Oleh: Ruth Jelita Laia
Suara USU, Medan. Lagu Gajah karya Tulus merupakan salah satu lagu ikonik nan apik yang mampu merangkul pendengarnya lewat emosi yang begitu tertata dalam musik. Melalui lirik yang jujur dan alunan yang hangat, Tulus menghadirkan potret perasaan yang dekat dengan pengalaman banyak orang, mulai dari luka masa kecil hingga proses menerima diri sendiri. Karya ini bukan sekadar lagu, melainkan sebuah ruang refleksi yang mengajak pendengarnya memahami bahwa setiap emosi memiliki tempat untuk dipulihkan.
Lagu yang dirilis pada tahun 2014 ini merekam pengalaman pribadi Tulus yang pernah mengalami perundungan karena bentuk fisiknya. Namun, alih-alih menyampaikan kemarahan, Tulus memilih untuk berdamai dengan semua perlakuan dan cacian tersebut. “Gajah” merupakan sebuah sapaan yang kerap kali dilontarkan oleh orang-orang kepada Tulus. Sebuah panggilan yang semula menyakitkan, tetapi kemudian ia ubah menjadi sumber kekuatan, lewat musik.
Waktu kecil dulu
Mereka menertawakan
Mereka panggilku gajah
(Ku marah) ku marah
Kini baru ku tahu
Puji didalam olokan
Mereka ingatku marah
Jabat tanganku panggil aku gajah
Lirik terakhir menjelaskan bagaimana proses penerimaan diri tersebut. Alih-alih larut dalam amarah dan sakit hari, Tulus justru memilih untuk menafsirkan ulang lukanya tersebut menjadi suatu alunan yang menenangkan. Ia tak runtuh, ia tak terbenam dalam getirnya, ataupun hancur karena ejekan itu. Sebaliknya, Tulus membuktikan bahwa ia muncul lebih utuh dari sebelumnya. Di sinilah letak kekuatan Gajah, sebuah karya yang tak hanya bercerita tentang pengalaman pribadi, tetapi juga menghadirkan sebuah ruang aman bagi siapapun yang pernah merasakan hal yang sama, baik itu direndahkan, diremehkan, atau tak pernah dianggap ada.
Bila ditarik secara filosofis, gajah diartikan sebagai hewan yang kuat, teguh, dan berkarakter lembut meski bertubuh besar. Gajah dikenal juga sebagai makhluk yang memiliki ingatan kuat dan kesetiaan tinggi kepada kelompoknya. Sifat kerja sama, tolong- menolong antar sesama, dan saling melindungi menjadikan gajah simbol kekuatan besar yang penuh empati. Hal ini selaras dengan ungkapan Tulus dalam bait lagunya:
kau temanku kau doakan aku
punya otak cerdas aku harus tangguh
bila jatuh gajah lain membantu
tubuhmu di situasi rela jadi tamengku
Selain itu, lirik lagu Gajah juga menunjukkan bagaimana Tulus memahami dinamika emosi manusia. Ia mengamini adanya keberadaan amarah, tetapi tidak membiarkan dirinya terjebak di dalamnya. Ia justru mencoba melihat ulang masa kecilnya dengan kacamata yang lebih bijak, bahwa olokan yang ia terima, meskipun menyakitkan dan tidak tepat, mungkin saja berasal dari ketidakmampuan orang-orang di sekitarnya untuk mengekspresikan perhatian dengan cara yang benar. Cara pandang inilah yang membuat lagu ini terasa begitu dewasa, matang, dan memiliki mantra yang menghadirkan keteduhan bagi setiap pendengarnya. Pemahaman tersebut tercermin dalam bait berikut:
Kecil kita tak tahu apa-apa
Wajar bila terlalu cepat marah
Kecil, kita tak tahu apa-apa
Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik
Yang terburuk kelak bisa jadi yang terbaik
Dalam industri musik Indonesia, kehadiran lagu seperti Gajah menunjukkan bagaimana karya seni dapat berdampak sosial. Tak hanya sebagai penghibur tetapi sebagai seperangkat alat seni yang memberi penyadaran. Lagu ini mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap isu perundungan yang kini masih menjadi masalah serius, terutama di kalangan remaja. Gajah mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan sosial yang lebih ramah dan saling menghargai.
Pada akhirnya lagu Gajah adalah potret emosi yang tertata dalam musik. Sebuah perjalanan dari luka menuju penerimaan. Lagu ini menegaskan bahwa setiap orang berhak memaknai dirinya dengan cara positif, menganggap dirinya berharga, terlepas dari apapun yang dikatakan orang lain. Tulus menghidupkan kembali keyakinan bahwa penerimaan diri tidak mudah tapi selalu mungkin, dan penerimaan diri paling indah berasal dari keberanian untuk berdamai dengan luka yang dahulu terasa mustahil disembuhkan.
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment