
Oleh: Anselmus Tarigan, Arya Ramadhan Syahputra, M. Alwi Husein Harahap, Kaleb Chan Oberlin Purba, Siti Aisyah Farha, Azmi Azaria, Filza Aziza Ghaisani S., dan Nur Haliza
Suara USU, Medan. Di era digital saat ini, tiktok menjadi aplikasi yang banyak dijangkau berbagai kalangan. Siapa yang tidak kenal TikTok? Aplikasi berbagi video pendek ini kini telah menjelma menjadi salah satu platform digital paling populer di dunia, termasuk di Indonesia. Dengan jenis konten yang beragam tiktok sering kali di akses oleh jutaan orang, terutama di kalangan generasi muda. Bagi mahasiswa, TikTok bukan lagi sekadar hiburan semata. Ia telah menjadi bagian dari rutinitas harian mulai dari tempat mencari informasi, melepas penat, hingga mendapatkan inspirasi belajar.
Namun, di balik popularitasnya, muncul berbagai pertanyaan mengenai manfaat konten yang terdapat dalam aplikasi TikTok. Apakah aplikasi ini hanya sekadar hiburan, atau justru dapat memberikan kontribusi positif bagi dunia akademik, khususnya dalam meningkatkan motivasi belajar mahasiswa? Pertanyaan tersebut kerap muncul, sebab motivasi belajar merupakan faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Mahasiswa yang memiliki motivasi tinggi biasanya lebih disiplin, produktif, dan mampu mencapai hasil akademik yang optimal.
Survei telah dilakukan terhadap 44 mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) melalui kuesioner yang terdiri atas 20 pertanyaan mengenai perbandingan konten edukatif dan konten hiburan di TikTok. Dalam survei tersebut, setiap pertanyaan menggunakan skala penilaian Likert dengan lima tingkat respons sebagai berikut:
1 = Sangat tidak setuju
2 = Tidak setuju
3 = Netral
4 = Setuju
5 = Sangat setuju
Dari survei tersebut diketahui bahwa mayoritas suara (14 suara) berada pada level 5 terkait respon penggunaan TikTok yang berlebihan. Namun apabila diamati lebih lanjut, konten TikTok memberikan suara pada level 3 (16 suara) terkait pengaruh terhadap tingkat semangat dan penundaan belajar mahasiswa. Meskipun konten TikTok dianggap memberikan kesenangan sesaat (didominasi oleh kevel 4 sebanyak 16 suara), disaat bersamaan kontek Tiktok justru cukup membantu mahasiswa memahami proses pembelajaran dengan baik sekaligus memotivasi untuk belajar melalui konten edukasi yang ada (diperoleh kevel 4 sebanyak 16 suara). Tidak terbatas sampai disitu saja, konten edukasi ternyata memberikan pengaruh positif terhadap kedisiplinan dalam belajar (level 4 sebanyak 15 suara) dan membantu mendapatkan informasi perkuliahan dengan baik (level 4 sebanyak 22 suara). Didukung oleh data ini, pada pertanyaan selanjutnya diketahui mahasiswa dominan beranggapan bahwa konten edukasi TikTok lebih bermanfaat dalam mendukung prestasi akademik (level 5 sebanyak 23 suara) dan secara bersamaan konten hiburan justru cukup mengganggu konsenterasi belajar (level 3 sebanyak 21 suara).
Dalam penggunaan sehari-hari, konten edukasi dan hiburan TikTok dianggap bisa memberikan manfaat dalam menyeimbangkan proses belajar mahasiswa (level 5 sebanyak 22 suara) dengan catatan dapat mengendalikan diri secara bijak saat menggunakan aplikasi ini (level 5 sebanyak 28 suara). Meskipun konten edukasi Tiktok membantu dalam meningkatkan motivasi belajar dalam menggali informasi (level 4 sebanyak 16 suara), namun tetap saja pengaruh konten edukasi masih kuat. Distraksi ini mempengaruhi mahasiswa dalam mengatur waktu belajar secara konsisten (level 3 sebanyak 19 suara), menyebabkan mahasiswa condong mencari konten hiburan dahulu (level 4 sebanyak 18 suara). Hal ini terjadi karena konten hiburan cukup menarik perhatian mahasiswa (level 3 dan 4 masing-masing 12 suara). Dibalik kontradiksi ini, konten edukasi masih cukup kuat membantu mahasiswa dalam meningkatkan rasa percaya dirinya (level 3 dan 4 masing-masing 18 suara). Bahkan konten edukasi TikTok membantu mahasiswa untuk berani eksplorasi dan mempersiapkan diri menghadapi ujian (masing-masing pada level 3 dan 4 sebanyak 17 suara).
Berdasarkan temuan ini, konten edukasi di TikTok mampu memberikan pengetahuan baru secara singkat dan praktis. Mahasiswa merasa lebih termotivasi untuk belajar ketika menemukan konten yang relevan dengan mata kuliah mereka. Misalnya, video tentang tips menulis skripsi atau memahami teori ekonomi secara sederhana dapat menumbuhkan semangat belajar. Di sisi lain, penggunaan TikTok yang terlalu lama untuk hiburan justru membuat mahasiswa kehilangan fokus belajar. Fenomena procrastination sering terjadi akibat konsumsi konten hiburan berlebihan.
Konten edukasi lebih cenderung memberikan motivasi akademik jangka panjang, sementara konten hiburan lebih kepada motivasi jangka pendek berupa pengurangan stres. Keseimbangan antara keduanya menjadi kunci agar mahasiswa tetap termotivasi namun tidak terjebak dalam distraksi. Wawancara informal menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa Medan menggunakan TikTok setiap hari. Mereka mengakui bahwa konten edukasi membantu mereka meningkatkan pemahaman, sedangkan hiburan membuat mereka merasa lebih senang menjalani aktivitas akademik. Akan tetapi, tantangan terbesar adalah pengendalian diri dalam mengelola pemakaian TikTok sehari-hari. Oleh karena itu, sangat penting adanya kontrol diri yang tepat dalam penggunaan aplikasi ini bagi mahasiswa. Dengan demikian, manfaat yang didapatkan akan lebih banyak daripada mudaratnya. Maka mari bijak mengeksplorasi dan bijak mengelola konten edukasi.
Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar. S.Sos., M.Si
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment