Home Kabar Kampus Polemik “Dewi Themis Ecek-ecek” di PKKMB FH USU 2025
Kabar Kampus

Polemik “Dewi Themis Ecek-ecek” di PKKMB FH USU 2025

Share
Ilustrator: Sella Ramadani

Reporter: Jesika Yusnita Laoly, Khairani

Suara USU. Medan. Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Hukum (FH) Universitas Sumatera Utara (USU) 2025 menyisakan polemik. Ucapan “Dewi Themis ecek-ecek” yang dilontarkan Komisaris Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) FH USU, Gray A. Sembiring, pada hari kedua kegiatan, Jumat (15/8), terhadap lukisan karya panitia dalam sesi sosialisasi organisasi, menuai tudingan penghinaan. Mediasi antara pihak terkait gagal, sehingga memicu tarik-ulur permintaan maaf.

Panitia PKKMB FH USU 2025 menilai pernyataan sang Komisaris GMNI FH tersebut telah merendahkan marwah mereka di depan 570 mahasiswa baru. Sebaliknya, GMNI mengklaim ucapan tersebut adalah kritik sah dan bagian dari kebebasan berekspresi di ruang publik.

Tampaty Ujung, ketua panitia PKKMB FH USU 2025, menuturkan sejak awal mereka telah menetapkan rundown sosialisasi: dimulai dari organisasi-organisasi pemerintahan eksekutif mahasiswa seperti Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), dilanjutkan organisasi internal seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan kompetisi, serta ditutup kelompok Cipayung atau organisasi eksternal kampus.

Namun, pada hari pelaksanaan terjadi perubahan urutan. GMNI justru mendapat giliran tampil di tengah, sementara Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) ditempatkan di akhir. Panitia mengakui bahwa hal ini terjadi akibat miskomunikasi antara panitia dan Divisi Acara.

“Sentimen pribadi muncul dari pihak GMNI karena tidak sesuai rundown yang sudah disosialisasikan. Tapi kami tetap beri hak yang sama, yaitu tiga menit waktu orasi,” kata Tampaty Ujung, kepada Suara USU di Kafka, Minggu (17/8).

Menurut panitia, ketidakpuasan itu berujung pada aksi GMNI membentangkan lukisan Dewi Themis buatan panitia tahun lalu. Di akhir sosialisasi, Gray di hadapan 570 mahasiswa baru, dosen, dan kakak regu melontarkan kalimat yang dianggap menghina Panitia PKKMB FH USU 2025.

Bisa kalian bandingkan, kawan-kawan, Dewi Themis ecek-ecek itu dengan punya kami. Saya masih ingat jelas narasi tersebut,” ujar Rofifah Hartono, anggota PDD Panitia PKKMB FH USU (17/8).

Bagi panitia, ucapan itu merendahkan karya yang mereka buat dengan susah payah. Bahkan ketika proses pembuatan masih setengah jadi, unggahan panitia di Instagram disebut sempat disindir akun anggota GMNI. “Itu menurunkan marwah kami. Kami membuatnya lembur, hujan-hujanan, lalu dihina begitu saja,” tambah Rofifah Hartono.

Dalam wawancara terpisah bersama Suara USU, Gray A. Sembiring selaku Komisaris GMNI FH USU membantah tudingan tersebut. Menurutnya, istilah “ecek-ecek” bermakna fiksi, bukan penghinaan terhadap panitia.

“Dewi Themis itu mitologi Yunani, fiksi yang dijadikan simbol keadilan. Jadi sejak awal memang ecek-ecek. Itu kritik sah di ruang publik, bukan merendahkan panitia,” ujarnya kepada Suara USU di Café Santika, Senin (18/8).

Gray juga menegaskan bahwa membawa atribut organisasi dalam sosialisasi merupakan hal wajar. “Organisasi lain juga membawa kebanggaannya masing-masing. Jadi tak ada maksud membandingkan atau merendahkan,” katanya.

Terkait perbandingan karya, ia menilai itu bagian dari kritik. “Namanya karya publik, ya harus siap dinilai. Kita menjunjung demokrasi, bebas berpendapat,” tambahnya.

Persoalan ini berlanjut pada forum mediasi di lapangan basket FH, Jumat (15/8). Mediasi dihadiri pihak kemahasiswaan Dr. Robert, S.H., M.H., Ketua BEM FH, panitia, kakak regu, serta perwakilan GMNI.

Dalam forum, Gray disebut mengakui tindakannya dipicu emosi sesaat akibat kekecewaan terhadap perubahan rundown. Ia juga sempat menyampaikan permintaan maaf secara lisan kepada seluruh panitia, khususnya kepada Divisi PDD. Namun, panitia menolak permintaan maaf tersebut.

Menurut panitia, tindakan itu bukan hanya dilakukan Gray, melainkan juga anggota GMNI lain melalui sorakan dan tepuk tangan. “Kami menolak pernyataannya yang menyebut hal ini sebagai emosi sesaat. Sebab, sudah ada latar belakang dan persiapan yang mereka lakukan,” jelas Cennet Yohansen, anggota Divisi PDD (17/8). “Sebagaimana mereka menjelekkan kami di depan umum, seharusnya mereka juga meminta maaf di depan umum,” tambahnya.

Ketua BEM sempat menawarkan jalan tengah berupa klarifikasi di hadapan mahasiswa baru tanpa atribut organisasi, video klarifikasi, atau permintaan maaf melalui Instagram. Namun, menurut panitia, opsi itu ditolak Dr. Robert dan GMNI.

