
Oleh: Rosani Margaretha Samosir
Kampus itu menyambut pagi seperti dada kosong yang menunggu detak baru. Burung-burung bertengger di ranting pohon sepanjang jalan, beberapa lainnya mendarat ke arah mahasiswa yang berkerumun di depan papan pengumuman rektorat, tempat setiap nama seolah menjadi takdir. Kertas putih terlihat gagah tertempel di balik kaca berembun, berisikan daftar penerima program bantuan kuliah tahun ini. Setiap hurufnya kaku, resmi, dan tak bisa diganggu oleh apapun.
Bima berdiri agak jauh dari papan pengumuman. Ia mengenakan kemeja berwarna cokelat yang telah memudar, dengan ujung sepatu tuanya menganga lebar. Dari jarak itu, ia bisa melihat wajah-wajah penuh harap, tangan-tangan yang menelusuri daftar nama, bibir yang merapal pengharapan dalam bentuk do’a. Ia mulai membaca pelan rentetan nama yang dijajarkan dalam kertas pengumuman. Namun, sampai urutan terakhir, ia tak menemukan namanya tersemat di antara nama penerima lainnya. Hanya barisan nama yang sebagian ia kenal dari wangi parfum mahal di kelas, atau dari deru mobil yang berhenti tepat di depan gerbang kampus. Di sakunya hanya ada uang pas untuk makan malam, tapi di pikirannya ada pertanyaan yang jauh lebih lapar.
“Lucu, yang lapar disuruh menunggu, yang kenyang ditambah lauk,” begitu terbersit dalam benak Bima.
Di sebelahnya, dua mahasiswa sedang bercakap pelan, suaranya setengah berbisik.
“Eh, Galang keterima program itu ya? Padahal motornya baru, rumahnya juga wihh mirip istana.”
“Ya begitulah, yang miskin memang sering disuruh maklum.”
Percakapan beberapa mahasiswa di sekitarnya terus menelisik masuk ke telinga Bima. Kalimat itu menampar ia lebih keras dari angin. Bima memutuskan berjalan meninggalkan kerumunan, langkahnya menimbulkan jejak kecil di tanah basah. Di sepanjang jalan menuju kos, wajah-wajah gembira masih melintas, beberapa sibuk menelpon orang tua, beberapa lainnya terlihat antusias berfoto di depan papan pengumuman. Bima tersenyum kecil, tapi di dadanya ada kekosongan yang sulit dijelaskan.
Kamar kosnya sore itu berbau lembab dan pengap, mata Bima menelusuri sebersit langit yang mengintip di balik jendela. Langit di luar tampak memerah malu-malu, seolah pelan menertawakan wajah Bima yang sejak tadi merutuk lebih menyeramkan dari penyihir jahat di kisah-kisah dongeng. Kipas angin berdecit, cahaya lampu redup memantul di toples berisi uang logam, tabungan kecil dari hasil bekerja paruh waktu miliknya.
Bima membuka laptop tuanya yang sering berdesis sebelum menyala. Di layar, berita kampus menulis: Seleksi Program Bantuan Kuliah Dilakukan secara Objektif dan Transparan. Objektif dan transparan, dua kata yang terdengar sangat akademis dan juga diselipi misteri. Bima membaca kalimat itu berulang kali, mencari celah di antara huruf-hurufnya seolah berharap masih ada ruang kecil bagi kejujuran untuk menyelinap. Sayangnya, kalimat itu kokoh seperti tembok yang dibangun dari logika tanpa hati, seolah tidak ada celah bagi kemerataan untuk tercipta.
Bima menarik napas panjang. Mungkin beginilah cara keadilan bekerja di dunia nyata, bukan soal siapa yang paling membutuhkan, tapi siapa yang paling pandai terlihat pantas. Kadang ia merasa, keadilan punya harga, dan harganya dibayar dengan berkas-berkas yang rapi, data yang dipoles, atau senyum yang tahu harus diarahkan ke siapa. Sedangkan orang sepertinya, yang hanya membawa kejujuran tanpa hiasan, selalu dianggap kurang layak untuk dibela.
“Mungkin dataku hilang di antara tanda tangan atau mungkin aku terlalu nyata untuk dihitung,” gumam Bima.
***
Malam perlahan turun menghampiri kota tempat Bima menimba ilmu. Hujan mengetuk genteng seperti jarum jam yang ragu-ragu berdetak. Bima menatap ponsel tuanya, layar yang mulai buram tapi masih cukup terang untuk menampilkan perayaan orang lain. Di sana, orang-orang sedang merayakan bantuan yang seharusnya bukan untuk mereka.
