Home Film Ketika Realitas Retak, Menelusuri Lapisan Psikologis Film Backrooms
Film

Ketika Realitas Retak, Menelusuri Lapisan Psikologis Film Backrooms

Share

Oleh: Naisya Husna Hafizahtul Salwa Anshari

Suara USU, Medan. Backrooms adalah film fiksi ilmiah bergenre horor psikologis produksi A24 yang dirilis di Amerika Serikat pada 29 Mei 2026. Film ini merupakan debut panjang sutradara Kane Parsons yang dikenal di internet dengan nama Kane Pixels dan naskah film ini sendiri ditulis oleh Will Soodik. Kane Parsons dikenal sebagai kreator yang sangat aktif di dunia online, belajar efek visual secara otodidak sejak usia sangat muda, bahkan mulai bereksperimen dengan animasi sebelum akhirnya mengembangkan proyek Backrooms di YouTube. Proyek ini diproduksi oleh A24 dengan dukungan produser James Wan, sosok di balik sejumlah film horor populer dunia. Dengan anggaran yang hanya berkisar 10 juta dolar AS, film ini mencetak rekor baru dengan pendapatan 100 juta dolar AS hanya dalam enam hari dan resmi menjadi film terlaris A24 sepanjang masa.

Konsep Backrooms sendiri lahir dari fenomena creepypasta dan thread internet yang viral pada 2019, yang menggambarkan ruang-ruang kosong tak berujung dengan atmosfer yang tidak nyaman. Film ini mengisahkan Clark, seorang pemilik toko furnitur yang tengah berusaha menjalani hidup setelah perceraian dan masalah kecanduan alkohol. Saat kondisi keuangan tokonya semakin memburuk, ia memilih untuk menetap di toko tersebut. Di tengah tekanan yang menghimpitnya, ia mengalami serangkaian gangguan listrik aneh. Gangguan itu  mengarahkannya pada penemuan celah tersembunyi di ruang bawah tanah tokonya, bukan sebuah pintu dalam arti sebenarnya, melainkan sebuah dinding yang seolah menariknya menuju tempat lain. Celah itulah yang menjadi titik awal dari seluruh misteri dalam film ini.

Di waktu yang sama, Mary Kline, seorang terapis yang menangani Clark, mendapati pasiennya tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Pencariannya membawa Mary ke sebuah dimensi di luar realitas yang tidak dapat dijelaskan secara logis, sebuah ruang tak kasat mata yang tersembunyi di balik tembok toko furnitur milik Clark.

Yang membuat Backrooms berbeda dari film horor konvensional adalah bagaimana film ini membangun teror. Film ini lebih menitikberatkan pada teror psikologis dibanding sekadar jumpscare. Dimensi Backrooms digambarkan bukan sebagai neraka atau simulasi komputer, melainkan sebagai anomali alam yang muncul akibat kerusakan realitas, sehingga menciptakan ruang-ruang yang terlihat familiar tetapi terasa salah dan tidak sepenuhnya menyerupai dunia nyata. Inilah yang menjadikan film ini terasa begitu menggelisahkan, bukan karena asing, melainkan karena terasa seperti sesuatu yang pernah kita kenal, namun telah rusak.

Di sinilah lapisan psikologis film ini mulai terasa berat. Clark, tokoh utama yang berjuang dengan kecanduan dan kehancuran rumah tangga, memasuki dimensi yang mencerminkan kondisi batinnya sendiri yaitu sebuah lorong tanpa ujung, ruangan yang identik namun tak satupun terasa seperti rumah, dan bayangan diri yang telah cacat. Salah satu entitas paling mengerikan namun ikonik dalam film ini adalah “Pirate Clark“, versi raksasa dan cacat dari Clark yang menjadi ancaman utama. Sosok ini bukan sekadar monster bahkan bisa dikatakan ia bukan moster sama sekali. Namun, ia adalah metafora dari trauma yang tidak pernah diselesaikan, dari sisi diri yang selama ini dihindari dan kini berbalik mengancam.

Seperti yang dirasakan banyak penonton, film ini terasa lebih menyesakkan daripada sekadar menakutkan, seolah-olah setiap lorong yang dilalui para karakter menjembatani ruang antara kondisi psikologis dan lorong-lorong tak bertepi yang menghimpit. Atmosfer liminal space yang dibangun oleh Kane Parsons memancing respons yang jauh lebih dalam dari rasa takut, ia menggugah kecemasan yang sudah lama bersarang di bawah sadar, perasaan tersesat di dalam diri sendiri yang tidak selalu mudah dikenali dan dikendalikan setiap individu.

Ada juga sentuhan yang terasa dekat bagi penonton Indonesia. Backrooms menggunakan rekaman sapaan berbahasa Indonesia yang berasal dari The Golden Record milik NASA, diucapkan oleh Ilyas Harun: “Selamat malam, hadirin sekalian. Selamat berpisah dan sampai bertemu lagi di lain waktu.” Selain itu, film ini juga menghadirkan alunan musik tradisional Jawa berupa gending Ketawang Puspawarna yang turut menjadi bagian dari The Golden Record. Sebuah detail kecil yang memberikan rasa familiar di tengah dimensi yang sama sekali tidak bersahabat.

Pada akhirnya, Backrooms bukan sekadar film tentang dimensi misterius. Ia adalah cermin yang memaksa kita menatap bagian dari diri yang paling enggan kita akui sebuah luka lama yang belum sembuh, kebiasaan buruk yang terus kita hindari, dan kenyataan yang kita pilih untuk tidak hadapi. Seperti Clark yang harus berjalan menembus lorong-lorong tak berujung sendirian, perjalanan menuju pemulihan psikologis pun seringkali terasa sunyi, cemas, membingungkan, dan penuh bayang-bayang diri sendiri. Namun pesan terdalam yang ditinggalkan film ini adalah bahwa tidak ada dimensi yang lebih menakutkan dari pikiran yang tidak pernah diajak bicara. Berani menghadapi apa yang ada di dalam, adalah langkah pertama untuk benar-benar keluar.

Redaktur: Romaito Margareta Saruksuk

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.