SUARA USU
Opini

Pertukaran Mahasiswa Kampus Merdeka, Benarkah Merdeka?

Pertukaran Mahasiswa Kampus Merdeka, Benarkah Merdeka?

Ditengah kejenuhan kuliah daring, pada Juni 2021 Kemendikbud-ristek meluncurkan salah satu dari sekian banyak terobosan kampus merdeka yaitu program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Dalam Negeri (PMM-DN). Namun, apakah benar pertukaran mahasiswa ini benar-benar merdeka?

Katanya program ini bertujuan untuk mengeksplor dan mempelajari keragaman nusantara, berteman dengan mahasiswa dari berbagai daerah, dan juga memperkuat atau memperluas kompetensi akademik. Namun, bagaimana jika program ini dilaksanakan sepenuhnya secara daring. Lalu apa bedanya dengan menonton youtube?

Awal peluncurannya mahasiswa di iming-imingi akan belajar langsung di Perguruan Tinggi luar pulau masing-masing. Tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat dimasa pandemi. Saat pengumuman tiba, dikabarkan bahwa keberangkatan ditunda hingga kondisi membaik. Akhirnya, hanya segelintir mahasiswa yang berkesempatan merasakan ‘pertukaran’ tersebut.

Ada yang berangkat, ada juga yang tidak. Hal ini menimbulkan kecemburuan apalagi minimnya informasi resmi dari panitia. Ditambah lambatnya proses administrasi termasuk pencairan uang saku dan pemesanan tiket. Hingga saat ini, masih ada mahasiswa yang berada dalam ketidakjelasan. Pemesanan tiket sudah diproses, namun tiket belum kunjung diterima. Padahal kuliah akan berakhir dalam beberapa pertemuan kedepan.

Daya tarik program ini adalah Modul Nusantara, dimana mahasiswa melakukan eksplorasi budaya baru. Kegiatannya dilaksanakan hampir setiap hari sabtu dan minggu, disertai tugas dan laporan. Namun, modul ini hanya dihargai sebanyak 2 SKS saja. Itu juga kalau pihak universitas bersedia meng-konversinya. Hal ini dirasa tidak setimpal, khususnya bagi mahasiswa yang mengikuti seluruh proses secara daring.

Selain itu, permasalahan seputar sistematika SKS dan proses belajar mengajar yang belum rampung mengakibatkan mahasiswa merasa dirugikan. Ada yang terpaksa belajar diluar bidang keilmuannya, sehingga Perguruan Tinggi tidak bersedia mengkonversinya. Hingga kendala-kendala teknis seperti tidak dapat mengikuti kelas dan ujian.

Pada dasarnya, konsep Pertukaran Mahasiswa Merdeka Dalam Negeri ini sangat menguntungkan sehingga mahasiswa menyambut dengan gembira. Namun, permasalahan seperti diatas membuat penerima program geram dan merasa kecewa terhadap program ‘percobaan’ ini.

 

Redaktur: Yulia Putri Hadi

Related posts

Budaya Mencatat dalam Era Perkuliahan Digital, Apakah Menghilang atau Bertahan?

redaksi

Menilik RUU DKJ: Demokrasi Hanya Tinggal Namanya Saja?

redaksi

Berani Melepas Jeratan Abusive Relationship

redaksi