Panitia menilai GMNI tidak punya itikad baik. “Kami sudah menawarkan semua opsi. Kami sudah menawarkan kalau Gray tidak harus meminta maaf secara frontal. Permintaan maaf bisa diselipkan dalam sebuah pemaparan. Kami sudah turunkan ego, tapi mereka menolak semua solusi,” kata Rahma, Sekretaris Panitia PKKMB FH USU (17/8).

Rahma menyebut, meski mediasi buntu, Gray sempat berjanji menuliskan surat permintaan maaf yang disaksikan Dr. Robert. “Janji jelas bahwa surat akan diberikan di hari terakhir PKKMB,” ujarnya. Namun, janji itu tidak pernah terwujud.

Panitia menilai dampak dari insiden dalam sosialisasi tidak bisa dianggap sepele. Mereka khawatir mahasiswa baru akan menormalisasi tindakan provokatif jika tidak diberi batasan yang jelas.

“Kami rasa ini tidak bisa dibilang mahasiswa baru tidak peduli, karena efeknya jangka panjang. PKKMB adalah perkenalan kampus. Kalau hal provokatif ini dibenarkan, ke depan para mahasiswa baru bisa menjadi orang yang provokatif. Mereka bisa merasa menjelek-jelekkan orang lain di depan umum bukanlah kesalahan atau tidak punya dampak,” jelas Cennet Yohansen.

Ia menambahkan, panitia juga merasa perlu menjaga marwah stambuk 2022. “Selain marwah organisasi, kami panitia PKKMB FH USU 2025 mewakili stambuk 2022. Kami merasa marwah stambuk 2022, khususnya panitia PKKMB, juga harus dijaga,” tegasnya.

Selain itu, panitia mengaku sudah berulang kali menghubungi Gray lewat chat, telepon, bahkan mendatangi rumahnya untuk berkomunikasi secara langsung. “Tidak ada respons. Kami kecewa. Karena itu kasus ini kemudian ramai di media,” kata Tampaty Ujung.

Panitia menuding GMNI bermanuver di media sosial dengan mengaitkan ucapan Gray sebagai kritik terhadap sistem hukum nasional. “Itu untuk membendung serangan kami. Mereka blokade isu ini lewat narasi lain,” lanjut Tampaty.

Bagi panitia, ucapan “Dewi Themis ecek-ecek” jelas penghinaan yang mencoreng martabat mereka di depan mahasiswa baru. Mereka menuntut pemulihan marwah lewat permintaan maaf terbuka.

Sebaliknya, dalam wawancara dengan Suara USU, Gray kembali menegaskan bahwa ucapannya merupakan kritik yang sah. Ia menilai sorakan audiens tidak bisa sepenuhnya dikaitkan dengan dirinya.

“Soal ada yang bersorak kemarin, itu hak seseorang untuk bersorak. Saya juga tidak bisa mengontrol semua orang. Bahkan ada yang mengapresiasi. Jadi tafsir aslinya ada pada diri saya. Dan sekali lagi saya tegaskan, tidak ada maksud merendahkan panitia,” ujarnya.

Gray juga membantah dirinya emosional. “Emosi marah tidak, tapi saya mengikuti jalannya panggung. Karena saya berbicara soal hukum, otomatis gaya orasi saya berapi-api. Jadi kalau dibilang emosional, ya sebatas bersemangat saja, bukan marah yang menghina,” jelasnya.

Soal permintaan maaf, Gray mengaku sudah melakukannya di forum panitia. Namun, ia menolak membuat surat permintaan maaf atau melakukannya di depan mahasiswa baru. “Karena posisi saya hadir sebagai lembaga (GMNI), bukan pribadi, maka hal itu harus dibahas dulu secara internal. Hasil rapat memutuskan anggota tidak sepakat membuat surat permintaan maaf, karena menurut kami tidak ada yang perlu dipermasalahkan,” ungkapnya.

Gray menegaskan tidak mungkin ia meminta maaf tanpa kapasitas sebagai GMNI. “Komisaris GMNI melekat pada diri saya. Tidak mungkin saya meminta maaf tanpa membawa organisasi,” ucapnya.

Sekali lagi, Gray menegaskan bahwa ia dan GMNI menolak melakukan permintaan maaf di depan umum dalam bentuk apa pun. “Kami sudah minta maaf di forum panitia. Tapi untuk mahasiswa baru, kami menolak. Mereka bukan pihak yang dirugikan. Tidak ada niat jahat, tidak ada serangan personal,” ucapnya.

Menurut Gray, tiga kata “Dewi Themis ecek-ecek” terlalu dibesar-besarkan. “Kalau ada yang merasa terhina, itu subjektif. Yang jelas, tidak pernah ada serangan personal dari kami,” katanya. GMNI pun menilai panitia seharusnya lebih fokus pada isu substansi seperti kekerasan mahasiswa baru, budaya senioritas, dan intervensi alumni.

Gray juga membantah tudingan bahwa ia menghindar. Menurutnya, panitia telah melampaui batas. Ia menegaskan bahwa persoalan tersebut menyangkut ranah pribadinya.
“Itu sudah melanggar privasi saya. Jika ingin berdialog, silakan langsung dengan saya, jangan melibatkan keluarga,” ujarnya.

Gray kembali menekankan bahwa apa yang terjadi hari itu adalah kritik sah di ruang publik. “Berapa banyak ketidakadilan hari ini? Kalau Dewi Themis nyata, kami bangga. Tapi praktiknya hanya jargon. Jadi wajar disebut fiksi atau ecek-ecek,” katanya.

Hingga berita ini dinaikkan, polemik ini masih menyisakan perbedaan pandangan antara kedua belah pihak. Panitia menilai ucapan Gray mencoreng marwah, sementara Gray menegaskan tidak ada maksud merendahkan dan menolak permintaan maaf di depan umum.

Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.