SUARA USU
Opini

Menilik Perkembangan dan Suksesnya Bahasa Indonesia

Oleh : Muhammad Keyvin Syah

Suara USU, Medan. Wacana untuk membuat bahasa melayu menjadi bahasa pengantar kedua setelah bahasa inggris di ASEAN menjadi bahan diskusi dan perdebatan menarik di antara warganet Indonesia dan Malaysia. Bahasa Indonesia memang memiliki akar dari bahasa melayu yang distandarisasi. Seiring waktu bahasa ini menjadi identitas persatuan di Indonesia.

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang dinamis dan inklusif. Hal ini tercermin dengan banyaknya kosa kata baru yang muncul dan dimasukkan ke dalam KBBI. Bahasa Indonesia dipilih karena dirasa bersifat netralitas dari suku, agama, etnis, dan ras tertentu. Hal ini membuat bahasa ini mudah diterima di tengah beragamnya masyarakat Indonesia. Hasilnya dapat kita rasakan sekarang, hampir tidak ada resistensi dan penolakan dari masyarakat Indonesia.

Zaman Kolonial

Berbeda dari kebanyakan orang yang tau bahwa Indonesia dijajah 350 tahun oleh Belanda, tetapi sebenarnya itu tidak tepat. Hal ini karena tidak semua daerah di Indonesia ditaklukan dalam satu waktu.  Ini membuat bahasa Belanda tidak ramai dipakai di nusantara saat itu. Pada masa lalu bahasa daerah masih dipakai sebagai bahasa sehari-hari di masyarakat ataupun kerajaan, sementara bahasa Melayu Kreol dipakai sebagai bahasa perdagangan di kota-kota pelabuhan.

Belanda pada tahun 1901, memutuskan untuk melakukan politik etis. Pada saat itu mulai di bangun sekolah-sekolah pendidikan untuk kalangan pribumi indonesia. Namun, pada saat itu bahasa Belanda masih di pandang bahasa elit. Hal ini karena yang masuk sekolah kebanyakan adalah kalangan atas. Upaya untuk menyebarkan bahasa Belanda pupus setelah Jepang menggantikan Belanda menjadi penjajah di Indonesia pada tahun 1942. Jepang kemudian mengajarkan bahasa Jepang dan bahasa Indonesia di sekolah.

Sumpah Pemuda

Berbagai organisasi kepemudaan sudah terbentuk pada awal abad 20 seperti Budi Utomo. Hal ini karena mulai tumbuhnya kesadaraan bahwa hanya dengan bersatulah bangsa ini dapat merdeka. Perjuangan juga mulai merambah ranah politik dan pendidikan. Hal ini ditunjukkan dengan maraknya buku-buku tentang kondisi dan situasi rakyat di hindia belanda pada masa itu, salah satunya buku Habis Gelap Terbitlah Terang karya R.A kartini.

Puncaknya adalah sumpah pemuda pada tahun 1928. Peristiwa ini adalah salah satu peristiwa terpenting sebelum kemerdekaan Indonesia. Organisasi kepemudaan dari seluruh penjuru Indonesia merumuskan tentang identitas Indonesia. Salah satunya adalah menjunjung bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Bahasa Jawa tidak dipilih karena para pemuda saat itu tidak ingin suku lain merasa cemburu. Selain itu bahasa Jawa juga punya 3 tingkatan yaitu ngoko, madya dan kromo yang lebih sulit dipelajari.

Setelah Merdeka

Setelah merdeka pada tahun 1945, bahasa Indonesia menjadi bahasa untuk kegiatan formal dan bahasa pengantar pendidikan. Bahasa daerah masih dipakai sebagai bahasa sehari-hari di sebagian besar Indonesia hingga kini. Sementara itu di kota-kota besar pelabuhan sebelumnya sudah ada bahasa Melayu Kreol. Hal ini menimbulkan diglossia di masyarakat Indonesia karena perbedaan diatara keduanya. Bahasa Kreol Jakarta kemudian berkembang menjadi bahasa gaul.

Setelah merdeka masyarakat menggunakan ejaan Van Ophuijsen. Pada tahun 1972 terjadi perubahan pada penulisan bahasa Indonesia. Hal ini karena dibentuknya Majelis Bahasa Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia (MABBIM). Lembaga ini adalah sebuah badan yang dibentuk untuk merancang dan memantau perkembangan bahasa Melayu/Indonesia di negara-negara tersebut. Kemudian ejaan yang dirancang itu disebut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Perubahaannya terlihat dari penamaan Soeharto menjadi Suharto.

Suksesnya bahasa Indonesia karena dapat diterima oleh semua pihak di tanah air. Bahasa Indonesia menjadi lingua franca lebih dari 270 juta orang. Tidak ada perdebatan lagi di Indonesia tentang identitas bangsa ini. Polemik bahasa yang terjadi ini karena perbedaan sejarah Indonesia dan Malaysia. Sebaiknya isu politis yang sensitif seperti ini dipikirkan matang-matang terlebih dahulu.

 

Redaktur: Miranda Agnelya Naibaho


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Peraturan Rektor USU No. 28 Tahun 2023, Pedang Runcing Rektorat untuk Ormawa

redaksi

Mahasiswa Bebas Skripsi? Standar Baru Pendidikan Indonesia

redaksi

Mengenal Doomscrolling dan Pengaruhnya Terhadap Kesehatan Mental

redaksi