SUARA USU
editorial Kabar SUMUT Opini

Lebarannya Kaum Marginal

Oleh: Wirayudha Azhari Lubis

Suara USU, MEDAN. Idul Fitri adalah momen yang ditunggu oleh semua kalangan. Setelah 30 hari menjalani ibadah puasa, Idul Fitri di ibaratkan menjadi garis finish dan juga awal yang baru untuk memulai hari-hari berikutnya. Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia tentunya memiliki banyak tradisi yang tidak dimiliki negara lainnya. Tradisi-tradisi seperti mudik, berbagi THR, dan juga baju lebaran sangat erat kaitannya dengan Idul Fitri.

Namun, dewasa ini tradisi-tradisi tersebut tidak lagi dirasakan semua kalangan. Kalangan dengan kondisi ekonomi menengah-kebawah adalah salah satu kalangan yang tidak merasakan hal seperti ini. Tentu saja hal tersebut dikarenakan banyak faktor, dan ekonomi menjadi faktor utama untuk tidak lagi menjalani tradisi-tradisi seperti itu.

“Tidak ada yang spesial bang lebaran belakangan ini, sama aja kayak hari-hari biasanya”, ungkap Iwan(26) saat diwawancarai.

Iwan adalah salah seorang kaum marginal yang berhasil kami wawancarai. Pekerjaan sehari-harinya adalah pedagang asongan. Dengan pekerjaan nya yang seperti itu tentunya menjadi hal yang sulit bagi dirinya untuk mempersiapkan lebaran. Belum lagi efek pandemi yang membuat pendapatannya turun hampir 50%.

“Yah, biasanya dapat 100 ribu bang perhari, tapi sejak Corona ini kadang cuma dapat 50 ribu bang, belum lagi uang makan, sikit lah bang,” ungkapnya.

Dengan penghasilan yang dapat dibilang sangat sedikit itu, baju lebaran ataupun mudik sangatlah jauh untuk bisa dilaksanakannya.

“Payahlah bang sejak corona ini, 3 tahun lalu masih bisa lah untuk beli-beli baju lebaran buat anak atau istri bang, atau masak masak lontong pun masih tarek bang, sekarang untuk biar ada beras pas hari raya aja udah syukur kali rasaku bang. Terkadang pun ada bantuan dari pemerintah, yang dapat ya keluarga keluarga kepling lah bang, kami-kami ini gak dapat jugak lah bang,” tuturnya

Bahkan di momen-momen seperti ini masih saja banyak orang yang ingin mengambil hak-hak orang lain. Momen lebaran yang seharusnya menjadi momen bahagia bagi semua orang, menjadi momen menyedihkan bagi para kalangan marginal.

Mendengar ungkapan Iwan tentunya membuat siapapun yang mendengarnya agak merasa miris,            Dengan hal diatas, kita menjadi tau bahwa lebaran yang identik dengan hal-hal menyenangkan, ternyata tidak berlaku bagi pihak-pihak seperti Iwan.

Hal diatas juga menunjukkan bagaimana jauhnya kesenjangan di negeri ini. diantara ramainya orang-orang yang hidup bermewah-mewahan dan menyambut lebaran dengan hal-hal glamour, siapa sangka masih banyak orang-orang seperti iwan yang menjadikan hari lebaran hanya sama seperti hari biasanya.

Selamat Hari Raya bagi semua yang merayakan. Semoga amal ibadah kita selama bulan ramadhan diterima oleh Allah Swt. Karena yang membedakan orang di mata Allah hanya dilihat dari amal perbuatannya, bukan dengan perayaan ataupun hal-hal mewah di hari lebaran.

Redaktur: Muhammad Fadhlan Amri

 

Related posts

Menilik Pembatasan Informasi Elektronik oleh Pemerintah, Kebebasan Berpendapat Tersumbat?

redaksi

Kesawan, dan Wajah Baru Kawasan Kuliner Kota Medan!

redaksi

Pungli, Korupsi Kecil yang Jarang Diperhatikan

redaksi