SUARA USU
Musik

Three, Sebuah Lagu Pengingat Bahwa Mungkin yang Kita Lakukan Sudah Cukup

Sumber foto: https://images.app.goo.gl/oCNidGFeDJfCbgpr5

Oleh: Nadira Arfan

Suara USU, Medan. Sleeping at Last adalah proyek musik yang berawal dari sebuah band yang beranggotakan 3 orang. Mereka dipimpin oleh Ryan O’Neal sebagai penyanyi dan penulis lagu, serta Chad O’Neal sebagai drummer dan Dan Perdue sebagai bassis. Setelah merilis album debut mereka, Capture pada tahun 2000, Chad dan Dan memilih meninggalkan band. Namun, Ryan memilih untuk tidak mengubah nama band-nya dan menjadikan Sleeping at Last sebagai julukan untuk karir solonya.

Three adalah salah satu lagu dalam album ‘Atlas: Enneagram’ yang dirilis pada 11 Juli 2019. Sesuai dengan nama albumnya yang terinspirasi dari model psikologi manusia dan teori kepribadian, setiap lagu merepresentasikan setiap tipe kepribadian dalam enneagram. Lagu Three merepresentasikan tipe kepribadian ketiga yaitu The Achiever.

Maybe I’ve done enough

And your golden child grew up

Maybe this trophy isn’t real love

And with or without it, I’m good enough

Terlalu fokus untuk menggapai sesuatu dapat menyebabkan kita lupa untuk mengapresiasi diri. Tidak hanya dengan orang lain, terkadang kita juga membandingkan diri sendiri dengan diri kita sebelumnya di masa lalu. Dari lirik lagu ini, penulis meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua usaha yang telah dilakukannya selama ini sudah cukup, seperti mengejar pencapaian luar biasa hanya untuk mendapatkan validasi. Melalui lirik “Maybe this trophy isn’t real love,” penulis menyampaikan bahwa tidak selamanya kemenangan dan mencapai sesuatu secara berlebihan merupakan hal yang membawa kebahagiaan.

For the first time I see an image of my brokenness

Utterly worthy of love

Mengejar kesuksesan dapat mengalihkan perhatian kita terhadap diri sendiri. Melalui liriknya, penulis membagikan ceritanya saat pertama kali menyadari bahwa dirinya tidak sedang baik-baik saja. Meski sedang tidak baik-baik saja, hal ini bukan berarti kita tidak pantas mendapatkan sebuah apresiasi. Semua jiwa yang patah, tetap butuh cinta yang pantas.

And I finally see myself

Through the eyes of no one else

It’s so exhausting on this silver screen

Where I play the role of anyone but me

Pada bait ini, penulis mengungkapkan perasaan lega bahwa ia tidak lagi membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia tidak lagi melihat dirinya dari sudut pandang orang lain. Seringnya kita berpura-pura menjadi seseorang yang bukan kita, demi pengakuan dari orang lain. Padahal di mata orang lain, kita akan selalu memiliki kekurangan. Maka dari itu, kita yang seharusnya lebih sering mengapresiasi diri kita sendiri.

And I finally see myself

Unabridged and overwhelmed

A mess of a story I’m ashamed to tell

But I’m slowly learning how to break this spell

Pada akhirnya, penulis melihat dirinya yang sebenarnya setelah sekian lama berpura-pura untuk baik-baik saja. Hal ini membuat penulis bertekad untuk belajar menghilangkan hal buruk tersebut dan menjadi lebih baik lagi. Ia akhirnya melihat dirinya yang sebenarnya.

Gold, silver, or bronze hold no value here

Where work and rest are equally revered

Melalui lirik ini penulis benar-benar telah sepenuhnya sadar bahwa mengejar kesuksesan dan memperhatikan diri sendiri merupakan hal yang sama-sama penting.

And leave my greatest failures on display with an asterisk

Worthy of love anyway

Kegagalan bukan berarti kehilangan hak untuk diapresiasi. Sebab melalui serangkaian kegagalan kita akan belajar menjadi lebih baik. Sebagai mahasiswa, kita sering sekali melupakan apresiasi kecil di penghujung hari untuk diri sendiri setelah mengejar pencapaian-pencapaian di dunia perkuliahan yang melelahkan. Jam istirahat yang berantakan, waktu tidur yang kurang, bahkan tidak jarang lupa untuk makan dan minum menjadi sebuah kebiasaan yang  dinormalisasikan.

Walaupun apa yang ingin kita capai masih belum didapatkan, atau setelah mimpi-mimpi yang kita doakan belum juga terkabulkan, bukan berarti semua usaha yang kita lakukan buruk, bukan berarti semua yang kita usahakan tidak cukup baik. Ingatlah bahwa, “‘Maybe I’ve done enough,’ mungkin yang aku lakukan sudah cukup.”

Redaktur: Yuni Hikmah


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

“Peter Pan Was Right” oleh Anson Seabra: Dewasa Tidak Semenyenangkan Itu

redaksi

Memaknai Kerinduan dalam Sepi Lewat Lagu Tentang Rindu

redaksi

Waktu Tersisa, Kisah Pahitnya Perbedaan

redaksi