SUARA USU
Opini

Homesick, Tamu Tak Diundang di Masa Kuliah

Oleh: Jesika Yusnita Laoly

Suara USU, Medan. Homesick atau rindu akan rumah merupakan perasaan yang umum terjadi di antara mahasiswa yang merantau untuk melanjutkan pendidikan di tempat yang jauh dari rumah mereka. Fenomena ini bisa diibaratkan sebagai tamu tak diundang yang hadir tanpa pemberitahuan sebelumnya. Saat homesick datang, muncul beragam emosi yang mungkin sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Homesick menjadi sangat meresahkan ketika timbul rasa rindu yang mendalam akan tempat asal dan orang-orang tercinta di sana. Hal ini menyebabkan para mahasiswa yang merantau seringkali merindukan aroma rumah, suara-suara yang akrab, suasana yang familiar, dan kehangatan keluarga. Rasa ini bisa menjadi sangat kuat, terutama di awal masa kuliah ketika mahasiswa masih beradaptasi dengan lingkungan baru.

Perlu dingatkan, homesick pada dasarnya merupakan sebuah gejala psikologis yang muncul ketika seseorang merasa rindu akan rumah dan lingkungan yang akrab. Ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, seperti jarak fisik dari keluarga dan teman-teman, perubahan budaya yang signifikan, ketidaknyamanan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, serta rasa tidak berdaya dalam menghadapi tantangan akademik dan sosial.

Aspek emosional yang ditimbulkan dari homesick juga bisa sangat beragam, mulai dari rasa kesepian, kecemasan, hingga depresi. Para mahasiswa yang merantau, sering kali mengalami perasaan terisolasi dan tidak terhubung dengan lingkungan sekitarnya, yang dapat memperburuk kondisi homesick mereka. Selain itu, ada juga tekanan untuk berprestasi akademik yang dapat menambah beban emosional mereka.

Homesick juga bisa dipicu oleh perubahan lingkungan dan budaya yang drastis. Para mahasiswa yang merantau mungkin harus berurusan dengan perbedaan bahasa, makanan, serta norma-norma sosial yang berbeda dari yang mereka biasa terima di rumah. Ini dapat menimbulkan perasaan kebingungan, kesepian, bahkan kecemasan akan masa depan.

Oleh sebab itu, penanganan homesick membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Pertama-tama, para mahasiswa perlu menyadari bahwa homesick adalah hal yang wajar dan umum terjadi. Mereka tidak sendirian dalam perasaan ini, dan banyak orang telah mengatasi homesick dengan sukses sebelumnya.

Kedua, mencari dukungan sosial sangat penting. Mahasiswa dapat mencoba untuk terlibat dalam kegiatan kampus atau bergabung dengan kelompok-kelompok yang memiliki minat atau hobi yang sama. Interaksi dengan teman-teman sebaya dapat membantu mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan perasaan terhubung dengan lingkungan baru.

Selanjutnya, menjaga kesehatan fisik dan mental juga merupakan bagian penting dalam mengatasi homesick. Mahasiswa perlu memastikan bahwa mereka makan dengan baik, tidur cukup, dan berolahraga secara teratur.

Selain itu, mereka juga harus menyadari tanda-tanda stres dan mencari bantuan dari konselor atau profesional kesehatan mental jika diperlukan. Terakhir, tetap terhubung dengan keluarga dan teman-teman di rumah dapat membantu mengurangi rasa homesick. Berbicara secara rutin melalui telepon atau video call dapat memberikan mahasiswa rasa dukungan dan kenyamanan dari orang-orang yang mereka cintai.

Dengan demikian menghadapi homesick selama masa kuliah merupakan bagian dari proses adaptasi yang normal bagi mahasiswa yang merantau. Dengan menyadari bahwa perasaan ini adalah hal yang wajar, mencari dukungan sosial, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta tetap terhubung dengan orang-orang tercinta, mahasiswa dapat mengatasi homesick dengan lebih baik dan meraih pengalaman kuliah yang positif.

Redaktur : Evita Sipahutar

 

 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Dosen Telat Dimaklumi, Mahasiswa Telat Dimarahi. Apakah Adil?

redaksi

Pulang Pergi Setiap Hari: Gaya Hidup dan Tantangan Mahasiswa Komuter

redaksi

Apakah Kelas Ganti pada Saat Weekend Efektif untuk Dilaksanakan?

redaksi