
Reporter: Randani Nabila Desti
Suara USU, Medan. Pihak kepolisian menemukan dua kerangka manusia pada 30 Oktober 2025 di Gedung Astra Credit Companies (ACC), kawasan Kwitang, Jakarta Pusat. Kedua kerangka manusia tersebut ditemukan saat tim teknis melakukan pemeriksaan bangunan di Gedung ACC Kwitang yang sebelumnya terbakar. Berdasarkan hasil uji forensik dari Laboratorium Kedokteran (Labdokkes) Kepolisian Negeri Republik Indonesia (Polri), kedua kerangka tersebut dinyatakan milik Reno Syahputra Dewo (24) dan Muhammad Farhan Hamid (23), dua demonstran yang dilaporkan hilang sejak akhir Agustus 2025 lalu.
Dilansir dari Kompas TV, hasil identifikasi kedua kerangka tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Markas Besar (Mabes) Polri, Brigjen dr. Sumy Hastry Purwanti dalam konferensi pers di RS Polri Kramat Jati pada Jumat (7/11). “Dari hasil pemeriksaan DNA dan odontologi forensik bahwa postmortem 0080 cocok dengan antemortem 002 sehingga teridentifikasi sebagai Reno Syahputradewo. Setelah itu dilakukan pemeriksaan identifikasi primer berupa hasil pemeriksaan DNA dari tulang, nomor postmortem 0081 cocok dengan antemortem 001 sehingga teridentifikasi sebagai Muhammad Farhan Hamid” ungkap Hastry.
Menurut keterangan, Reno dan Farhan terakhir terlihat saat mengikuti aksi demonstrasi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di sekitar Gedung DPR/MPR RI yang meluas hingga kawasan Kwitang pada akhir Agustus 2025. Kerusuhan saat itu menyebabkan sejumlah fasilitas umum rusak, termasuk sebagian gedung ACC Kwitang yang terbakar. Sejak keduanya tidak dapat dihubungi setelah kejadian tersebut, keluarga korban telah membuat laporan kehilangan ke Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).
Laporan BBC News Indonesia menyebutkan, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra turut menjelaskan, bahwa jasad baru ditemukan karena tertimbun material sisa kebakaran. Awalnya, petugas mengira material tersebut adalah reruntuhan biasa, tetapi setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan bagian tulang manusia yang telah menghitam akibat kebakaran. Kerangka yang ditemukan kemudian dibawa ke Rumah Sakit (RS) Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk pemeriksaan lanjutan.
“Jenazah hangus terbakar dan tertumpuk material kebakaran, sementara gedung sudah lama tidak digunakan,” ungkap Roby, dilansir dari BBC News (4/11/25) .
Menyikapi temuan tersebut, Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya, mendesak polisi menindaklanjuti kasus temuan tersebut dengan mengungkap secara menyeluruh apa yang menimpa kedua korban. “Tetapi wajib memastikan adanya proses penyelidikan dan penegakan hukum yang transparan, akuntabel, dan berpihak pada keluarga korban,” tutur Dimas dalam keterangannya kepada BBC News Indonesia.
Selain itu, pihak KontraS juga mendesak Polri untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap metode aparat dalam menangani aksi unjuk rasa agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. Menurut pihak mereka, kasus yang menimpa Farhan dan Reno menunjukkan kegagalan negara dalam memberikan perlindungan kepada warga yang menyampaikan pendapatnya.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment