
Reporter: Alya Nayla Sahirah Sinulingga, Ines Eliyana Br Ginting
Suara USU, Medan. Program Studi S1 Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumatera Utara (USU) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk History of Medicine: Interdisciplinary Studies pada Jumat (29/08) di Ruang Rapat Senat Akademik USU.
Kuliah umum ini menghadirkan Caroline Schep dari Leiden University sebagai pembicara utama dan dibuka oleh Prof. Budi Agustono, Guru Besar Ilmu Sejarah USU. Acara yang berlangsung pukul 14.00–16.00 WIB ini diikuti oleh mahasiswa lintas angkatan, dosen, hingga akademisi dari berbagai bidang ilmu.
Menurut Muhammad Rasyidin, S.S., M.A., dosen Ilmu Sejarah USU yang juga merupakan moderator acara, kuliah umum ini diselenggarakan untuk memperluas wawasan mahasiswa terhadap kajian sejarah kesehatan yang kini semakin mendapat perhatian di tingkat internasional. Ia menjelaskan, bahwa tema interdisciplinary studies dipilih agar mahasiswa dapat melihat keterhubungan antara sejarah dengan disiplin lain seperti farmasi, biologi, psikologi, hingga sastra. “Tujuan atau alasan utama diadakannya public lecture tentang history of medicine adalah membuka wawasan mahasiswa terutama di bidang sejarah kesehatan. Kita tahu sejarah kesehatan itu saat ini sedang naik daun,” ujarnya.
Kehadiran Caroline di USU tidak terlepas dari jejaring akademik yang dibangun oleh Prof. Budi Agustono dengan Universitas Leiden. Rasyidin menuturkan, kolaborasi tersebut semakin erat setelah pertemuan di seminar internasional History of Medicine in Southeast Asia (HOMSEA) yang berlangsung di UGM pada Juni lalu. Caroline sendiri saat ini sedang melakukan penelitian di Indonesia, termasuk singgah di Medan untuk menelusuri sejarah kesehatan di perkebunan Sumatera Timur maupun jejak rumah sakit dan laboratorium lama.
Dalam pemaparannya, Caroline menekankan bahwa sejarah medis merupakan jendela untuk memahami pengalaman manusia di masa lalu. “I think that is very interesting to think about people like us, maybe 100 ago, maybe 200 years ago, what did they feel when they were sick? How did they think about sickness, about death? What did they do to be healthy?” tutur Caroline.
Sesi diskusi interaktif juga memunculkan pertanyaan menarik dari salah seorang peserta yang bertanya mengenai relevansi mempelajari sejarah kesehatan, mengingat bidang tersebut dianggap tidak begitu berkaitan dengan sejarah pada umumnya. Caroline menegaskan bahwa kajian kesehatan bisa menjadi pintu masuk untuk memahami sejarah secara lebih luas. “I think medical history is the landscill to social history in general. It helps you understand the period and access the daily life of people. Medical history is a good way to start because it affects everyone.” jelasnya.
Lebih jauh, Caroline juga membandingkan kondisi kajian sejarah medis di Eropa dan Asia. Jika di Belanda kajian ini masih tergolong kecil, ia justru kagum dengan antusiasme mahasiswa Indonesia yang aktif menekuni bidang tersebut. Mengakhiri wawancara, Caroline berpesan kepada mahasiswa agar tidak ragu memanfaatkan jejaring sosial maupun lingkungan terdekat ketika melakukan penelitian interdisipliner. Menurutnya, berkolaborasi dengan teman atau keluarga yang memiliki latar belakang berbeda dapat memperkaya pemahaman peneliti terhadap isu-isu kompleks dalam sejarah kesehatan.
Salah satu mahasiswa Ilmu Sejarah angkatan 2022, Della Ananda, merasa termotivasi untuk hadir karena ingin memperluas wawasannya. Ia mengaku menemukan hal baru dari kuliah umum ini. “Saya baru tahu kalau dunia medis itu bisa dikaji dari berbagai sisi, mulai dari psikologi, antropologi, sampai sastra. Bahkan, kita bisa menulis novel atau membuat film yang menjelaskan fungsi obat dalam bentuk karya sastra,” ungkapnya.
Kuliah umum ini tidak hanya memperluas pengetahuan mahasiswa, tetapi juga membuka perspektif baru tentang bagaimana sejarah kesehatan dapat dipahami melalui banyak disiplin ilmu. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Program Studi S1 Ilmu Sejarah USU untuk memperkuat kajian interdisipliner sekaligus menjalin jejaring akademik dengan universitas luar negeri. “Harapan saya acara tadi dapat meningkatkan pandangan mahasiswa tentang sejarah kesehatan dan menanti banyak riset-riset di produsen itu yang mengangkat tentang sejarah kesehatan. Tidak hanya mahasiswa sejarah, mahasiswa fakultas lain, bahkan juga dari kedokteran, farmasi, semoga mungkin next time akan lebih terlibat lagi.” tutup Rasyidin.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment