
Oleh: Sinaga Tesalonika
Suara USU, Medan. Fenomena performative male sedang hangat diperbincangkan. Namun, kita perlu tahu apa sih performative male itu? Performative male adalah sebuah fenomena berpakaian ataupun gaya hidup laki-laki yang mengikuti identitas atau perilaku tertentu. Seperti yang dilansir dari Kompas.com, performative male adalah pria yang menampilkan citra yang terbuka secara emosional, sosok yang modern namun hanya ditampilkan di permukaan publik atau yang sifatnya untuk menarik perhatian wanita.
Performative male sendiri terdiri dari dua kata yaitu performative yang berarti ‘pertunjukan’ atau ‘perlakuan’ namun tidak bersifat alami, serta male yang berarti ‘laki-laki’. Jadi, performative male sendiri memiliki arti secara harfiah adalah laki-laki yang ingin menampilkan identitasnya melalui pertunjukan yang dilakukan lewat gaya berpakaian dan gaya hidup.
Fenomena ini muncul berawal dari platform sosial media seperti TikTok dan Instagram yang ditampilkan sebagai meme dan stereotip. hal ini juga semakin viral dengan adanya lomba performative male yang diadakan di Taman Langsat, Jakarta pada tanggal 2 Agustus 2025. Para peserta menggunakan pakaian yang dianggap merepresentasikan Performative Male seperti totebag, boneka labubu, matcha, dan tentu saja buku feminis.
Performative male sendiri identik dengan kepura-puraan seperti mereka sering menggunakan kata-kata kutipan feminisme di media sosial hanya untuk membentuk citra diri bahwa mereka adalah laki-laki progresif terbuka terhadap isu feminisme. Hanya saja ini sebagai topeng untuk mereka dapat menarik lawan jenis, juga untuk mendapatkan validasi dari banyak orang bahwa mereka orang progresif. Mereka juga tidak sungguh-sungguh memahami apa arti dari isu tersebut.
Menurut Oxford Art Journal, performative male juga tidak hanya identik dengan buku-buku feminisme yang mereka baca tapi juga lewat gaya hidup dan gaya berpakaian mereka. Perlu disadari bahwa pakaian bukan cuma sekedar pakaian yang kita kenakan atau pun melindungi tubuh kita tapi pakaian juga bisa merepresentasikan identitas gender. Seperti performative male, mereka merepresentasikan diri agar terlihat soft lewat gaya berpakaian mereka seperti menggunakan totebag, gaya berpakain yang “vintage” dan “artsy” untuk menampilkan diri agar terlihat soft dan berbeda dari yang lain.
Performative male sendiri menuai banyak kritikan karena mereka melakukan itu hanya ingin mengikuti perkembangan zaman, bukan karena benar-benar peduli. Performative male tidak salah, hanya saja ketika mereka melakukan kepura-puraan dan tidak menjadi diri mereka sendiri.
Redaktur: Vimelia Hutapea
Leave a comment