SUARA USU
Opini

Menanamkan Kesadaran Toleransi Masyarakat Dalam Membangun Kerukunan Antar Umat Beragama

Reporter : Rafalinsi M Sitepu

Suara USU, Medan. Toleransi merupakan masalah di Indonesia yang masih ada sampai sekarang terutama dalam toleransi beragama. Sama pentingnya seperti kerukunan, dua hal ini menjadi alat pemersatu bangsa yang mengharuskan kita untuk menanamkan dua hal itu dengan baik dan benar. Hampir semua konflik toleransi yang terjadi karena kesalahpahaman, seperti timbulnya konflik karena terputusnya informasi yang benar di antara pemeluk agama dari satu pihak kepihak yang lain sehingga menimbulkan masalah

Masyarakat melihat toleransi sebagai cara atau alat untuk menghargai atau menghadapi perbedaan yang ada sebagai cara untuk menyatukan masyarakat dalam kerukunan. Dengan kata lain, toleransi berarti mampu untuk memposisikan diri sebagai orang lain agar dapat memahami rasa dan definisi dari toleransi itu sendiri. Sehingga kita mampu menghindari segala kemungkinan perilaku negatif yang mampu membawa musibah bagi kerukunan suatu umat beragama.

Menegakkan toleransi dalam membangun kerukunan dalam masyarakat umat beragama bukan hanya pergerakan dari satu orang saja. Namun kumpulan orang-orang dari masyarakat yang merasa bertanggung jawab dalam meningkatkan rasa toleransi masyarakat beragama.

Menanamkan kesadaran toleransi dimulai dari hal-hal kecil, misalnya saling menghargai antar individu lebih dulu. Kemudian kesadaran masyarakat untuk saling bergotong royong mendirikan tempat-tempat ibadah atau tempat-tempat suci, tanpa membicarakan atau memperdebatkan tentang agama-agama yang dianut dan membantu satu sama lain tanpa memandang agama, kesadaran masyarakat untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain dan juga aktif dalam organisasi di masyarakat, saling sapa-menyapa, tolong menolong dalam hal kebaikan, bersilaturahmi terhadap semua tetangga serta bersilaturahmi terhadap sesama antar umat beragama tanpa memandang agama di antara satu sama lain.

Jika toleransi ini tidak dijaga, dikhawatirkan akan semakin banyak oknum yang akan menyebabkan perpecahan di sebuah masyarakat beragama, bisa melalui gunjingan, ejekan, berita hoaks, perundungan, bully, dan lainnya. Ditakutkan akan memunculkan stigma-stigma jelek tertentu yang dapat membahayakan persatuan masyarakat umat beragama.

Redaktur : Fitri Dian Jannah


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Peran Mahasiswa dalam Melestarikan Budaya Lokal di Era Globalisasi

redaksi

Kilas ke Belakang, Langkah ke Depan: Refleksi Akhir Tahun Mahasiswa

redaksi

Persahabatan Bagai Kepompong, Terikat dengan Pancasila Tidak?

redaksi