SUARA USU
Opini

Keterbatasan Transportasi yang Berpengaruh Terhadap Semangat dan Aktivitas Kuliah Mahasiswa

Oleh: Rekisha Ainur Ramadani

Suara USU, Medan. Di era globalisasi saat ini, pendidikan tinggi tidak lagi menjadi pilihan tapi kebutuhan. Mahasiswa, sebagai agen perubahan, berusaha keras meningkatkan kualitas diri untuk dapat bersaing di masa depan. Namun, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Salah satu isu yang sering diabaikan namun memiliki dampak signifikan terhadap semangat dan prestasi mahasiswa adalah keterbatasan akses terhadap sarana transportasi.

Tanpa kendaraan, semangat kuliah mahasiswa dapat meredup, menghambat mereka dari mencapai potensi penuh mereka. Penting untuk mengakui bahwa kendaraan tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi dari titik A ke B. Bagi mahasiswa, kendaraan merupakan alat yang memberikan mereka kebebasan untuk mengelola waktu, meningkatkan produktivitas, dan mengakses peluang lebih luas. Tanpa kendaraan, mahasiswa harus bergantung pada transportasi umum yang sering sekali tidak efisien. Waktu yang terbuang di perjalanan bisa dimanfaatkan untuk belajar, menyelesaikan tugas, atau bahkan beristirahat.

Selain itu, akses yang terbatas terhadap kendaraan membatasi partisipasi mahasiswa dalam kegiatan di luar kampus. Kegiatan luar kampus sangat penting bagi pengembangan soft skill seperti kepemimpinan, kerja sama tim, dan komunikasi-keterampilan yang sangat dibutuhkan untuk kedepannya. Tanpa fleksibilitas untuk melakukan perjalanan ke lokasi kegiatan tersebut, mahasiswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan diri di luar aspek akademis.

Keterbatasan transportasi juga berpotensi memperlebar kesenjangan sosioekonomi di kalangan mahasiswa. Mereka yang mampu membeli kendaraan pribadi atau tinggal di dekat kampus memiliki keuntungan signifikan atas rekan-rekan mereka yang harus mengandalkan transportasi umum. Hal ini menciptakan lingkungan akademis yang tidak setara, di mana akses terhadap pendidikan dan peluang ditentukan tidak hanya oleh kemampuan intelektual tapi juga oleh kondisi ekonomi. Selain itu, tanpa kendaraan, mahasiswa yang melakukan kegiatan lain atau pekerjaan paruh waktu untuk mendukung biaya hidup dan studi mereka menjadi terbatas.

Hal ini berarti peluang untuk menggabungkan teori dengan praktik, membangun jaringan profesional, dan mendapatkan pengalaman di luar kampus sebelum lulus menjadi terbatas. Dalam ekonomi global yang kompetitif, pengalaman ini sangat berharga dan sering kali menjadi pembeda antara lulusan yang mudah mendapatkan pekerjaan dengan mereka yang tidak.

Kesimpulannya, keterbatasan akses transportasi dapat menghambat semangat dan prestasi mahasiswa dalam mengejar kesuksesan akademis dan profesional. Kendaraan tidak hanya alat transportasi, tetapi juga memberikan kebebasan untuk mengelola waktu, mengakses peluang lebih luas, dan mengembangkan soft skill melalui kegiatan di luar kampus. Keterbatasan transportasi juga berpotensi memperlebar kesenjangan sosioekonomi di kalangan mahasiswa, serta membatasi pengalaman praktis yang berharga sebelum lulus. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak terkait untuk mengakui dan mengatasi hal ini agar semua mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan dalam pendidikan dan karier mereka.

Redaktur: Duwi Cahya


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Komersialisasi Olahraga di Indonesia

redaksi

Pasca Pemilu 2024: Apakah Selanjutnya Politik akan Tetap Menarik untuk Anak Muda?

redaksi

G20 Meningkatkan Perekonomian Nasional

redaksi