Home Sosok From Zero to Hero, dari sosok Andi Amran Sulaiman
Sosok

From Zero to Hero, dari sosok Andi Amran Sulaiman

Share

 Oleh: Abdullah Umar Al Faruk

Suara USU, Medan. Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, M.P. lahir di Bone, Sulawesi Selatan, pada 27 April 1968, sebagai salah satu dari dua belas bersaudara dalam keluarga yang sederhana namun kaya nilai. Ayahnya, Andi B. Sulaiman Dahlan Petta Linta, adalah veteran pejuang kemerdekaan; ibunya, Andi Nurhadi Petta Bau, sosok ibu tangguh yang menjadi tulang punggung keluarga besarnya. Dari keluarga yang kuat, tumbuh komitmen yang mengantarkan Amran menjadi salah satu tokoh penting dalam pembangunan pertanian Indonesia. Kecintaannya pada ilmu pertanian terlihat dari konsistensi akademiknya. Amran menempuh seluruh pendidikan tingginya di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar. Setelah menyelesaikan studi dasarnya, Amran belajar ilmu pertanian di Universitas Hasanuddin Makassar, dimulai pada tahun 1988 dan memperoleh gelar sarjana pada tahun 1993. Ia melanjutkan untuk memperoleh gelar master dan pascasarjana dari universitas yang sama, masing-masing pada tahun 2003 dan 2012. Ia lulus dengan IPK maksimal. Ia meraih gelar Sarjana Pertanian pada 1993, melanjutkan Magister pada 2003, dan menyelesaikan Doktor Ilmu Pertanian pada 2012. Hingga kini, ia masih aktif sebagai dosen di fakultas tersebut. Setelah menyelesaikan studi sarjananya, ia bekerja di PT Perkebunan Nusantara XIV. Ia memulai kariernya sebagai kepala operasi lapangan di sebuah pabrik gula pada tahun 1994, dan dipromosikan sebanyak 4 kali selama enam tahun pertamanya di perusahaan tersebut, dengan puncaknya sebagai kepala logistik. Dia mengundurkan diri setelah 15 tahun. Kemudian, ia mendirikan bisnisnya sendiri, dimulai dengan patennya atas racun tikus (bernama “Tiran” sebagai akronim dari Tikus diracun Amran) dan berkembang pesat, mencakup 10 perusahaan dengan pendapatan tahunan gabungan mendekati US$1 miliar pada tahun 2014.

Di lain sisi, perjuangan kehidupan Amran tidak semudah itu. Menteri Pertanian Amran Sulaiman juga pernah membagikan pengalamannya mengkonsumsi beras dicampur dengan pisang saat masih sekolah. Ia bilang, pengalaman itu terjadi lantaran hidup susah, sementara harga beras di tahun 1970 dan 1980 mahal. Hal itu yang mendorong Amran saat ini sangat vokal terhadap kasus beras oplosan. “Aku ini punya pengalaman miskin 36 tahun. Dan aku pernah merasakan itu. Aku pernah makan beras dicampur dengan pisang. Waktu SD. Karena beras mahal. Itu tahun 80-an. Tahun 70-an, tahun 80-an,” ujar Amran dalam acara “Rosi” yang disiarkan Kompas TV, Kamis (17/7/2025). “Jadi aku bisa merasakan apa yang dirasakan masyarakat. Aku siap segala risiko membela orang miskin,” tegasnya.

Pada kesempatan lain, saat menghadiri wisuda lulusan Universitas Negeri Makassar (UNM) pada Kamis (23/1/2025), Amran membakar semangat 900 wisudawan UNM. Ia mengatakan bahwa penentu keberhasilan adalah berani bermimpi, berproses, dan persisten. Amran juga nostalgia perjuangan selama menempuh pendidikan dan berkarier. Ia menceritakan perjuangannya dari muda yang tidak gengsi melakukan beberapa pekerjaan, mulai dari tukang batu, penjual ikan, penjual ubi, dan lainnya. Amran berharap perjuangannya dapat menjadi contoh bagi generasi muda. Ia juga menekankan bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama ada keyakinan, kegigihan, dan doa orang tua. “Bayangkan ada anak desa miskin, jelek, gondrong bisa membongkar laci dunia dan saya ingin kalian nanti demikian. Ada 900 wisudawan, kalau 900 melakukan apa yang saya ucapkan, anda akan menggoncang ini republik. Pasti bisa!” ucapnya. Tokoh Sulawesi Selatan itu juga mendorong generasi muda untuk bermental kuat. Menurutnya, orang hebat lahir dari tempaan hidup yang keras pula. “Kalau mau berhasil, harus mampu menghadapi tekanan. Yang mendapatkan tekanan derajat celcius itu adalah emas berlian yang berada di perut bumi. Anda mau jadi berlian atau mau jadi pecundang?” ujarnya.

Pada tahun 2007, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan penghargaan sipil Satyalancana Pembangunan kepada Amran. Sebuah tanda kehormatan yang mencerminkan pengakuan negara atas dampak nyata karya dan inovasinya bagi kemajuan sektor pertanian Indonesia. Rekam jejak akademik, pengalaman industri, dan inovasi menjadikan Amran pilihan tepat untuk memimpin Kementerian Pertanian. Ia pertama kali dilantik sebagai Menteri Pertanian Republik Indonesia pada tahun 2014 dan mengemban amanah tersebut hingga 2019. Tahun 2024, kembali dilantik pada Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Sebagai akademisi, Dr. Andi Amran Sulaiman aktif menghasilkan karya tulis ilmiah dalam bentuk buku, prosiding, dan jurnal nasional. Kajian-kajiannya menjangkau isu pertanian modern, kelembagaan perkebunan, strategi pembangunan berbasis inovasi, serta kebijakan pangan dan penguatan sistem agribisnis berkelanjutan. Perjalanan hidup Dr. Andi Amran Sulaiman dari putra Bone yang tumbuh dalam keluarga miskin, menjadi akademisi, inovator, pengusaha, hingga menteri selama dua periode, menjadikan cerminan bahwa kecerdasan teknis, semangat kewirausahaan, dan komitmen pengabdian kepada publik bisa menyatu dalam satu sosok. Kehadirannya merupakan bagian dari ekosistem besar yang terus mendorong agar pertanian lahan rawa Indonesia untuk ketahanan pangan nasional.

Redaktur : Emia Timentha Tarigan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.