SUARA USU
editorial

Penumpang wajib swab PCR, Industri Penerbangan Tanah Air Geger

Oleh : Surya Nugraha

Suara USU, Medan. Kementerian Perhubungan Republik Indonesia telah mengeluarkan syarat terbaru bagi masyarakat yang akan melakukan perjalanan melalui moda transportasi udara. Persyaratan terbaru ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) No.88/2021 tentang  Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang Dalam Negeri dengan Transportasi Udara pada Masa Pandemi Covid-19 yang ditetapkan sejak 21 Oktober 2021 berlaku efektif per Minggu (24/10).

Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa untuk penerbangan dari dan ke bandara di luar wilayah Jawa dan Bali dengan kategori PPKM Level 1 dan PPKM Level 2 wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif RT-PCR (Real Time-Polymerase Chain Reaction) dengan sampel maksimal 2×24 jam, atau hasil negatif RT-antigen dengan sampel maksimal 1×24 jam sebelum keberangkatan. Berbeda dengan luar Pulau Jawa-Bali dengan wilayah PPKM Level 1 dan PPKM Level 2, penerbangan dari dan ke Pulau Jawa-Bali wajib menunjukkan RT PCR yang sampelnya diambil 2×24 jam sebelum keberangkatan dan calon penumpang wajib menunjukkan kartu vaksin minimal dosis pertama. Hal yang sama juga berlaku untuk wilayah dengan kategori PPKM level 4 dan Level 3 di wilayah Jawa dan Bali.

Kebijakan ini berpotensi untuk tidak disambut dengan baik oleh berbagai maskapai di tanah air sebagai pelaku dalam industri penerbangan. Harga swab PCR yang tergolong masih mahal dapat menjadi alasan utama mengapa mereka protes terhadap pemberlakuan aturan tersebut. Masyarakat yang akan melakukan perjalanan menjadi terbebani dengan biaya yang tinggi. Meskipun Presiden Joko Widodo telah meminta agar harga maksimalnya adalah Rp 300.000,00, nyatanya hal ini tidak memberikan dampak signifikan terhadap jumlah okupansi penumpang. Dengan swab antigen saja jumlah penumpang merosot drastis, apalagi ditambah dengan swab PCR yang biayanya lebih tinggi. Pemerintah berserta jajaran aparat penegak hukum harus turut aktif dalam mengawasi permainan harga swab PCR dan swab antigen yang disediakan oleh pelaku layanan kesehatan.

Di tahun 2021, PT Angkasa Pura I (Persero) mencatat pergerakan penumpang di 15 bandara yang dikelola perseroan tersebut melorot 65,5% pada kuartal I 2021. Pada antara 2020-2021, tercatat mengalami penurunan sebesar 29,8% dari tahun 2019 sampai 2020 sebesar 48,2%. Dengan rendahnya angka okupansi penumpang maka secara bisnis menjadi suatu hal yang tidak baik bagi kondisi finansial maskapai sehingga dikhawatirkan akan mengancam keberlangsungan usaha suatu maskapai penerbangan. Di satu sisi maskapai harus tetap memberikan pelayanan prima dengan mengeluarkan biaya operasi (operational cost), beban gaji (salary expense), maupun biaya lainnya yang tergolong sangat tinggi dibandingkan dengan moda transportasi lainnya. Namun di sisi lain pemasukan maskapai dari penjualan tiket sangatlah minim di masa pandemi ini.

Serikat pekerja bandara maupun asosiasi profesi pilot dan awak kabin harusnya membuat suatu pernyataan mengenai ketidaksetujuan mereka. Syarat melakukan penerbangan yang berlaku sebelum hal ini sudah berjalan dengan baik dan efektif. Ditambah dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat baik di bandara maupun di pesawat selama penerbangan berlangsung. Vaksinasi dan swab antigen yang dilakukan secara rutin bagi para pilot, awak kabin, pekerja ATC (Air Traffic Control), teknisi, petugas layanan darat (ground handling), maupun petugas lainnya di bandara menjadi tidak maksimal pemanfaatannya. Belum lagi pesawat udara yang saat ini pada umumnya dioperasikan oleh berbagai maskapai yakni yang berasal dari pabrikan Boeing maupun Airbus sudah memiliki teknologi HEPA (High Eficiency Particulate Air).

Teknologi HEPA dalam sistem kerjanya menyaring serta membuat sirkulasi ulang dari kabin dan menyampurkannya dengan udara bersih dari luar pesawat. Sebagian udara yang berasal dari dalam dibuang ke luar kabin, sisanya dipompa melalui filter udara. EPA filter bekerja efektif dengan tingkat 99,9+% menghilangkan partikel seperti virus, bakteri dan jamur sebelum udara kembali didistribusikan (sirkulasi) ke kabin. Perputaran sirkulasi udara dalam pesawat yang dilengkapi HEPA berlangsung cepat. Dengan demikian sirkulasi udara yang segar di kabin diperbarui 20 hingga 30 kali dalam satu jam atau setiap dua hingga tiga menit, sehingga penumpang akan merasa aman, nyaman dan percaya diri untuk bepergian menggunakan pesawat udara. Dengan teknologi HEPA ini tingkat penularan Virus Corona relatif aman selama penerbangan berlangsung.

Pemberlakuan syarat penerbangan ini dikhawatirkan akan mempengaruhi kesejahteraan para pekerja di industri penerbangan. Kekhawatiran akan terjadi pemotongan gaji, dirumahkannya sebagian pekerja, sampai hal yang terburuknya adalah PHK akan dilakukan oleh maskapai. Di situasi pandemi dan ditambah dengan kondisi bisnis maskapai yang terus memburuk akan mempengaruhi sektor perekonomian pelaku industri penerbangan maupun sektor lainnya seperti pariwisata. Langkah pemerintah dalam menekan jumlah kasus Covid-19 perlu diapresiasi dan di samping itu dengan pengeluaran suatu regulasi haruslah mempertimbangkan banyak hal seperti keberlangsungan industri penerbangan tanah air.

Redaktur: Yessica Irene


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Dari BTS Meal hingga Euro, Baiknya Loyalitas Kpopers Disalurkan untuk Kebermanfaatan

redaksi

Memiskinkan Buruh dengan Dalih Pandemi

redaksi

UAS Online VS UAS Offline, Mana yang Lebih Asyik?

redaksi