
Oleh: Debora Gracia Nauli Siregar
Suara USU, Medan. Film pendek “Berdoa, Mulai” yang tersedia di YouTube adalah salah satu karya lokal yang patut diapresiasi, bukan hanya karena dramanya yang megah atau sinematografinya yang spektakuler, tetapi justru karena kesederhanaannya dalam menyampaikan pesan yang kuat. Film ini mengangkat kehidupan seorang remaja Katolik bernama Ruth yang tinggal di lingkungan masyarakat mayoritas Muslim, dengan narasi yang lembut namun penuh makna. Tanpa menggunakan konflik frontal atau narasi yang meledak-ledak, “Berdoa, Mulai” dengan elegan memperlihatkan dinamika kehidupan lintas agama dalam bingkai keseharian.
Sejak adegan pembuka, penonton langsung diajak menyelami atmosfer yang khas. Ruth berada dalam realitas sosial yang sangat Islami. Di sekolah, doa dipimpin dengan tata cara Islam. Di rumah, adzan maghrib terdengar setiap sore. Di supermarket, musik religi menggema. Bahkan televisi menyisipkan adzan sebagai pengingat waktu salat. Namun menariknya, Ruth tidak menunjukkan keberatan sedikit pun. Ia menyikapi semuanya sebagai bagian dari realitas hidup di tanah air yang plural dan penuh warna.
“Related banget! Di sekolah doa Islam, i’m okay. Di rumah tiap maghrib dengar adzan, i’m good. Di supermarket ada lagu religi, i’m enjoy. Saya tidak merasa terkucilkan karena saya tahu ini tanah yang mayoritas berbeda dengan saya,” komentar seorang penonton di kolom YouTube film ini yang mengalami pengalaman serupa. Ungkapan ini menunjukkan bahwa banyak dari kita, khususnya yang hidup sebagai minoritas, telah belajar hidup berdampingan dengan budaya dominan tanpa merasa harus mengorbankan identitas.
Namun film ini tidak hanya menggambarkan adaptasi pasif dari minoritas terhadap mayoritas. Dengan pendekatan simbolik, film ini juga menyisipkan pesan-pesan kritis. Salah satu contohnya adalah ketika seorang teman Ruth mendapat nasihat, “Jangan memilih-milih dosa.” Kalimat sederhana ini mengandung makna mendalam, mengajak penonton merenungkan standar ganda yang kerap terjadi dalam kehidupan religius. Begitu pula dengan adegan dua remaja yang berdiskusi hangat di masjid, sekilas ringan, tapi sesungguhnya merefleksikan keragaman cara pandang bahkan dalam kelompok yang sama.
Visualisasi pun dipakai secara efektif untuk memperkuat pesan. Adegan Ruth berdiri di tengah teman-temannya yang berhijab saat upacara, menjadi potret diam namun kuat tentang posisi minoritas di tengah mayoritas. Film ini seperti berbisik, “Lihatlah realitas ini. Tidak untuk dihakimi, melainkan untuk direnungkan.”
Salah satu hal yang menuai perhatian dari penonton berlatar belakang Katolik adalah penggunaan penutup doa dalam film ini yang dinilai tidak sesuai dengan tradisi Katolik. Dalam adegan tertentu, karakter Ruth mengakhiri doanya dengan kalimat, “Dalam nama Tuhan Yesus, Haleluya, Amin”, ungkapan yang lebih dikenal dalam tradisi Protestan. Dalam praktik Katolik, penutup doa seperti ini jarang, bahkan tidak lazim digunakan. Secara umum, umat Katolik menutup doa dengan “Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, Amin,” atau dalam beberapa kasus, menambahkan perantaraan doa kepada orang kudus, seperti “Santa Maria, doakanlah kami.” Doa kepada para santo dan santa dalam Katolik pun tidak bisa digunakan secara sembarangan, karena masing-masing memiliki makna dan posisi tersendiri dalam tradisi iman. Ketidakhadiran elemen-elemen ini dalam representasi Ruth sebagai remaja Katolik menunjukkan kurangnya riset mendalam dalam membentuk karakter religiusnya. Hal ini penting, karena dalam konteks film yang mengangkat isu lintas agama, ketelitian terhadap detail teologis seperti ini bukan sekadar teknis, tetapi menyangkut otentisitas dan sensitivitas terhadap keberagaman iman di Indonesia.
Terlepas dari kekeliruan kecil tersebut, secara teknis film ini berhasil menyampaikan pesannya dengan cara yang efektif. Durasi yang singkat tidak menghalangi film ini untuk menyusun narasi yang runtut, ringkas, dan menyentuh. Tata kamera yang tenang dan tidak banyak bergerak memberi kesan dokumenter sekaligus intim. Pemilihan warna dan pencahayaan cenderung netral dan alami, memperkuat kesan realis dan “apa adanya” dari cerita. Akting para pemain, terutama pemeran Ruth, terasa natural dan tidak dibuat-buat, mendukung suasana kontemplatif yang ingin dibangun.
Musik latar pun digunakan dengan sangat minim, bahkan nyaris tanpa skor dramatis. Ini membuat dialog dan suara lingkungan menjadi lebih terasa nyata, seolah kita ikut berjalan bersama Ruth dalam kesehariannya. Keseluruhan penyutradaraan menunjukkan keberanian untuk membiarkan momen berbicara tanpa harus digiring secara emosional, sesuatu yang jarang ditemukan di film pendek dengan tema berat.
Pada akhirnya, film ini bukan untuk mencari siapa salah dan benar, tetapi untuk mengajak kita berefleksi tentang realita yang sering terabaikan. Bahwa menjadi minoritas bukanlah hal yang selalu menyakitkan, kadang, ia justru membuka jalan untuk membangun pemahaman dan kedewasaan sosial. Sebaliknya, bagi kelompok mayoritas, film ini mengajak refleksi. Apakah kita sudah menciptakan ruang yang inklusif, atau masih perlu belajar memahami perspektif mereka yang berbeda?
“Berdoa, Mulai” bukan sekadar film. Ia adalah percakapan diam-diam tentang toleransi yang kerap hanya jadi wacana, tapi jarang menyentuh level pengalaman personal. Di tengah masyarakat yang masih menganggap diskusi lintas agama sebagai sesuatu yang sensitif atau bahkan tabu, film ini hadir sebagai ruang aman untuk mulai berdialog, setidaknya dengan diri sendiri.
“Berdoa, Mulai” telah menorehkan prestasi membanggakan di berbagai ajang film, mulai dari nominasi Piala Maya 2022, Madani Film Festival, hingga masuk dalam 30 Film Cerita Pendek Rekomendasi FFI 2022. Film ini juga terpilih dalam Official Selection Jakarta Film Week 2022, JAFF 2023, dan National Competition Minikino Film Week 2023, serta shortlisted di ReelOzInd! Australia Indonesia Short Film Festival 2022.
Sebagai penutup, “Berdoa, Mulai” adalah film yang layak ditonton oleh siapa pun yang hidup di Indonesia. Ia tidak menggurui, tidak menyudutkan, tetapi justru mengajak untuk memahami. Di tengah keanekaragaman bangsa ini, film ini adalah pengingat bahwa harmoni tidak dibangun dengan menyamakan segalanya, melainkan dengan membuka ruang untuk melihat dan menerima satu sama lain.
Redaktur: Vimelia Hutapea
Leave a comment