
Reporter: Erni Yuli Simatupang
Suara USU, Medan. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, meresmikan pabrik petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Banten, pada Kamis (07/11/2025). Pabrik ini merupakan hasil kerja sama strategis antara Indonesia dan Korea Selatan dalam rangka memperkuat industri hilir nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan kimia dasar.
Peresmian tersebut turut dihadiri oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani, Pelaksana Tugas Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia Park Soo Deok, sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Gubernur Banten Andra Soni, Wali Kota Cilegon Robinsar, dan Lotte Group Chairman Shin Dong Bin.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa hadirnya pabrik ini menjadi bukti nyata kepercayaan global terhadap kebijakan hilirisasi industri nasional. Menurutnya, pembangunan fasilitas tersebut akan membuka peluang investasi baru pada berbagai sektor pengolahan di Indonesia.
“Kehadiran PT Lotte Chemical Indonesia menjadi bukti nyata kepercayaan dunia terhadap kebijakan hilirisasi Indonesia. Proyek ini akan mendorong tumbuhnya minat investasi baru di berbagai sektor pengolahan dalam negeri,” ujar Prabowo dalam pidatonya yang dikutip dari laman Kementerian Sekretariat Negara RI.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menambahkan bahwa proyek strategis ini memiliki nilai investasi mencapai US$ 3,9 miliar atau sekitar Rp62,4 triliun. Nilai tersebut menjadikannya sebagai salah satu investasi terbesar sektor petrokimia di kawasan Asia Tenggara.
“Dengan pabrik ini, kita tidak lagi mengimpor secara besar-besaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Sekitar 70% produksinya akan menggantikan impor dan 30% sisanya akan diekspor. Nilai penjualannya diperkirakan mencapai 2 miliar dolar AS per tahun, dengan sekitar 1,4 hingga 1,5 miliar dolar beredar di dalam negeri,” jelasnya.
Dilansir dari Detikkcom, pabrik yang dikenal sebagai LINE Project (Lotte Chemical Indonesia New Ethylene Project) ini mengolah sekitar 3,2 juta ton naptha per tahun sebagai bahan baku utama, dengan campuran LPG hingga 50%. Dari proses tersebut dihasilkan produk hulu seperti etilena, propilena, mixed C4, pyrolysis gasoline, dan hidrogen, serta produk hilir seperti polietilena, polipropilena, butadiena, dan BTX (benzena, toluena, xylena). Produk-produk ini merupakan bahan baku penting bagi berbagai industri, termasuk pembuatan botol plastik, peralatan medis, kabel, bumper mobil, cat, ban, hingga karet sintetis.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan bahwa LCI menjadi contoh nyata keberhasilan strategi hilirisasi pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional.
“Proyek ini menunjukkan keberhasilan strategi hilirisasi pemerintah dalam memastikan proses pengolahan sumber daya dilakukan di dalam negeri sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” ujarnya.
Senada dengan itu, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyampaikan bahwa industri petrokimia merupakan sektor dasar yang menopang banyak industri lainnya, seperti farmasi, makanan dan minuman, tekstil, serta otomotif.
“Industri kimia memiliki peran strategis sebagai penyedia bahan baku esensial bagi berbagai sektor. Karena itu, penguatan kapasitas produksinya menjadi prioritas nasional,” tuturnya.
Sementara itu, Chairman Lotte Corporation, Shin Dong-bin, menyatakan bahwa proyek ini menggambarkan eratnya hubungan ekonomi antara Indonesia dan Korea Selatan. Ia juga menegaskan komitmen perusahaannya untuk terus memperluas investasi di Indonesia.
“Pabrik ini akan menciptakan lebih dari 21.000 lapangan kerja langsung dan tidak langsung, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo untuk mewujudkan Indonesia yang kuat dan mandiri,” ujarnya.
Korea Selatan sendiri merupakan salah satu mitra strategis Indonesia dalam bidang investasi. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, total investasi Korea Selatan pada periode 2020 hingga September 2025 mencapai US$ 12,8 miliar, dengan rata-rata pertumbuhan 14,3% per tahun, menjadikannya salah satu investor terbesar di Indonesia.
Dengan diresmikannya pabrik petrokimia terintegrasi terbesar ini, Indonesia menegaskan langkah penting dalam memperkuat rantai pasok industri nasional dan menuju kemandirian produksi bahan baku. Kerja sama dengan Korea Selatan melalui Lotte Group tidak hanya memperluas peluang investasi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Ke depan, diharapkan proyek ini menjadi titik awal peningkatan kapasitas industri hilir yang lebih luas, serta menjadi bukti bahwa Indonesia mampu berdiri tegak sebagai pelaku utama dalam perekonomian regional maupun global.
Redaktur: Axfeba Saragih
Leave a comment