
Oleh: Kelompok 3 Intoleransi MKWK
Suara USU, Medan. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) dari Kelompok 3 MKWK melaksanakan sosialisasi bertema “Intoleransi” di SMP Negeri 1 Medan pada 1 November 2025, diikuti oleh siswa dan siswi kelas XI TB Simatupang. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya toleransi dalam kehidupan sehari-hari.
Sosialisasi ini dilatarbelakangi perlunya edukasi mengenai sikap saling menghargai di lingkungan sekolah. Terdapat 19 mahasiswa lintas program studi USU yang berkontribusi melalui penyampaian materi mengenai motivasi belajar, metode belajar efektif, dan pelaksanaan sesi sharing circle untuk menggali kendala belajar siswa.
Kegiatan dibuka dengan pengisian kuesioner untuk mengetahui tingkat pemahaman awal siswa, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh M. Farhan Asadi, Najwa Ramadhani Hasibuan, dan Rizqa Faiza Raihanah. Materi yang disampaikan meliputi definisi intoleransi, dampaknya, cara menumbuhkan toleransi, serta contoh kasus yang sering terjadi di masyarakat. Para siswa aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan, termasuk mengenai dasar hukum terkait tindakan intoleransi. Pemateri menjelaskan bahwa intoleransi tidak diatur dalam satu undang-undang khusus, tetapi tercakup dalam berbagai regulasi dan dijamin dalam UUD 1945 Pasal 28E, 28I ayat (2), dan Pasal 29 ayat (2). Setelah presentasi, pemahaman siswa diukur kembali melalui kuesioner akhir, yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengenalan bentuk-bentuk intoleransi dan pentingnya menghargai perbedaan.
Kegiatan ini turut didampingi oleh Dr. Agusmidah, S.H., M.Hum., selaku dosen fasilitator, serta Jenny Olivia Br. Tobing sebagai mentor, yang memastikan seluruh rangkaian proses berjalan dengan lancar, terarah, dan tetap edukatif. Selain itu, kegiatan membuka ruang bagi siswa untuk berbagi pengalaman pribadi tentang intoleransi dan mendapatkan arahan mengenai langkah yang dapat dilakukan.
Rohanim, S.Pd., MM selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Medan mengatakan bahwa kegiatan ini membantu siswa memahami pentingnya menghargai perbedaan. “Kami berharap nilai-nilai toleransi dapat diterapkan dalam kehidupan sekolah setiap hari.”
Ketua Kelompok 3, Hamzah Akbar, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa dalam memahami dinamika belajar siswa di sekolah. Ia menambahkan, “Metode diskusi dan aktivitas interaktif terbukti lebih mampu membuat siswa terlibat dibandingkan penyampaian materi secara biasa.”
Sosialisasi ini memberikan dampak positif bagi para siswa, terutama dalam meningkatkan pemahaman mereka mengenai pentingnya sikap toleransi. Setelah mengikuti rangkaian kegiatan, siswa mampu menjelaskan kembali pengertian intoleransi, mengenali bentuk-bentuk tindakan intoleran, serta memahami cara menghargai perbedaan di lingkungan sekolah. Melalui sesi sharing circle, siswa menjadi lebih terbuka dalam menyampaikan pengalaman pribadi dan memperoleh arahan mengenai cara menghadapi situasi yang berpotensi menimbulkan konflik. Kegiatan ini juga memperkuat sikap empati, kemampuan komunikasi, dan kesadaran sosial siswa.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu secara langsung sekaligus mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama, termasuk kemampuan bekerja sama lintas program studi. Melalui kegiatan ini, mahasiswa juga berperan aktif membantu pemerintah dalam mendukung capaian program SDGs, khususnya pada penguatan pendidikan dan nilai toleransi di lingkungan masyarakat.
Artikel ini merupakan tugas kelompok 3 Intoleransi MKWK dengan Dosen Fasilitator Dr. Agusmidah, S.H. M.Hum.
Redaktur: Vimelia Hutapea
Leave a comment