“Katanya untuk yang kurang mampu,” gumam Bima
“Mungkin maksudnya, kurang mampu bersyukur.” Bima meluruhkan ujaran yang sejak lama telah menaungi hatinya yang berat. Ia tertawa pelan pada dirinya sendiri, tawa yang pahit dan berkarat.
Hidup memang pandai bercanda. Kadang keadilan hanya perlu pandai menimbang arah mata angin mana yang hendak dituju. Bima membetulkan duduknya di depan laptop, menatap layar dengan tatapan hampa. Namun, siapa yang tahu apa yang ada di kepalanya. Kata-kata mulai deras menetes seperti air hujan yang tengah jatuh ke bumi yang sama dengan kepedihan Bima tersimpan.
“Di negeri yang mencatat kemiskinan lewat angka, kejujuran sering tak punya kolom. Barangkali sistemnya sudah benar, hanya saja manusianya yang miring,” lantang Bima berujar pada dirinya sendiri.
Bima mengetik tanpa rencana, membiarkan jemarinya bermain dalam kemelut hati yang mengharapkan keadilan. Tulisan itu bukan gugatan, bukan pula keluhan, melainkan kesaksian dari seseorang yang masih percaya bahwa diam adalah bentuk kematian yang paling halus.
***
Seminggu kemudian, tulisan itu muncul di mading digital kampus. Komentar berdatangan, ada yang memuji keberanian penulisnya, ada yang mencemooh, ada pula yang sekadar menertawakan. Meskipun begitu, setiap kali membaca ulang tulisannya, Bima merasa ada sesuatu yang pulih di dalam dirinya, seperti luka yang menolak membusuk.
Beberapa hari berselang, pesan datang dari fakultas. Ia diminta segera menghadap dekan fakultasnya. Bima bergegas menuju ruang dekanat fakultas, ruangan yang dingin, dengan aroma kopi dan kertas laporan yang khas. Lelaki paruh baya yang merupakan dekan fakultasnya, sejak tadi telah lekat menatap Bima, menggerus sebagian sisi rambutnya seperti menimbang kata-kata yang ingin dilontarkan. Wajahnya tidak mudah terbaca, tetapi tidak ada amarah yang Bima lihat di sana.
“Tulisanmu, membuat banyak orang gelisah. Tapi terkadang gelisah itu perlu. Saya ingin kau tahu, ada seseorang di luar sana dari sebuah yayasan kecil yang ingin membantumu. Katanya, terinspirasi oleh keberanian seorang mahasiswa yang menulis kebenaran tanpa sembunyi.”
Bima menunduk setelah mendengar ucapan itu. Ia tidak menangis, tapi dadanya terasa hangat seperti hujan yang akhirnya reda setelah terlalu lama jatuh. Bima memandang lurus lelaki paruh baya di hadapannya, seulas senyum hadir di wajahnya. Namun, di dalam dirinya, rasa syukur dan getir bercampur jadi satu. Karena pikirnya, di negeri ini terkadang kebenaran baru diakui setelah membuat orang tak nyaman.
***
Hari berganti minggu, minggu bertukar jadi bulan. Di papan pengumuman semester baru, Bima melihat namanya lagi. Bukan di daftar penerima program bantuan, bukan di bawah logo kementerian, tapi di lembar kecil di sisi kanan bertuliskan: Penerima Beasiswa Integritas atas Dedikasi dan Keberanian Menyuarakan Kejujuran. Ia menatap pantulan dirinya di kaca. Rambutnya lembut diterpa angin sore, matanya letih tapi tenang. Ia melirik sepatu tua miliknya yang sempat menganga lebar, kini telah tertutup jahitan rapi tukang sepatu dekat kampus, tetap setia menemani langkahnya.
“Kadang yang tertinggal di data justru yang tercatat di sejarah kecil manusia.” Di antara suara daun dan tawa mahasiswa yang menghampiri papan pengumuman, Bima berbisik pelan.
Ia menatap sekali lagi papan pengumuman itu, kaca yang kini tak lagi tampak kejam, melainkan jujur. Dalam pantulan itu, ia melihat dirinya sendiri, bukan lagi sebagai nama yang hilang, tetapi sebagai orang yang bertahan.
Bima melangkah pelan meninggalkan halaman rektorat. Di belakangnya, papan pengumuman bergoyang ditiup angin, seperti melambaikan perpisahan. Ia tak menengok lagi, karena kini ia tahu tak semua yang tercatat itu adil, dan tak semua yang tak tercatat itu kalah. Beberapa nama memang ditulis dengan tinta, tapi sebagian lain seperti namanya tertulis dengan keberanian.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment