Home Tulisan Intervensi Sosial di Panti Asuhan Cinta Kasih
Tulisan

Intervensi Sosial di Panti Asuhan Cinta Kasih

Share

Oleh: Khairunnisa Nabila Syahputri/Jihan Hafiza Batubara/Kania Nadine Rahel Simatupang 

Suara USU, Medan. Kesejahteraan sosial anak-anak panti asuhan menjadi fokus utama dalam upaya mengatasi masalah keterlantaran dan kekurangan perhatian yang sering dialami mereka. Panti Asuhan Cinta Kasih di Jl. Sei Brantas No. 70, Babura Sunggal, Kec. Medan Sunggal hadir sebagai tempat perlindungan, pendidikan, dan pengembangan sosial bagi anak-anak yang ditinggalkan atau berasal dari lingkungan kurang menguntungkan. Salah satu metode untuk meningkatkan kesejahteraan sosial adalah intervensi sosial, yang bertujuan memberikan dukungan emosional dan memperbaiki interaksi sosial mereka.

Dalam program intervensi ini, kegiatan mewarnai dipilih sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas anak sekaligus membangun kedekatan emosional. Sebagai bagian dari kegiatan ini, sekelompok mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara FISIP USU Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial 2023 yang dilaksanakan oleh Khairunnisa Nabila Syahputri (230902012), Jihan Hafiza Batubara (230902046), dan Kania Nadine Rahel Simatupang (230902054). Selain itu, melalui wawancara dengan anak-anak panti, mahasiswa dapat memahami lebih dalam permasalahan sosial yang mereka alami serta harapan mereka ke depan.

Masalah Sosial Anak-Anak Panti Asuhan

Anak-anak yang tinggal di panti asuhan sering kali mengalami berbagai masalah sosial, di antaranya:

1. Rasa keterasingan dan kurangnya perhatian: Sebagian besar anak merasa kehilangan kasih sayang orang tua dan memiliki keterbatasan dalam menerima perhatian individu.

2. Kesulitan beradaptasi secara sosial: Tanpa lingkungan keluarga yang suportif, anak-anak kerap kesulitan mengembangkan keterampilan sosial.

3. Keterbatasan akses terhadap pendidikan dan pengembangan diri: Meskipun panti menyediakan kebutuhan dasar, kesempatan untuk menggali minat dan bakat anak sering kali terbatas.

Kegiatan Mewarnai sebagai Intervensi Sosial

Kegiatan dimulai dengan pembagian alat mewarnai berupa buku gambar, pensil warna, dan krayon. Anak-anak bebas memilih gambar dan warna favorit mereka, yang sekaligus menjadi bentuk terapi untuk mengekspresikan emosi dan meredakan stres. Dalam suasana santai, mahasiswa mendampingi setiap anak, memberikan pujian dan semangat.

Tanggapan anak-anak terlihat positif. Beberapa anak yang awalnya pemalu mulai terbuka dan tertawa saat berbagi cerita mengenai gambar mereka. Salah satu anak, Rani (9 tahun), berkata:

“Aku suka mewarnai pohon dengan warna pink karena itu lucu dan bikin aku senang.”

Wawancara sederhana dilakukan selama kegiatan berlangsung. Beberapa anak mengungkapkan perasaan mereka tentang kehidupan di panti asuhan:

Fahri (11 tahun): “Aku suka di sini karena banyak teman, tapi kadang aku kangen sama ibu.”

Dewi (8 tahun): “Aku mau jadi guru biar bisa bantu anak-anak jadi pintar.”

Dari wawancara ini, terlihat bahwa meskipun anak-anak merasa nyaman dengan teman-teman mereka, sebagian besar tetap memiliki kerinduan akan figur keluarga. Dukungan emosional dari mahasiswa dan kegiatan seperti mewarnai membantu mereka merasa diperhatikan dan lebih bersemangat.

Manfaat dan Dampak Kegiatan

Kegiatan ini membawa beberapa manfaat penting:

1. Pengembangan kreativitas: Anak-anak didorong untuk berekspresi melalui warna dan gambar.

2. Penguatan keterampilan sosial: Kebersamaan dengan relawan dan teman-teman membuat mereka lebih mudah berinteraksi.

3. Pemulihan emosional: Aktivitas yang menyenangkan membantu anak mengurangi rasa cemas dan meningkatkan rasa percaya diri.

4. Pemahaman masalah sosial secara langsung: Wawancara selama kegiatan memberi wawasan kepada pengurus dan mahasiswa tentang kebutuhan dan harapan anak-anak.

Kesimpulan

Kesejahteraan sosial anak-anak panti asuhan dapat ditingkatkan melalui program intervensi sosial yang menyenangkan dan bermakna. Kegiatan mewarnai bukan hanya sekadar aktivitas kreatif, tetapi juga menjadi jembatan untuk membangun hubungan emosional, memperbaiki interaksi sosial, dan mengurangi rasa keterlantaran.

Panti Asuhan Cinta Kasih berharap kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara rutin, melibatkan lebih banyak atensi dari pihak eksternal agar anak-anak mendapatkan perhatian dan kesempatan berkembang yang lebih luas. Dengan pendekatan ini, kesejahteraan sosial anak-anak dapat terjamin, dan mereka memiliki harapan cerah untuk masa depan.

Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Praktek Perencanaan Pekerja Sosial dengan Dosen Pengampu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP.

Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.