Home Tempat Mengenal Lebih Dekat Istana Darul Arif Kota Galuh Perbaungan, Istana Kesultanan Serdang
Tempat

Mengenal Lebih Dekat Istana Darul Arif Kota Galuh Perbaungan, Istana Kesultanan Serdang

Share

Oleh: Muhammad Shalihul Amri

Suara USU, Medan. Kesultanan Serdang merupakan salah satu kerajaan Melayu yang berdiri pada abad ke-18 di wilayah pesisir timur Sumatera Utara, tepatnya di kawasan Serdang Bedagai. Kesultanan ini lahir dari pemisahan dengan Kesultanan Deli, diprakarsai oleh Tuanku Umar Johan Pahlawan pada tahun 1723. Dalam perjalanannya, Serdang tumbuh sebagai pusat kebudayaan Melayu yang menjunjung tinggi nilai adat, seni, dan kearifan lokal, serta memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan rakyat terhadap kolonialisme.

Berdirinya istana Kesultanan Serdang bermula dari pembangunan Istana Tanjung Puteri oleh Sultan Serdang pertama, Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah, pada tahun 1750 di Kampung Besar Serdang. Istana ini menjadi pusat pemerintahan sekaligus tempat tinggal Sultan. Setelah Tuanku Umar wafat, istana dipindahkan ke Rantau Panjang oleh Tuanku Basyaruddin Syaiful Alamsyah, putra Sultan Serdang ke-III, dan didirikanlah Istana Darul Arif Rantau Panjang pada tahun 1816 di wilayah Pantai Labu. Kemudian, pada masa pemerintahan Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah, putra Tuanku Basyaruddin, istana kembali dipindahkan ke Kota Galuh, Perbaungan. Di sinilah Istana baru Darul Arif yang dibangun pada tahun 1896 sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Serdang.

Salah satu simbol kejayaan Kesultanan Serdang adalah Istana Darul Arif. Istana ini berdiri megah di atas lahan seluas 952 hektar di Kota Galuh, Perbaungan, Kampung Melati. Letaknya strategis, berbatasan dengan Selat Malaka di utara, Dolok dan Simalungun di selatan, Bedagai di timur, serta Deli di barat. Lebih dari sekadar pusat pemerintahan, Istana Darul Arif menjadi representasi kekuasaan, budaya, dan identitas politik Kesultanan Serdang.

Istana ini mengadaptasi arsitektur Melayu klasik yang sederhana namun tetap megah. Warna kuning, hijau, dan hitam pada tiang soko guru, dinding, lantai, langit-langit, pintu, dan jendela menyatu harmonis dengan alam sekitarnya. Berdiri di tengah hamparan sawah, istana bertingkat lima itu tampak menjulang ke langit. Ukiran khas seperti pucuk rebung, silang berkait, tampuk manggis, bunga pinang, dan bunga kundur memperkuat unsur alami pada bangunannya.

Bangunan utama berbentuk oktagonal dan beratap sirap bersusun menjulang tinggi seperti menara, sehingga terlihat dari kejauhan. Lantai dasar digunakan untuk aktivitas Sultan, termasuk balai tempat rakyat dan bangsawan menghadap, ruang musik bagi para putri, serta singgasana Sultan dan Permaisuri yang dikenal sebagai Panca Persada, tempat dilangsungkannya upacara adat “Menjunjung Duli.” Di lantai atas terdapat ruang luas bernama “Salon,” yang berfungsi sebagai ruang umum untuk menerima tamu kehormatan, bangsawan, dan pejabat tinggi.

Singgasana Serdang mirip pelaminan, terdiri atas dua kursi lebar berlapis beledu kuning di atas panggung segi delapan bertangga tiga. Kain kuning menghiasi panggung dan dinding latar, lengkap dengan awning dan lambang kerajaan: dua ekor kuda mengapit bola dunia bermahkota, payung bertingkat tiga, serta dua pucuk meriam bersilang. Di bawahnya tergantung pita bertuliskan wa-thiqu-billah dalam aksara Jawi dan tulisan “Kerajaan Negeri Serdang.”

Lantai dua berfungsi sebagai ruang penyimpanan regalia dan simbol kebesaran kerajaan, cenderamata dari tamu kerajaan, dan perlengkapan musik. Hanya Sultan dan orang-orang tertentu yang diizinkan dapat melihat atau menyentuh benda-benda ini.

Di lantai tiga, terdapat koleksi pakaian kebesaran Sultan dan Tengku Mahkota, termasuk mahkota, lencana emas berukir, dan berbagai pernak-pernik resmi yang biasa dikenakan dalam upacara adat.

Lantai empat memiliki jendela besar di setiap sisi, memungkinkan cahaya alami masuk sepenuhnya. Di salah satu dinding tergantung cermin besar yang disebut “kaca gila,” karena pantulannya menghasilkan bentuk yang lucu dan tidak beraturan. Di pucuk tertinggi bangunan, yang disebut Mahligai, Sultan Sulaiman biasa memainkan biola “seribu”-nya, menjadikan ruang ini favorit pribadinya.

Istana ini juga berfungsi sebagai sanggar seni. Ruang-ruangnya dipakai untuk latihan menari, bernyanyi, dan bermain alat musik. Beragam bentuk seni pertunjukan, dari yang tradisional hingga populer, dikembangkan dan menjadi bagian dari khazanah seni budaya Serdang.

Namun, pada masa Revolusi Sosial tahun 1946, istana ini dibumihanguskan demi menghindari pendudukan Belanda yang mendarat di wilayah Pantai Cermin. Kini, untuk mengenang kemegahan masa lalu, sebuah replika Istana Darul Arif dibangun.

Replika ini diprakarsai oleh Sultan Serdang Allahyarham Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, SH dan diresmikan pada 7 Januari 2012. Pembuatannya ditujukan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan kejayaan Kerajaan Serdang yang dikenal dekat dengan rakyat dan lebih berpihak pada kesejahteraan masyarakat ketimbang kepentingan kolonial Belanda. Selain menjadi simbol penghormatan, replika ini juga menjadi media pembelajaran sejarah bahwa pernah ada sebuah kerajaan yang berjaya dan bermartabat di tanah Sumatera, yakni Kesultanan Serdang.

Redaktur: Katrin Alina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.