
Reporter: Nelly Nadezda Berzanti Novna
Suara USU, Medan. Tim Horas dari Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Sumatera Utara (USU) berhasil meraih juara 2 dalam ajang International Business Model Canvas (BMC) Competition 2025. Kompetisi ini dilaksanakan secara daring pada 7 oktober 2025 sebagai bagian dari perayaan 61st Anniversary of Universitas Muhammadiyah Purworejo dengan Camarine Norte State College dan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Pahang Branch, Malaysia.
Dalam kompetisi tingkat Internasional ini, peserta diminta untuk menyusun Business Model Canvas (BMC), yang kemudian dipresentasikan dalam bentuk video berbahasa Inggris dengan durasi 3-4 menit, dan di upload melalui kanal YouTube pribadi tim peserta.
Tim Horas FEB USU ini terdiri dari Dira Riyani (ketua tim), Atiqa Zhakira, dan Ahmad Syukri Siregar. Adapun pihak lain, yaitu Ibu Nurmala Fitri S, S.E., M.Si., selaku dosen pembimbing yang turut membantu memantapkan strategi penyusunan BMC.
Dira Riyani menjelaskan bahwa timnya mengangkat topik tentang Digital Business Technology, yaitu inovasi aplikasi yang bernama Farm+. Aplikasi ini menawarkan solusi lengkap melalui fitur Pertanian Cerdas (smart farming) yang akan membantu petani menanam lebih banyak, sensor pertanian cerdas yang memonitor proses tanam, serta akses pasar langsung agar petani dapat menjual hasil panen baik ke bisnis lain (B2B) maupun langsung ke konsumen (B2C).
Ide ini lahir dari keresahan terhadap kondisi Indonesia sebagai negara agraris yang seharusnya memiliki potensi besar di sektor pertanian, namun minim dalam penerapan teknologi modern, sehingga produktivitas dan efisiensi hasil panen tidak optimal.
“Dari permasalahan tersebut, kami melihat adanya peluang untuk menghadirkan solusi digital (aplikasi Farm+’ yang tidak hanya membantu meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga mendorong transformasi digital pertanian Indonesia menuju sistem yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan,” jelas Dira.
Dalam proses persiapannya, tim menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam membagi waktu diskusi di tengah jadwal kuliah yang berbeda-beda. Meski begitu, kekompakan dan komitmen membuat mereka mampu menyelesaikan proyek hingga akhirnya dinobatkan sebagai juara 2 kategori Digital Business Technology.
“Rasanya sangat senang dan terharu. Kami bangga karena ide yang berangkat dari keresahan terhadap kondisi petani ternyata diapresiasi dan dianggap punya potensi nyata untuk dikembangkan,” tambah Dira.
Bagi Tim Horas, motivasi mengikuti kompetisi Internasional ini bukan sekadar ingin menang, tetapi untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan inovatif, sekaligus menguji ide bisnis yang berangkat dari isu sosial bisa berkembang menjadi solusi nyata di kancah Internasional.
“Kompetisi seperti ini sangat penting bagi mahasiswa, khususnya di bidang bisnis dan kewirausahaan. Selain menambah pengalaman dan jejaring, ini juga untuk melatih berpikir strategis dalam mengubah ide menjadi solusi nyata, berkolaborasi, sekaligus membekali mereka untuk bersaing dan berinovasi di tingkat global,” ungkap Dira.
Meski masih berupa konsep, inovasi Farm+ dapat menjadi langkah awal menuju pemanfaatan teknologi yang lebih luas bagi kesejahteraan petani dan kemajuan sektor agraris nasional. “Untuk saat ini, Farm+ masih sebatas ide dan konsep, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkannya lebih lanjut atau berkolaborasi di masa depan agar dapat memberikan dampak nyata bagi sektor pertanian Indonesia,” tambah Dira.
Melalui inovasi Farm+, Tim Horas FEB USU berharap ide ini dapat diimplementasikan sebagai solusi nyata bagi para petani di seluruh Indonesia, khususnya mereka yang masih menggunakan metode pertanian konvensional.
Redaktur: Katrin Alina
Leave a comment