Home Kabar SUMUT Mahasiswa Seni Unimed Pentaskan Ketabahan Perempuan Batak dalam “Bunga di Pinggir Jurang”
Kabar SUMUT

Mahasiswa Seni Unimed Pentaskan Ketabahan Perempuan Batak dalam “Bunga di Pinggir Jurang”

Share
Dokumentasi: Suara USU

Reporter: Dinda Ayu Fania, Merry Agnus Dei Gultom

Suara USU,  Medan. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Seni Pertunjukan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Medan (Unimed), Uci Rahmadha Putri, resmi mementaskan naskah lakon bertajuk Bunga di Pinggir Jurang, sebuah karya yang menyoroti ketabahan perempuan Batak dalam menghadapi tekanan sosial, budaya, dan beban keluarga yang kerap tidak terlihat. Naskah ini dipentaskan sebagai bagian dari tugas akhir sekaligus ruang refleksi bagi penonton.

Naskah Bunga di Pinggir Jurang terinspirasi dari realitas perempuan Batak yang sering memikul beban emosional dan domestik secara diam-diam. Tokoh utamanya, Arumi, digambarkan sebagai perempuan muda yang rapuh, tetapi tetap bertahan merawat ibunya yang sakit jantung, serta menghadapi rencana perjodohan yang ditujukan untuk melunasi hutang keluarga. “Bunga itu adalah Arumi, sementara jurang adalah tekanan sosial dan budaya yang menyeret kehidupannya,” jelas Uci. Hubungan Arumi dan sang ibu menjadi inti emosional lakon ini, berupa rindu, pengorbanan, kasih sayang, hingga ketakutan akan kehilangan.

Uci menegaskan, bahwa pementasan dilakukan bukan hanya untuk memenuhi syarat akademik, melainkan sebagai ruang penyembuhan, kesempatan menyuarakan ketabahan perempuan. Selain itu, pementasan ini merupakan sarana menghadirkan pengalaman teatrikal yang kuat lewat perpaduan musik, tarian, serta perubahan suasana dramatik dari sekolah, kampung, hingga pernikahan penuh tekanan. Menurutnya, kisah ini layak disuarakan karena menggambarkan realitas banyak perempuan yang hidup bermartabat di tengah tekanan takdir.

Proses penciptaan karya ini menghadirkan tantangan besar bagi Uci yang tengah berada pada tahun akhir kuliah. Ia harus membagi waktu antara penulisan laporan, revisi akademik, koordinasi tim produksi lintas angkatan, hingga pendalaman emosi sebagai pemeran utama. Meski menjadi satu-satunya mahasiswa angkatan 2020 yang terlibat, Uci menggandeng tim dari berbagai angkatan mulai dari angkatan 2017 hingga 2025, hingga melibatkan pihak luar kampus demi memperkuat kualitas pementasan.

Pada sisi teknis, pengaturan transisi dari adegan sekolah ke suasana perkampungan menjadi tantangan terbesar, selain menjaga stamina dan konsistensi latihan. Secara emosional, Uci harus menyeimbangkan perasaan pribadi dengan luka dan tekanan tokoh Arumi. “Proses ini menguras batin, tapi justru menjadi pelajaran paling berharga,” ungkapnya.

Melalui karya ini, Uci berharap penonton dapat lebih peka terhadap perjuangan yang tidak terlihat di balik ketenangan seorang perempuan. Bagi sesama mahasiswa seni, ia menekankan bahwa seni adalah ruang penyembuhan dan pertumbuhan. Ia juga menyampaikan, bahwa karya terbaik lahir dari kejujuran, kolaborasi, dan keberanian untuk tampil rapuh.

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.