Oleh: Anastasyia Dwi Sitinjak
Suara USU, Medan. “Usia segini kenapa belum sukses?” Kalimat tersebut sering terdengar dan seolah menjadi ukuran untuk menilai pencapaian seseorang. Tanpa disadari, masyarakat telah membangun anggapan bahwa kesuksesan harus diraih sebelum mencapai usia tertentu. Padahal, menjadikan usia sebagai tolak ukur kesuksesan tidak hanya memberikan tekanan sosial, tetapi juga mengabaikan fakta bahwa setiap orang memiliki latar belakang, tantangan, dan proses yang berbeda-beda.
Fenomena tersebut semakin terlihat melalui berbagai unggahan di media sosial yang memperlihatkan pencapaian seseorang di usia tertentu, serta berbagai tagar seperti “30 under 30”. Narasi seperti ini secara tidak langsung merepresentasikan bahwa jika seseorang belum membangun perusahaan, memiliki aset miliaran, atau meraih pengakuan global di usia dua puluhan, maka ia dianggap tertinggal. Akibatnya, alih-alih termotivasi, generasi muda justru terjebak dalam kecemasan berlebih dan merasa gagal sebelum waktunya. Bayangkan seorang lulusan baru yang setiap hari melihat teman sebayanya telah memiliki jabatan tinggi atau bisnis yang sukses. Karena takut dianggap tertinggal, ia terus bekerja tanpa memberi waktu untuk beristirahat. Dorongan hustle culture yang berlebihan demi mengejar standar kesuksesan yang bersifat artifisial itu tidak jarang berujung pada kelelahan fisik dan mental (burnout), stres berkepanjangan, depresi, hingga menurunnya kualitas hidup. Ironisnya, pencapaian yang seharusnya menjadi kebanggaan justru berubah menjadi beban karena dibangun atas dasar tekanan sosial, bukan kebutuhan dan tujuan pribadi.
Tetapi, benarkah usia memiliki tanggal kedaluwarsa? Jika kita menilik data ilmiah, glorifikasi terhadap kesuksesan di usia muda sebenarnya hanyalah distorsi realitas. Sebuah studi komprehensif yang dilakukan oleh Pierre Azoulay dari MIT bersama National Bureau of Economic Research (NBER) pada tahun 2016 menganalisis ribuan pendiri startup dunia. Hasilnya mengejutkan: usia rata-rata para pendiri yang paling sukses dan mengalami pertumbuhan pesat justru berada di angka 45 tahun. Fakta ini membuktikan bahwa kematangan emosional, ketekunan, serta pengalaman yang didapatkan jauh lebih kokoh dibandingkan hanya sekadar ambisi sesaat yang belum teruji maksimal.
Selain itu, psikologi perkembangan juga melihat kesuksesan dari sudut pandang yang lebih adil. Pada tahun 2006, salah satu tokoh ekonomi, David Galenson, membagi inovator menjadi dua tipe, yaitu konseptual dan eksperimental. Inovator konseptual memang kerap menemukan ide genius secara radikal di usia muda karena belum terikat aturan industri. Namun, ada pula inovator eksperimental yang kesuksesannya baru matang setelah puluhan tahun melakukan trial and error.
Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang memulai perjalanan dari titik yang berbeda. Ada yang memiliki akses pendidikan, kondisi ekonomi keluarga, maupun jaringan relasi yang lebih baik sehingga peluang untuk meraih kesuksesan juga lebih besar. Namun, faktor-faktor tersebut tidak menjadikan usia sebagai penentu utama. Yang dapat terus diupayakan setiap individu adalah kemauan untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan bertahan dalam setiap proses yang dijalani.
Contohnya dapat kita lihat dari kisah Kolonel Sanders, pengusaha restoran asal Amerika, yang baru berhasil membesarkan usaha KFC (Kentucky Fried Chicken) di usia 60-an, dengan menawarkan resep ayam goreng racikannya dari satu restoran ke restoran lain dan menghadapi banyak penolakan sebelum akhirnya berhasil membangun KFC menjadi jaringan restoran cepat saji yang mendunia. Hal serupa juga terlihat dari perjalanan Vera Wang, perancang busana asal Amerika, yang baru berhasil mendirikan merek fashionnya sendiri pada usia 40 tahun. Setelah melalui kegagalan sebagai atlet seluncur indah dan berkarier selama bertahun-tahun di industri model, berkat ketekunan dan pengalamannya, ia akhirnya berhasil menjadi salah satu perancang busana paling berpengaruh di dunia.
Perjalanan Bob Sadino, pengusaha asal Bandar Lampung, juga menunjukkan bahwa kesuksesan membutuhkan proses. Setelah mengalami kebangkrutan hingga sempat bekerja sebagai kuli bangunan, ia bangkit dengan merintis usaha telur ayam negeri dari nol pada usia 34 tahun. Ketekunan dan keberaniannya untuk memulai kembali mengantarkannya mendirikan jaringan supermarket Kem Chicks. Kisah-kisah tersebut membuktikan bahwa keberhasilan bukanlah tentang seberapa cepat memulai, melainkan tentang seberapa gigih dan konsisten kita untuk bertahan.
Menjadikan usia sebagai indikator tunggal kesuksesan adalah bentuk simplifikasi yang tidak adil. Kehidupan bukanlah perihal lomba lari cepat (sprint), melainkan sebuah maraton panjang yang konsisten. Setiap orang berjalan di lintasan dan memiliki zona waktu yang berbeda.
Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa kesuksesan bukanlah tentang seberapa cepat seseorang mencapainya, melainkan tentang keberanian untuk terus bertumbuh dan tidak menyerah dalam menghadapi setiap proses.
Redaktur: Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment