yang tidak baik. Kamu kalau tidak lahir dari keluarga ini, kamu bukan siapa siapa!” ibu berkata demikian karena kaget setelah aku diam selama ini.
“Iya, ibu punya masalah tentang hal itu. Kapan rumah ini disebut keluarga,” ujar ku.
“Jaga bicara kamu Agatha, kamu gak lihat perjuangan kami selama ini. Kamu hanya perlu melakukan apa yang kami bilang. Bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Kalau kamu belum bisa menjadi anak yang baik dan berprestasi maka diamlah. Kamu pikir kamu siapa bisa bicara seperti itu.” ibu berkata seperti itu dan dia lupa apa yang telah mereka lakukan.
“Aku bukan anak yang baik? Wah hebat sekali yah setelah apa yang aku lakukan selama ini. Aku ikut semua yang kalian mau, aku masuk jurusan IPA juga itu yang kalian inginkan, bukan yang aku mau. Apa ada pengertian dari ayah dan ibu?” aku menatap mereka yang mungkin akan marah sebentar lagi.
Mungkin mereka menganggap aku anak yang bebal dan tapi aku tidak peduli, Aku mau hidup tanpa tekanan dari mereka. Aku sudah lelah berada di posisi ini, dipojokkan dengan tidak etisnya mereka anggap apa aku ini?.
“Itu sudah kewajiban kamu, Agatha. Kamu pikir membesarkan anak itu mudah apalagi anak yang tumbuh seperti kamu. Kamu jadi bebal seperti ini, ayah dan ibu sudah mengatur yang baik tapi kamu melawan,” ujar ayah dengan marah.
Aku paham bahwa sebenarnya ada pembalasan budi atas apa yang mereka lakukan. Tapi mereka pikir bahwa mereka sudah jadi orang tua yang baik. Aku akan teriak paling kencang kalau mereka adalah
Ayah dan ibu yang kurang berhasil
“Kalau kamu bisa hidup sendiri dan merasa tidak perlu ayah dan ibu. Silakan angkat kaki dari rumah ini. Ayah lebih baik tidak punya anak daripada punya anak tapi membangkang seperti kamu. KELUAR DARI SINI!” ayah berkata dengan lantang walaupun aku tahu bahwa ibu sedikit khawatir dengan ucapan ayah. Ibu khawatir karena balas budi karena telah menghabiskan uang mereka belum aku lakukan, dia mungkin rugi dengan nominal yang keluar selama merawat aku.
“Baik, aku akan keluar dari rumah. Buktikan bahwa ayah dan ibu bisa hidup tanpa anak yang bebal seperti aku,” aku berkata seperti itu dan langsung pergi ke kamar. Aku menyiapkan baju dan barang yang aku butuhkan. Aku akan menelepon Anna dan menginap dirumahnya.
“Anna, aku menginap di rumahmu yah,” aku berkata kepada Anna berharap dia tidak risih dengan ucapanku.
“Oh .. boleh, datang saja nanti yah, kebetulan orang tuaku pergi jadi aku butuh teman,” ujar Anna bahagia.
“Terima kasih Anna,” aku berkata dengan tulus dan dia membalas dengan nada yang lucu. Aku akan tinggal sebentar dirumah Anna dan pergi dari rumah ini. Lihat saja sejauh mana mereka tidak membutuhkan aku. Sejauh mana mereka mengabaikan aku, lihat aku memberontak sedikit saja mereka terkejut apalagi jika aku tidak berada di rumah ini.
Aku tersenyum sekali lagi karena bahwasanya Anna masih peduli dan perhatian padaku. Aku akan menceritakan semuanya padanya mengenai orangtuaku dan aku yang menginap di rumahnya. Aku menyadari bahwa di setiap takdir yang dituliskan bahwa aku harus mengerti dengan alur kehidupan. Harus ada lapang dada untuk memahami orang lain dan mengerti di setiap kehidupan, bahwa kamu tidak bisa mengendalikan orang lain. Di kehidupan lain, aku berdoa pada Tuhan untuk kehidupan yang lebih layak dan lebih baik serta orangtua yang bijak.
Untuk Anna dan bibi, aku berharap mereka baik-baik saja dan terima kasih atas kebaikan mereka yang sungguh tulus rasa. Bangga rasa bisa mengenal mereka dengan baik dan mempunyai sosok seperti mereka di hidup ini.
Redaktur: Fatih Fathan Mubina
Leave a comment