
Reporter: Syafira Sari, Chairani
Suara USU, Medan. Pada Jumat (29/08) ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus Kota Medan menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Kota Medan. Aksi ini mengusung tema Reformasi DPRD Kota Medan: Bersihkan Lembaga Legislatif dari Praktik Korupsi dan Pengkhianatan Amanah Rakyat. Massa aksi yang berasal dari berbagai organisasi mahasiswa, yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dan Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH), menyuarakan kritik keras terhadap kinerja DPRD yang dinilai sarat dengan praktik korupsi, minim transparansi, dan gagal mengakomodasi kepentingan rakyat.
Sejumlah tuntutan yang dilayangkan meliputi:
1. Mendesak transparansi dan akuntabilitas penuh DPRD Kota Medan dalam seluruh penggunaan anggaran daerah.
2. Menuntut penghentian kegiatan perjalanan dinas dan sosialisasi yang diduga hanya menjadi modus memperkaya diri dan kelompok.
3. Segera sahkan RUU Perampasan Aset dan RUU Masyarakat Adat sebagai bentuk komitmen negara terhadap keadilan hukum dan hak-hak masyarakat adat.
4. Menolak dengan tegas tindakan represif aparat terhadap mahasiswa dalam menyampaikan pendapat di muka umum. Negara wajib menjamin kebebasan berekspresi.
5. Menolak kenaikan gaji dan tunjangan DPR di tengah krisis ekonomi masyarakat. Kami mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap penghasilan anggota legislatif dengan mempertimbangkan asas keadilan dan kepantasan.
6. Segera tingkatkan kesejahteraan guru honorer di Kota Medan, baik dari segi gaji, status, dan perlindungan kerja. Pendidikan harus menjadi prioritas, bukan beban bagi para pendidiknya.
Sekitar pukul 16.57 WIB, massa sempat menyanyikan lagu perjuangan bertajuk Buruh Tani yang dipimpin oleh seorang perempuan dari HMI, setelah rangkaian orasi berlangsung. Suasana sempat memanas ketika aparat kepolisian dengan helm dan perlengkapan lengkap tiba di lokasi. Seruan hati-hati terhadap intel kepolisian terdengar dari kerumunan massa.
Puncak ketegangan terjadi pada pukul 17.03 WIB ketika aparat kepolisian mendatangi titik massa aksi di DPRD Kota Medan. Meskipun situasi sempat memanas, mahasiswa tetap menegaskan bahwa aksi mereka bukan sekadar simbolis, melainkan bentuk perlawanan kolektif untuk mengawal amanah rakyat.
Melalui aksi ini, Cipayung Plus Kota Medan menegaskan bahwa jika tuntutan mereka tidak segera ditanggapi secara serius, maka konsolidasi gerakan akan terus dilakukan dengan skala yang lebih besar. Mereka menyerukan reformasi DPRD Kota Medan sebagai langkah penyelamatan anggaran daerah dari kebocoran dan korupsi, sekaligus memastikan amanah rakyat tidak lagi dikhianati.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment