SUARA USU
Featured

Paris Van Sumatera, Memorial dari Kota Medan

Oleh: Endang Tia Risha

Suara USU, Medan. Jika kota Bandung disebut sebagai Paris Van Java, Sumatera juga memiliki “paris-nya” sendiri yaitu Kota Medan. Kesawan merupakan wajah peradaban metropolitan dan menjadi saksi sejarah kota Medan pada zaman dulu. Kesawan dibentuk sebagai pusat administratif dan perekonomian Kolonial Belanda khususnya di Sumatera Utara yang bertujuan untuk mengatur segala jenis hasil perkebunan (berasal dari jajahan) yang akan dijual ke luar negeri. Di kawasan Kesawan, sisa-sisa bangunan peninggalan kolonial Belanda masih tersusun rapi di sepanjang Jl. Ahmad Yani yang panjangnya lebih kurang satu kilometer, dan beberapa di Jl. Hindu, serta di Jl. Perniagaan tepatnya di Pasar Ikan Lama. Di sana berdiri kantor-kantor pemerintah Belanda, toko-toko para pedagang Tionghoa, restoran, kantor pos, stasiun dan pasar. Sebagai pusat kota, Pemerintah Belanda mendirikan lapangan Esplanade atau sekarang disebut Lapangan Merdeka. Kawasan lapangan tersebut dikelilingi bangunan-bangunan tua yang menunjukkan denyut kehidupan kota tempo dulu yang masih tersaji dan menjadi saksi sejarah di kawasan itu sampai hari ini. Salah satu bangunan tua yang masih berdiri megah saat ini adalah gedung London Sumatra (Lonsum). Peninggalan kolonial Belanda ini selesai dibangun pada 1906 bersamaan dengan lahirnya Ratu Juliana, Royal Dutch Family oleh David Harrison, kini masih berfungsi sebagai gedung perkantoran.

Selain itu juga, ada Supermarket pertama di kota Medan yang bernama Gedung Werenhuis. Terletak di Jl. Hindu, daerah Kesawan. Gedung berwarna putih ini memiliki dua lantai yang ditopang pilar-pilar kokoh. Pada dindingnya terdapat tulisan yang mengatakan bahwa supermarket itu dibangun pada tahun 1916 oleh arsitek berkebangsaan Jerman G Boss. Gedung ini menceritakan bagaimana para penjual dan pembeli khususnya para kaum elit (Belanda dan Tionghoa) saling bertransaksi di dalamnya. Kini gedung Werenhuis ini sudah terbengkalai, bagian dalamnya sudah hancur dan banyak sampah dan rumput liar tumbuh. Meskipun demikian, bagian luar gedung tersebut masih menyimpan ciri khas bangunan Eropa.

Tahun 1891 Belanda mendirikan dua wilayah utama. Daerah kesultanan Kota Maksum yang menjadi wilayah ibu kota Kesultanan Deli dan Gemeente Medan yang menjadi wilayah ibu kota Keresidenan Sumatra Timur. Pada dasarnya pembagian tersebut bertujuan untuk memudahkan pembedaan pengaturan orang-orang yang menjadi warga kesultanan dengan orang-orang yang menjadi warga Gemeente. Wilayah Gemente merupakan wilayah yang terlihat modern dan benar-benar bergaya kolonial Eropa. Sebagian besar fasilitas umum penunjang Medan berada di sini. Orang Eropa seluruhnya bermukim di wilayah ini dalam kantong-kantong gaya yang eksklusif. Begitu juga dengan orang Tionghoa dan Timur asing lainnya yang ditempatkan di sini dalam pemukiman yang khusus. Hanya sedikit orang dari kalangan pribumi yang tinggal di wilayah Gemeente. Itupun hanya orang yang memiliki kepentingan tertentu. Kota Maksum diberikan kepada kesultanan Deli, ditandai dengan didirikannya Istana Maimoon, Taman Srideli, Kolam Raja sebagai tempat para sultan berenang, dan Mesjid Raya. Di kota Maksum ini juga kaum pribumi bermukim. Bangunan rumahnya berupa rumah panggung khas adat Deli. Jika dibandingkan dengan Gementee, kawasan Kota Matsum ini kumuh, dipenuhi bangunan ruko modern yang berdempetan, dan jarang ditumbuhi pohon. Sangat berbeda dengan kawasan Gementee yang banyak ditumbuhi pepohonan, bangunan Eropa yang menghiasi sepanjang jalannya, dan dilengkapi sebuah taman dihiasi patung Ahmad Yani.

Puncak perindustrian yang terjadi di kota Medan pada masa kolonial Belanda adalah setelah dibukanya perkebunan tembakau pada pertengahan abad ke-19 oleh pemerintah kolonial Belanda. Setelah dibukanya industri perkebunan, Kota Medan mulai berkembang dan maju. Sebagai suatu sejarah, hal tersebutlah yang membuat Kota Medan ini bisa berkembang sebagai kota industri seperti ini. Bekas sejarah perkebunan tembakau tersimpan dengan baik di Museum Perkebunan. Mulai dari daun tembakau kering, karung yang digunakan, timbangan, minyak hasil kelapa sawit, sampai buku pendataan pekerja ada di museum tersebut. Zaman dulu, para pekerja perempuan yang bertugas memilih daun tembakau harus memakai baju putih agar memudahkan ketika melihat warna daun lebih cerah.

Perkembangan kota Medan membuat banyak orang-orang India bermigrasi ke Medan. Sebagian dari mereka beragama Katolik. Dari situlah cikal bakal berdirinya gereja yang berbentuk seperti rumah ibadah umat Hindu (kuil). Seperti yang dibangun berdasarkan perpaduan unsur kebudayaan India. Gereja yang berfungsi sebagai tempat ibadah bagi umat Katolik keturunan Tamil India di Medan ini dinamakan Graha Maria Annai Velangkani. Ketika masuk ke sana, pengunjung akan melihat 3 rumah adat yang berdiri di atas gerbangnya. Ini menunjukkan bahwa siapapun bebas datang ke Gereja Velangkani tersebut. Bentuk bangunannya berupa punden berundak seperti Candi Prambanan. Bangunan tersebut merupakan bangunan akulturasi antara berbagai jenis kebudayaan terkhusus Katolik dan Hindu (India).

Redaktur: Yohana Situmorang

Related posts

Bullying : Merusak Mental dan Karakter Penerus Anak Bangsa

redaksi

Hobi Baca Buku? Ini 5 Aplikasi Baca Buku Gratis Favorit!

redaksi

Winda Coffee Studio,Tempat Nongkrong untuk Semua Generasi

redaksi