Oleh: Muhammad Ar Rofi Nst
Suara USU, Medan. Beberapa tahun terakhir, cara generasi muda melakukan transaksi keuangan mengalami perubahan yang cukup besar. Aktivitas yang sebelumnya identik dengan membawa uang tunai atau kartu pembayaran kini telah beralih melalui telepon genggam. Pembayaran transportasi, transaksi pembelian makanan dan barang, hingga pembayaran tagihan kini dapat diselesaikan hanya dalam hitungan detik melalui dompet digital. Kemudahan tersebut secara perlahan menjadikan layanan keuangan digital bukan lagi sekadar alternatif, melainkan bagian dari rutinitas sehari-hari.
Perubahan ini tentu membawa berbagai manfaat, terutama dari sisi efisiensi dan kemudahan akses. Namun, di balik pesatnya penggunaan layanan keuangan digital, muncul persoalan yang perlu mendapat perhatian. Kemudahan dalam bertransaksi tidak selalu diiringi dengan meningkatnya pemahaman masyarakat dalam mengelola keuangan secara bijak. Banyak pengguna telah terbiasa menggunakan berbagai layanan finansial digital, tetapi belum sepenuhnya memahami risiko, konsekuensi, maupun keputusan keuangan yang mereka ambil.
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2024 menunjukkan adanya jarak antara akses dan pemahaman keuangan masyarakat. Tingkat literasi keuangan nasional tercatat sebesar 65,43 persen, sementara tingkat inklusi keuangan mencapai 75,02 persen. Jarak ini semakin melebar pada tahun 2025, tingkat inklusi meningkat menjadi 80,51 persen, sementara literasi berada di angka 66,46 persen. Artinya, semakin banyak masyarakat yang telah menggunakan layanan keuangan, tetapi peningkatan pemahaman belum tumbuh dengan kecepatan yang sama.
Dompet digital seperti GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay, tidak lagi hanya berfungsi sebagai layanan penyimpanan uang digital. Bagi banyak generasi muda, layanan tersebut telah menjadi bagian dari cara mereka mengatur aktivitas keuangan sehari-hari.
Kehadiran dompet digital ini memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap perluasan akses keuangan, terutama bagi kelompok masyarakat yang sebelumnya memiliki keterbatasan dalam menjangkau layanan perbankan formal. Selain itu, pelaku usaha kecil dan menengah juga memperoleh manfaat melalui sistem transaksi yang lebih praktis dan efisien.
Di sisi lain, kemudahan yang ditawarkan layanan digital juga membawa konsekuensi yang sering kali tidak disadari penggunanya. Semakin praktis proses transaksi dilakukan, semakin kecil pula ruang bagi seseorang untuk berhenti sejenak dan mempertimbangkan keputusan yang sedang diambil. Perubahan ini mungkin tampak sederhana, tetapi dalam praktiknya dapat memengaruhi cara seseorang memandang dan menggunakan uang.
Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi keuangan pada dasarnya membawa peluang yang besar bagi masyarakat. Oleh karena itu, persoalan yang perlu diperhatikan bukan keberadaan teknologinya, melainkan sejauh mana pengguna memiliki kesiapan dan pemahaman yang memadai untuk menggunakan berbagai kemudahan tersebut secara bertanggung jawab.
Dalam kajian keuangan, terdapat respons psikologis yang muncul ketika seseorang merasakan adanya pengorbanan atau kehilangan saat mengeluarkan uang. Fenomena ini dikenal sebagai pain of paying. Sensasi tersebut umumnya lebih terasa ketika transaksi dilakukan secara tunai. Saat membayar dengan uang fisik, seseorang melihat secara langsung jumlah uang yang berkurang dari dompetnya. Ada proses yang membuat seseorang menyadari bahwa pengeluaran sedang terjadi, meskipun hanya berlangsung dalam hitungan detik.
Situasi ini terasa berbeda ketika transaksi dilakukan secara digital. Proses pembayaran menjadi jauh lebih cepat dan sederhana. Pengguna tidak lagi perlu menghitung lembaran uang atau menyerahkan uang secara langsung. Cukup dengan beberapa sentuhan pada layar, transaksi dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Kemudahan ini memang membantu aktivitas sehari-hari, tetapi pada saat yang sama juga mengurangi jeda yang biasanya muncul sebelum seseorang memutuskan untuk membeli sesuatu.
Akibatnya, proses membeli sering kali berjalan lebih cepat dibanding proses mempertimbangkannya. Tidak sedikit keputusan konsumsi yang akhirnya diambil secara spontan karena transaksi terasa begitu mudah dilakukan. Dalam situasi seperti ini, seseorang dapat menekan tombol pembayaran terlebih dahulu sebelum benar-benar memikirkan apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau sekadar diinginkan sesaat.
Fenomena tersebut tampak semakin jelas melalui pertumbuhan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater. OJK mencatat pembiayaan BNPL pada Januari 2025 telah mencapai Rp22,57 triliun dengan pertumbuhan tahunan sebesar 46,45 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa layanan pembiayaan instan terus mengalami peningkatan penggunaan dalam waktu yang relatif singkat. Pada fase ini, seseorang umumnya belum memiliki pendapatan yang stabil, tetapi telah dihadapkan pada berbagai pilihan konsumsi yang tersedia tanpa batasan.
Penelitian Kumar, Salo, dan Bezawada pada 2024 juga menemukan bahwa penggunaan BNPL dapat meningkatkan pengeluaran daring rata-rata sebesar 6,42 persen dibandingkan metode pembayaran konvensional. Sekilas angkanya tampak kecil. Namun, dalam praktik sehari-hari, kenaikan tersebut dapat menjadi awal dari pola konsumsi yang sulit dikendalikan. Pengeluaran kecil yang tersebar di berbagai platform sering kali terasa ringan saat dilakukan, tetapi berubah menjadi beban ketika tagihan datang secara bersamaan.
Banyak layanan digital dirancang untuk meminimalkan hambatan pengguna seperti proses verifikasi cepat, promo yang terus muncul, hingga tampilan aplikasi yang mempermudah transaksi hanya dalam beberapa langkah. Dari sudut pandang desain produk, pendekatan semacam ini memang efektif untuk meningkatkan keterlibatan pengguna. Namun, dalam praktiknya, sistem tersebut juga dapat mendorong seseorang mengambil keputusan secara impulsif.
Generasi muda tumbuh di tengah fenomena tersebut, sementara pendidikan keuangan yang mereka terima masih sering berhenti pada konsep dasar yang tidak mengikuti perkembangan kehidupan modern. Sistem yang kerap diajarkan adalah menabung, tetapi tidak banyak dibekali pemahaman mengenai sistem cicilan digital, cara mengelola utang konsumtif, maupun mengenali pola pengeluaran impulsif yang muncul melalui berbagai aplikasi di telepon genggam.
Redaktur: Muhassanah Nasution
Leave a comment