
Reporter: Tim Suara USU
Suara USU, Medan. Isu dugaan perpeloncoan dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Hukum (FH) Universitas Sumatera Utara (USU) 2025 masih menuai sorotan. Namun, sejumlah mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan memberikan kesaksian berbeda dari isu yang berkembang di media sosial.
Mayoritas mahasiswa baru yang diwawancarai Suara USU menyatakan tidak menemukan praktik perpeloncoan selama tiga hari rangkaian PKKMB. Kamboja (bukan nama sebenarnya), mahasiswa baru FH USU, menegaskan bahwa perlakuan panitia masih dalam batas wajar. “Nggak ada tindakan yang sebegitu parah… mereka tegas gara-gara kami banyak yang salah,” ujarnya dalam wawancara, Senin (19/8).
Jati (bukan nama sebenarnya), mahasiswa baru lainnya, juga menyampaikan hal serupa. Menurutnya, instruksi dan kegiatan yang diberikan panitia tidak bersifat merendahkan. “Menurutku panitia sudah cukup proper menyampaikan informasi. Dari awal sampai akhir, tidak ada perintah yang sifatnya melecehkan,” kata Jati, Minggu (18/8).
Isu yang ramai diperbincangkan di media sosial adalah instruksi mahasiswa baru untuk tunduk dan melakukan salam “Maha Dewa–Maha Dewi” kepada senior. Bagi sebagian peserta, momen itu ternyata hanya berlangsung sebentar dan berkaitan dengan prank ulang tahun terhadap tiga hingga empat mahasiswa baru. Anggrek (bukan nama sebenarnya) menjelaskan, “Awalnya kami ditanya siapa yang sakit, lalu ada yang dipisahkan dari barisan. Setelah itu baru kami tahu ternyata prank ulang tahun. Jadi menurutku itu bukan pelonco,” jelasnya (18/8).
“Seingat aku, salam itu kami lakuin sekitar 15 menit, nggak selama yang dibilang orang-orang,” tambah Kamboja.
Sementara itu, Melati (bukan nama sebenarnya), mahasiswa FH USU angkatan 2023 yang ikut menyaksikan, memberikan perspektif berbeda. Ia menyebut mahasiswa baru sempat diminta duduk dengan kepala menunduk sekitar 30 menit lebih serta ada teguran keras agar tidak menatap senior. Meski begitu, ia tidak melihat adanya perintah fisik seperti jalan jongkok atau menelungkupkan badan (19/8).
Dari keterangan sejumlah mahasiswa baru, suara keras panitia dinilai muncul karena alasan teknis dengan batas wajar. Dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 500 orang, panitia terpaksa mengeraskan suara agar instruksi terdengar. Mentari (bukan nama sebenarnya) mengungkapkan, “Kalau panitia bicara biasa, nggak akan kedengaran. Banyak juga teman-teman yang mencar barisan, jadi wajar kalau panitia sampai teriak,” ungkap Mentari (18/8).
Nama salah satu panitia, Dela, sempat disebut dalam perbincangan di media sosial. Namun mahasiswa baru menegaskan teguran keras itu muncul saat membariskan peserta, bukan bentuk perpeloncoan. Kamboja menuturkan, “Kakak itu cuman ngomongnya aja, agak gimana gitu. Kayak gini, ‘mana papermob kelen, dek? Dipake lah papermobnya’. Menurut aku pribadi masih wajar, kak, soalnya kami juga yang salah”.
Selain itu, mahasiswa baru yang diwawancarai membenarkan ada peserta yang tidak bersikap sopan kepada panitia. Meski begitu, mereka menegaskan panitia tidak membalas dengan kekerasan.
Isu penugasan menulis 50 surat juga turut dijelaskan. Kamboja membenarkan adanya tugas menulis ucapan terima kasih kepada panitia atau kakak regu. Namun, ia menyebutkan bahwa panitia memberikan keringanan.
“Untuk surat terima kasih memang benar 50, sementara untuk tanda tangan kakak tingkat yang awalnya diminta 50, pada hari ketiga panitia akhirnya mengatakan cukup sebanyak yang bisa saja,” jelasnya.
Terkait merchandise, Kamboja juga menegaskan tidak ada pemaksaan. Mereka menyebut banyak peserta yang tidak membeli tanpa ada konsekuensi.
Namun, Jati menyoroti instruksi soal bekal yang harus sesuai arahan panitia di hari pertama. Menurutnya, aturan itu terasa memberatkan bagi mahasiswa baru dengan keterbatasan ekonomi, khususnya yang tinggal di kos. “Kalau salah bawa, bekalnya ditarik. Aku agak kontra, apalagi ada teman-teman yang ngekos dan ekonominya terbatas,” katanya.
Jati juga mengungkapkan adanya insiden papermob miliknya dicoret dengan gambar alat kelamin. Ia menegaskan perbuatan itu dilakukan oleh sesama mahasiswa baru, bukan panitia. “Aku pun heran, ini dilakukan maba lain, bukan panitia,” ungkapnya.
Namun, Jati mengungkapkan mendengar kabar dari temannya bahwa pelaku yang mencoret papermob miliknya itu sempat ditendang panitia. Ia menekankan informasi tersebut belum jelas. “Kawanku lihat pelaku ditendang sama panitia. Tapi aku sendiri nggak lihat, jadi menurutku masih abu-abu,” kata Jati.
Di sisi lain, isu inaugurasi setelah PKKMB juga sempat muncul. Dari keterangan beberapa mahasiswa baru yang diwawancarai, mereka mengungkapkan tidak ada inaugurasi setelah rangkaian acara PKKMB. Adapun keterlambatan kepulangan peserta di hari ketiga disebut karena hujan deras yang turun setelah pukul 18.00.
Menanggapi hal ini, Ketua BEM FH USU, Afif Hauzaan Abid, membenarkan bahwa merchandise tidak diwajibkan dan penugasan surat tidak bersifat mengikat. Ia juga menegaskan suara keras panitia muncul ketika peserta sulit diatur, namun tidak ada kata-kata kasar.
Mengacu pada perpeloncoan yang ramai dibahas, Abid menyatakan bahwa pihaknya telah membuka kanal pengaduan yang dapat diakses siapa saja yang merasakan perilaku tidak menyenangkan atau tindak tanduk perpeloncoan selama masa PKKMB. “Kalau memang ada yang merasa diperpelonco, silakan lapor, kami siap mendampingi,” ujarnya (19/8).
Abid juga menyebut sesi salam “Maha Dewa–Maha Dewi” berlangsung selama 30 menit dengan sepengetahuan fakultas. Ia menambahkan bahwa prank ulang tahun memang dilakukan terhadap tiga mahasiswa baru.
Hingga kini, mahasiswa baru yang diwawancarai Suara USU konsisten menyatakan tidak melihat dan mengalami perpeloncoan secara langsung selama rangkaian PKKMB FH USU 2025. Namun, sejumlah isu teknis, prank, serta cerita simpang siur masih menyisakan tanda tanya. Sebagian besar mahasiswa baru mengaku kegiatan berjalan dalam batas wajar, meski dinamika yang muncul tetap menimbulkan perdebatan.
Redaktur: Jesika Yusnita Laoly
Leave a comment